ArtikelVisiku, Visimu, Visi Bersama, atau Visi Allah?
Visi merupakan penglihatan jauh ke depan yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya untuk menggenapi rencana-Nya. Di dalam Alkitab, baik perjanjian lama maupun baru,…

Tulisan, refleksi, dan gagasan dari keluarga besar alumni PA KMK — dibaca, dipikirkan, dan dibagikan untuk saling membangun.
Kondisi pandemik yang tak kunjung usai telah membuat banyak rencana-rencana kita menjadi tertunda atau gagal, tantangan semakin berat, dan membuat hidup kita begitu susah. Dalam keadaan yang demikian, apa harapan terbesar dalam diri kita? Tentu saja kita berharap agar bebas…
Telusuri seluruh tulisan alumni — klik artikel untuk membaca.
ArtikelVisi merupakan penglihatan jauh ke depan yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya untuk menggenapi rencana-Nya. Di dalam Alkitab, baik perjanjian lama maupun baru,…
ArtikelKehidupan Kekristenan mencerminkan bagaimana identitas diri kita dalam Kristus. Sebagai orang percaya pastinya kita belajar banyak tentang firman Tuhan. Kita melihat keindahan kasih yang…
ArtikelShalom abang-kakak dan teman-teman alumni… Rasanya tak mungkin ada di antara kita yang tak mengenal lagu “Malam Kudus”. Mengawali bulan Desember ini, saya ingin…
Artikel(DOSA TERSEMBUNYI AKAN BERBAHAYA BAGI ORANG LAIN) Dosa ialah segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak dan kebenaran Allah ( 1 Yoh. 3: 4) karena…
ArtikelSebelum menjawab pertanyaan yang menjadi judul topik bahasan dalam artikel ini, saya teringat kembali saat pertama kali memberi persepuluhan. Saat itu adalah ketika saya…
ArtikelAda satu buku terkenal berjudul: The End of History and The Last Man tahun 1992, karya seorang ilmuwan politik Amerika, bernama Yoshihiro Francis Fukuyama.…
Artikel“Menjadi alumni yang siap menjadi garam dan terang bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia.” Kalimat tersebut adalah visi dari sebuah pelayanan…
ArtikelTerlahir di bangsa Indonesia sejatinya menjadi anugerah pemberian Allah yang layak kita syukuri. Indonesia yang pluralis memberikan warna dalam kehidupan Masyarakat. Bangsa yang mempunyai…
ArtikelAlkitab menceritakan dengan jelas Natal pertama setidaknya disaksikan oleh beberapa orang diantaranya Yusuf, Maria, orang-orang Majus dari Timur, dan para gembala. Mereka telah berhasil…
Butuh kerendahan hati agar menomorsatukan visi di atas ambisi dan keinginan pribadi lainnya. Namun visi yang kuat sangat penting agar kerendahan hati dan komitmen…
ArtikelKeluarga adalah suatu institusi terkecil dalam sebuah komunitas.dan gambaran miniatur kondisi suatu negara. Kita bisa membayangkan bila kehidupan keluarga berantakan secara moril dan spiritual.…
Jalan-jalan, posting foto estetik dan caption asik di Instagram itu keren. Bisa ekspresiin diri dari busana yang kita pakai seturut tren itu kece. Berhasil…
Masihkah kita mengingat pengalaman pertobatan kita dan bagaimana rasanya pada saat itu? Coba sejenak tangkap rasa kasih mula-mula kita kepada Tuhan. Beberapa waktu lalu…
“Sekarang kita harus gimana?” Suara di ujung telepon terdengar sangat lirih dan putus asa. Itu adalah suara Mamak yang menelpon aku. Mungkin sekitar 6…
Dalam kehidupan sebagai profesional, baik pegawai/ karyawan dengan gaji rutin dan atau sebagai wiraswasta dengan kemandirian pengelolaan keuangan, sebagai seorang Kristen kita sering dihadapkan…
Mari kita mulai dengan sebuah cerita…. Pada suatu ketika ada TIGA BUAH POHON yang tumbuh di lereng suatu bukit. Mereka membicarakan harapan dan impian…
Pebedaan pendapat tidak dapat dihindari dalam kehidupan nyata kita, perbedaan pendapat ini biasanya dapat meningkat menjadi pertikaian/perselisihan. Pengamatan subjektif saya, sulitnya menyelesaiakan masalah pertikaian…
Belajar dari Opa Simeon Lukas 2:21-38 Kitab Injil Lukas mencatat tentang Simeon seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Ketika melihat…
Latar Belakang Perjuangan Pendidikan di Indonesia Ketika Kerajaan Belanda masuk ke Indonesia sebagai negara penjajah, maka seluruh tatanan aspek kehidupan bangsa Indonesia berada di…
Seiring berjalannya waktu beriringan dengan banyaknya hal-hal yang menjadi pelajaran dalam hidup. Dari anak-anak menjadi dewasa, dari minum asi hingga mampu mengkomsumsi makanan keras,…
Tahun 2003 lalu, saya hendak melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Pekanbaru. Sembari menunggu panggilan masuk ke dalam pesawat, saya pun menyempatkan diri untuk mengobrol…
Sudah lama rasanya saya tidak menulis sebuah artikel renungan. Percaya bahwa segala sesuatu ada rencana Tuhan, saya pun mengiyakan permintaan menulis sebuah artikel dalam…
Pada era tahun 70-80an Rinto Harahap mengeluarkan lagu yang terkenal, yang berjudul: “Lain Dulu Lain Sekarang”. Lagu ini menceritakan bagaimana perasaan penyanyi yang dulunya…
TERSENDAT DALAM SATU PERTANYAAN YANG TERLIHAT SEPELE Momen ketika pertama kali diwawancarai oleh 2 orang ahli sekaligus masih sangat membekas dalam ingatan saya. Momen…
DEMOKRASI PERJALANAN TANPA HENTI Membicarakan Demokrasi hampir sama tuanya dengan ide demokrasi itu sendiri, karena demokrasi secara intrinsik ada di dalam perjalanan teori dan…
Menjadi pribadi yang autentik di hadapan Tuhan adalah salah satu tujuan saya sebagai orang percaya yang telah diselamatkan. Ketika saya merefleksikan setahun terakhir, saya…
Selama 17 tahun dalam pelayanan misi menjangkau STA, pertanyaan yang seringkali saya dengar adalah: mengapa orang Kristen mempercayai Yesus sebagai Tuhan yang mengampuni dosa…
Latar Belakang Perjuangan Pendidikan di Indonesia Ketika Kerajaan Belanda masuk ke Indonesia sebagai negara penjajah, maka seluruh tatanan aspek kehidupan bangsa Indonesia berada di…
Gereja sudah berdiri ribuan tahun sejak jemaat mula-mula terbentuk setelah peristiwa pentakosta di Yerusalem. Dalam rentang waktu yang begitu lama, apakah bentuk gereja masih…
Seorang Kristen, disebut juga murid Kristus yang berarti seorang yang meneladani hidup gurunya. Guru kita yaitu Yesus Kristus memberikan kita amanatNya yang agung sebelum…
Allah (Bapa Yesus dan Roh Kudus) masih bekerja, apakah kita masih bekerja? Markus 1:35-39 35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi…
Doa bukan sesuatu yang asing bagi kita umat kristiani. Banyak praktik kehidupan yang dilakukan selalu diawali dengan doa. Dari kecil, kita sudah mendengar bahwa…
Diawal tahun 2019 saya bergumul kepada Tuhan tentang panggilan Tuhan (Vocation) dalam hidup saya dan merupakan waktu dimana saya harus berdiam diri dihadapan Allah…
Artikel tidak ditemukan
“Segala sesuatu yang ditulis dahulu, ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita.”
Roma 15 : 4

Kondisi pandemik yang tak kunjung usai telah membuat banyak rencana-rencana kita menjadi tertunda atau gagal, tantangan semakin berat, dan membuat hidup kita begitu susah. Dalam keadaan yang demikian, apa harapan terbesar dalam diri kita? Tentu saja kita berharap agar bebas dari semua kesusahan yang ada, bukan? Normalnya itulah yang kita harapkan. Namun, sebagai pengikut Kristus kita perlu kembali bertanya pada diri kita, mengapa kita berharap agar bebas dari segala kesusahan yang ada? Apakah pengharapan tersebut didorong oleh natur diri yang cenderung tidak suka menjalani proses? Atau didorong oleh natur diri yang tidak sabar dan natur diri yang tidak suka merasakan ‘pain’? Lalu bagaimana kita mengaitkan hal ini dengan bagian firman yang menyatakan bahwa di dalam segala sesuatu Tuhan bekerja?
Inilah yang menjadi problem kita; fokus pada diri sendiri dan tidak fokus pada “Tuhan yang bekerja”. Akibatnya, kita tidak merespons situasi yang ada dengan respons yang benar dan tepat, sebagaimana mestinya pengikut Kristus merespons.
Di tengah realita hidup yang beraneka macam, ‘jatuh bangun’ memang tidak terhindarkan. Dinamika hidup seringkali mempengaruhi dinamika iman kita, bahkan mungkin sempat membawa kita kepada kondisi ‘krisis iman’ atau ‘hopeless’. Akan tetapi, kita bersyukur kepada Tuhan karena kita jatuh tidak sampai meninggalkan Tuhan (Mazmur 37:24). Dalam hal ini bukan berarti kita memiliki kemampuan untuk menjaga iman itu, tapi Tuhan lah yang menjaga iman kita. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Lukas 22:32). Tuhan Yesus yang telah mengalami begitu banyak penderitaan terus mendoakan kita yang mengalami penderitaan di bumi. Tuhan Yesus hadir mendampingi setiap kita melalui kehadiran Roh Kudus. Inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus sebelum Ia meninggalkan murid-murid yang Ia kasihi. Di samping itu, Tuhan Yesus juga memberitahukan kepada murid-murid bahwa mereka tidak akan bebas dari segala penderitaan, kesusahan hidup, penganiayaan, dan lain sebagainya. Tapi, di dalam semua kondisi itu, Ia berjanji akan menyertai. Di sini kita dapat mengerti bahwa iman terhadap janji-janji Allah menjadi point penting di dalam pengharapan kita. Tentu pengharapan yang dimaksud tidak bersifat mudah-mudahan, tetapi suatu kepastian tentang apa yang akan terjadi, sebab Allah sendiri yang mengatakannya melalui FirmanNya. Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa dasar pengharapan pengikut Kristus yang sejati tidak terletak pada kehendak diri yang ingin segera bebas dari segala kesusahan hidup, melainkan pada kehendak Allah dan janji-janjiNya”.
Di samping itu, Paulus dalam 1 Kor 15:19 mengatakan, “Jika pengharapan kita di dalam Kristus hanya untuk hidup ini saja, kita adalah orang-orang yang paling malang dari semua manusia”. Secara tersirat sebenarnya Paulus ingin mengatakan bahwa pengharapan orang percaya bukan hanya untuk hidup di dunia ini, melainkan untuk hidup di masa yang akan datang. Dalam hal ini pengharapan erat kaitannya dengan eskatologi, yaitu waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Di sini Paulus memberikan pengajaran tentang bagaimana Allah menggenapi rencana kekalNya bagi manusia berdosa. Bahwa melalui kedatangan Kristus yang pertama kali, rencana kekal Allah telah digenapi, namun belum disempurnakan. Sebab kesempurnaan akan terjadi pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Secara teologis kita dapat melihat bahwa kita sedang berada di waktu, “sudah, dan belum”. Artinya, sudah digenapi, tapi belum disempurnakan. Di tengah-tengah waktu “sudah, dan belum”, Tuhan memberikan anugerah kepada para pengikutNya untuk mencicipi “kenikmatan hidup” di dalam kerajaan Allah. Kehidupan di mana Allah yang memerintah dan memimpin. Kehidupan seperti ini memang tidak mudah untuk kita jalani, sebab kita hidup di tengah dunia yang sudah tercemar, di dalamnya terdapat banyak sekali kejahatan, dan kita masih hidup di dalam darah dan daging. Realita hidup yang demikian juga dihadapi oleh para pejuang iman di sepanjang sejarah. Paulus sebagai hamba Tuhan yang sangat terkenal pun mengakui bahwa penderitaan, kesusahan, dan kesesakan hidup memang dialaminya, tapi di dalam dan melalui semuanya itu Tuhan memberikan “kenikmatan yang sejati”. Rasanya sulit untuk memahaminya. Sebab, ini adalah paradoks iman orang percaya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya tetap menaruh pengharapan pada Kristus, baik pada masa hidup saat ini maupun pada waktu mati? Kita perlu kembali pada apa yang Alkitab ajarkan terkait hal ini. Berdasarkan Roma 8:24-25 dan 1 Kor. 15:58, setidaknya ada lima hal yang perlu kita fokuskan, yaitu Kepercayaan, Ketaatan, Ketekunan, Kesabaran, dan Kesetiaan (5-K). Kelima hal ini sangat bertentangan dengan natur diri kita sebagai manusia berdosa. Untuk itu, kita perlu sadar bahwa kelima hal tersebut hanya dapat diraih dan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki iman yang sejati. Di luar itu, siapa pun tidak bisa menggapainya. Iman yang sejati membawa kita kepada kesadaran akan siapa diri kita dan siapa Allah. Dengan adanya kesadaran yang demikian, kita akan mengakui segala kerapuhan, kelemahan, keterbatasan, kekosongan, dan kebutuhan kita akan anugerah Allah. Serta membawa kita kepada spirit hidup yang takut akan Allah.
Sejujurnya, secara pribadi saya juga berharap supaya pandemik ini segera selesai. Ada kesedihan di dalam hati setiap kali mendengar dan melihat penderitaan yang dialami oleh banyak umat manusia pada saat ini. Namun, sebagai anakNya, saya juga percaya bahwa Allah juga prihatin melihat keadaan ini. Sekalipun mungkin dalam kemarahan dan murkaNya, Allah yang personal itu turut merasakan kesedihan umatNya. Lalu, sebagai manusia yang terbatas, saya juga kembali menyadari bahwa bagaimana mungkin pikiran saya yang terbatas dapat memahami pikiran Allah yang tidak terbatas? Ia mengatakan bahwa, “ JalanKu, bukanlah jalanmu, rancanganKu, bukanlah rancanganmu”. Apa lagi yang harus saya perdebatkan? Tidak ada. Di tengah ketidakpastian, ketidakjelasan, dan kebingungan yang ada, saya hanya mengatakan, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini” (Markus 9:24).
Kiranya Tuhan memberikan iman yang sejati kepada kita, sehingga melaluinya kita dapat memiliki pengharapan yang sejati di dalam Kristus. Dan sebagai komunitas anggota tubuh Kristus, marilah kita saling bergandengan tangan, serta menjadi reflektor kasih Allah bagi orang lain. Mewujudkan cinta kasih kepada sesama melalui kehadiran kita sebagai jawaban atau solusi bagi mereka yang membutuhkan. Hadir memberi makanan, baik itu makanan jasmani maupun rohani. Hadir bagi mereka yang membutuhkan telinga untuk mendengar segala keluh kesah oleh karena penderitaan yang mungkin mulai menggoyahkan iman mereka. Hadir bagi mereka yang sudah mulai ‘hopeless’. Sekali lagi, kiranya konteks pandemik seperti sekarang ini dapat menjadi sarana bagi kita (komunitas PA KMK USU) untuk melayani seperti Kristus melayani, dan mengasihi seperti Kristus mengasihi. Soli Deo Gloria..
Oleh: Meianita Sipayung (MIPA’12)


Visi merupakan penglihatan jauh ke depan yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya untuk menggenapi rencana-Nya. Di dalam Alkitab, baik perjanjian lama maupun baru, kita melihat kesaksian orang-orang yang takut akan Tuhan menerima visi dan mengerjakan visi tersebut dengan taat. Tuhan memberikan visi melalui sebuah penglihatan yang benar-benar jelas mengenai masa depan yang pasti terjadi. Visi diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya dengan cara yang unik. Bagaimana kita mengetahui visi yang diberikan Tuhan kepada kita? Tentu dibutuhkan koneksi yang kuat berupa relasi dengan Tuhan secara pribadi. Kerinduan untuk mendengar suara-Nya, belajar taat tiap-tiap hari, dan hidup dalam Firman-Nya akan memudahkan kita mendengar visi yang Tuhan persiapkan bagi kita.
Saat menjalani perkuliahan dan melakukan pelayanan mahasiswa, kita diperkenalkan dengan visi pelayanan mahasiswa. Saat menjalani dunia alumni, kita memiliki berbagai pekerjaan dan pelayanan, ada yang bekerja sebagai pegawai pemerintah atau swasta, pekerja lapangan, melayani full time di gereja, yayasan, atau organisasi Kristen tertentu, apakah visi masih perlu? Saya yakin kita sepakat, dengan jawaban masih perlu. Namun pertanyaan selanjutnya, mengapa?
Dunia alumni memiliki tantangan yang berbeda dengan dunia mahasiswa. Mungkin sejenak kita flashback mengingat masa lalu, saat mahasiswa banyak yang semangat melayani, memiliki kasih yang semula, sangat bersukacita ketika berkumpul dengan teman-teman sepelayanan, berkobar-kobar dalam memberitakan Injil, rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, bahkan dana untuk melayani. Ketika memasuki dunia alumni, teman-teman sepelayanan sudah berjauhan dan jarang komunikasi, kesibukan dalam pekerjaan, tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan, masalah ekonomi, kondisi rumah tangga, dll mengaburkan visi dan semangat dalam mengerjakan visi tersebut. Kalau kita melihat masalah-masalah tersebut, seakan-akan banyak sekali masalah yang mengaburkan visi, namun sebenarnya hanya satu yang dapat mengaburkan visi, yaitu relasi pribadi kita dengan Tuhan. Ketika relasi pribadi kita dengan Tuhan tidak baik, maka masalah-masalah tersebut pun muncul. Ketika kita kembali kepada Tuhan, duduk diam mendengarkan suara-Nya, dan membangun kembali relasi kita dengan Tuhan, Tuhan akan kembali membukakan visi-Nya bagi kita.
Kita memerlukan visi tersebut untuk tetap kuat dan kokoh ketika banyak tantangan dan masalah yang kita hadapi di dunia alumni. Ingat visi yang Tuhan bukakan adalah sebuah penglihatan masa depan yang pasti terjadi, namun Tuhan ingin melibatkan kita untuk menggenapinya. Untuk apa? Toh pasti terjadi, dengan atau tanpa melibatkan kita, visi tersebut pasti terjadi. Tuhan ingin melibatkan kita untuk menjalin kasih-Nya kepada kita semakin erat hari demi hari. Kasih kita kepada Tuhan akan terbentuk ketika kita mengerjakan visi-Nya. Ketika kita memandang kepada visi yang besar yang Tuhan bukakan, hal itu akan memudahkan kita menolak tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan, memilih pekerjaan ataupun pelayanan, bahkan pasangan hidup yang Tuhan persiapkan.
Sebagai ilustrasi, bagi kita yang sudah berumah tangga, tentu akan semakin romantis ketika kita dan pasangan kita memiliki tujuan yang sama untuk dicapai, komunikasi dan diskusi ketika mengalami kendala untuk mencapai tujuan tersebut, doa dan bergumul bersama pasangan membuat kasih kita sebagai pasangan suami isteri semakin erat. Demikian juga ketika kita mengerjakan visi yang Tuhan bukakan bagi kita. Ketika kita mengalami banyak masalah yang menghalangi kita mengerjakan visi tersebut, kita berdoa, curhat dan berdiskusi dengan Tuhan, dan Tuhan membukakan solusi yang terbaik untuk ditempuh. Kita taat mengikuti solusi yang Tuhan berikan, dan melihat masalah dapat teratasi dengan cara yang luar biasa, bahkan kadangkala kita menyaksikan mujizat terjadi. Intinya relasi yang terbaik dan intim bersama Tuhan bukan didapat ketika kita bersaat teduh atau melakukan rutinitas kerohanian saja, tetapi mengalami Tuhan dan berjalan bersama-Nya tiap-tiap hari. Kita menyaksikan kehadiran-Nya melalui komunikasi, pekerjaan sehari-hari, tawa dan tangis, atau bahkan hal-hal kecil atau sepele sekalipun.
Tuhan menantikan kita untuk kembali mengerjakan visi-Nya di dunia alumni. Namun visi-Nya yang mana yang mau kita kerjakan? Visi Allah bagi dunia, yaitu agar segala suku, kaum, bangsa dan bahasa memiliki relasi yang harmonis dengan Allah.
Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: ”Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:9-10)
Di dalam Wahyu 7:9-10, akan ada sekumpulan besar orang-orang percaya dari segala suku, kaum, bangsa dan bahasa menyembah kepada Allah dalam keesaan-Nya. Kalau kita mencermati visi yang dilihat oleh Yohanes di pulau Patmos ini sejalan dengan Amanat Agung dalam Matius 28:9 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa (eynh, baca: eth’-nos) murid-Ku ….. Itu sebabnya Tuhan Yesus dapat mengatakan dalam Markus 1:38 “Jawab-Nya: ”Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Tuhan Yesus lebih memprioritaskan untuk mengerjakan visi-Nya dibandingkan menemui orang banyak yang hanya mengharapkan kesembuhan dan mujizat (Markus 1:37).
Apakah di dalam kumpulan besar Wahyu 7:9 tersebut ada suku Batak? Ya, pasti. Suku Karo, Jawa, Sunda? Ya ada juga. Bagaimana dengan Suku Minang, Melayi Deli, Alor, Mandar, Buol, Enrekang, dan masih banyak lagi? Saya yakin ya, mereka ada dalam kumpulan besar itu, dan Tuhan mau kita terlibat di dalamnya. Apakah menurut kita, ketika Nommensen datang jauh-jauh dari Jerman hanya untuk menjangkau suku Batak? Tidak, Nommensen punya visi yang lebih besar dari suku Batak saja. Tujuan Nommensen menjangkau suku Batak, agar suku Batak menjangkau dunia. Suku Batak memiliki karakter keras, berani dan ekspansif. Itu sebabnya suku Batak ada di seluruh Indonesia bahkan di beberapa belahan dunia. Nommensen punya harapan agar suku-suku Batak yang ekspansif ini dapat menjangkau suku, kaum, bangsa, dan bahasa di sekitar mereka tinggal. Demikian juga ketika kita sebagai orang yang sudah percaya (dijangkau), kerinduan Tuhan agar kita kembali menjangkau suku, kaum, bangsa dan bahasa yang akan menjangkau suku, kaum, bangsa dan bahasa lainnya, demikian seterusnya. Visi inilah yang ditanamkan Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 2:2 ”Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”
Di dunia alumni, perusahaan tempat kita bekerja, gereja, organisasi pelayanan kita tentu memiliki visi masing-masing. Atau mungkin juga kita memiliki visi pribadi masing-masing. Mari kita coba mengevaluasi apakah visi-visi tersebut sejalan dengan visi Kristus? Idealnya visi-visi tersebut harus menyesuaikan dengan visi Kristus karena kita adalah pengikut Kristus, bukan sebaliknya visi Kristus yang menyesuaikan dengan visi pekerjaan, pelayanan atau visi pribadi kita.
Sekarang bagaimana kita memelihara visi Kristus dalam hidup kita? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, namun yang terutama adalah relasi pribadi kita dengan Tuhan dan mengalami-Nya tiap-tiap hari. Hal lain di antaranya memberitakan Injil sebagaimana tujuan Tuhan Yesus datang, memuridkan (menggembalakan) dan dimuridkan, mempersiapkan murid untuk mengjangkau jiwa lagi, mencari teman atau pelayanan yang memiliki visi Kristus, mencari pasangan hidup yang mempunyai visi Kristus, men-share dan transfer visi kepada setiap orang percaya, dan masih banyak lagi.
Teman-teman alumni, Tuhan merindukan kita untuk mengerjakan Visi-Nya dalam relasi yang hidup, intim, dan harmonis bersama-Nya sebagaimana kasih kita yang mula-mula. Mari kita saling mengingatkan, dan men-share Visi Kristus kepada teman-teman lain untuk kembali mengerjakan Visi Kristus, setidaknya satu, dua atau beberapa orang yang kembali menangkap dan mengerjakan Visi Kristus bagi dunia pasti berdampak besar untuk membangun Kerajaan-Nya. Salam dan Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: dr. Ahmad Ricardo Silalahi (FK’03)


Kehidupan Kekristenan mencerminkan bagaimana identitas diri kita dalam Kristus. Sebagai orang percaya pastinya kita belajar banyak tentang firman Tuhan. Kita melihat keindahan kasih yang Allah berikan nyata di kehidupan kita. Pertanyaanya: Apakah kita melakukan kehidupan Kekristenan kita dengan nyata? Atau hanya sebatas teoritis tanpa praktik?
Pada Hakekatnya Allah membenci dosa. Dosa membuat kita jauh dari Tuhan. Ketika kita hidup benar, Allah tidak menjamin hidup kita tanpa kesukaran, tetapi Dia menjanjikan akan hadir dan memelihara kita apa pun yang terjadi. Dalam segala hal orang benar akan ditindas, namun tidak terjepit; kehabisan akal, namun tidak putus asa; kita dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; dihempaskan, namun tidak binasa. Orang benar jatuh, mungkin akan jatuh ke dalam dosa, dosa kelemahan, melalui godaan yang mengejutkan. Tetapi membangun kembali dengan bertobat, beroleh belas kasihan dari Allah, dan mendapatkan kembali kedamaianNya.
Namun yang jadi pembeda identitas asli dengan palsu, ketika kita memilki identitas yang palsu, kita mudah roboh dalam bencana, dosa-dosa yang menyergap bahkan mengalami kehancuran total tanpa bangkit kembali. Apakah kita menikmati hadirnya Allah atau hanya menikmati pemberian Allah? Apakah kita mendengar dan melakukan firman Tuhan atau hanya mendengar tanpa melakukan?
Mengapa Masih Berbuat Dosa?
Jika Tuhan telah menebus umatNya, dan memberikan Roh Kudus untuk menyucikan dan memberikan kekuatan untuk melawan dosa, mengapa umatNya tetap berbuat dosa?
Kekristenan yang Alkitabiah sangat memperhatikan kerohanian yang sejati. Kebebasan dari belenggu dosa, persekutuan yang intim dengan Allah, menjadi pelaku kehendak Allah, dan diperkenan oleh Allah semua ini merupakan ajaran Tuhan Yesus Kristus. Yesus datang untuk memerdekakan manusia dari dosa dan memampukan manusia untuk hidup memuliakan Allah, dan kehidupan-Nya yang sempurna menjadi teladan terindah bagi manusia, melalui karya penebusan Kristus yang sempurna dan pertolongan Roh Kudus manusia dapat menang atas dosa dan iblis, dan bertumbuh dalam kehidupan yang memperkenan Allah.
Terlepas dari dosa bukanlah suatu hal yang mudah, karena dosa itu telah melekat dalam kehidupan manusia, sejak manusia tersebut ada. Dosa bukan hanya perbuatan buruk, tetapi juga kegagalan berbuat baik, seberapa banyak perbuatan manusia yang gagal? Pasti bagian ini menjadi sebuah perenungan bagi kita, yang menunjukkan bahwa manusia masih terus berbuat dosa.
Alkitab memberikan sebuah definisi dosa yaitu pelanggaran hukum Allah. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. 1 Yohanes 3:4, setiap kita melakukan dosa berarti telah melanggar hukum Allah, hukum Allah terhadap dosa ialah jelas, menerima kematian dan upahnya ialah maut, dalam Firman Tuhan Roma 6:23, Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita.
Identitas Kristen
Kehidupan Kekristenan mencerminkan bagaimana identitas diri kita dalam Kristus. Sebagai orang percaya pastinya kita belajar banyak tentang Firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Layaknya sebuah pohon dikenali dari buahnya. Mendengar tanpa melakukan tidak ada artinya. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku Firman Tuhan.
Ketidakbahagiaan disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pendengar atau pelaku bukanlah merupakan pilihan bagi Kristen dan hal ini tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, yakni Firman Tuhan. Bagaimana Kita tahu kebenaran dan prinsip-prinsip hidup seorang Kristen yang sesuai dengan Firman-Nya, selain dari membaca dan mendengar Firman-Nya. Namun apa gunanya pengetahuan tanpa aplikasi? Tidak ada! Jika demikian pengetahuan tentang kebenaran seharusnya nyata dalam tindakan-tindakan dan perilaku yang bercermin dan mencerminkan Firman-Nya. Kedua proses ini tidak berlaku sebaliknya atau dapat dipisahkan. Mendengar tanpa berbuat seperti orang yang bercermin tapi kemudian lupa apa yang dilihatnya. Sebaliknya tanpa membaca dan mendengar Firman-Nya, orang tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Menjadi pendengar dan pelaku firman akan membongkar sifat lama dan dosa yang masih menempel, dan menggantinya dengan sifat baru dan buah Roh.
Dampak pembaharuan dan pengaruh operasi Firman dalam kehidupan orang Kristen harus menyangkut segala segi kehidupan. Tidak cukup mengakui diri beriman, sudah lahir baru, atau rajin mempelajari Alkitab. Itu semua harus diiringi oleh perilaku dan sikap sepadan. Firman memperbarui hidup sehingga bukan hanya jadi pengetahuan, tetapi penghayatan kebenaran yang mewujud dalam perilaku sehari-hari. Misalnya dalam penggunaan lidah, Firman menghendaki orang untuk lambat berbicara namun cepat mendengar. Kata-kata bisa jadi berkat, bisa juga mencelakakan. Perkataan yang tumpah ruah tidak akan berbuahkan kebenaran. Berkata-kata dengan benar adalah bentuk perkenanan pada Allah. Pengendalian dalam berbicara terjadi bila orang tidak mengikuti emosi, khususnya amarah. Menaati Firman juga mengalami pengudusan secara terus menerus. Membuang segala dosa dan memberlakukan kebenaran harus terjadi sepanjang hidup orang beriman .
Manusia harus menaklukkan pikirannya kepada Kristus dan menyucikannya dari semua yang jahat dan sia-sia. Tindakan baik atau jahat dimulai dari pikiran, diutarakan melalui mulut, dan dinyatakan dalam perbuatan. Dengan hikmat, seseorang tidak akan pergi berperang tanpa rencana matang, seseorang tidak akan berbuat hal yang jahat saat berelasi dengan sesama. Hidup dalam hikmat, seseorang akan memperlakukan sesamanya tanpa memandang latar belakang maupun status sosial orang tersebut. Dengan hikmat, rumah didirikan, ditegakkan, dan dilengkapi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. Itu sebabnya Allah ingin kita mulai segala sesuatu dengan pikiran yang dikendalikan hikmat Allah.
Orang-orang yang bertumbuh dalam hikmat berarti dikuatkan dengan segala kekuatan (Kolose 1:9-11). Orang bijak akan mengandalkan hikmat, sedangkan orang kuat mengandalkan kekuatan ototnya. Marilah kita mengutamakan hikmat, bukan otot sehingga kita mengerjakan segala sesuatu selaras dengan hikmat dan pengetahuan Allah. Tidak menggigit lebih daripada yang dapat dikunyah. Tidak memulai sesuatu yang tidak dapat diselesaikan, dan melihat dulu sebelum melompat. Jika tugas ini dilalaikan, maka Allah yang menguji hati akan membalas manusia menurut perbuatannya. Orang benar harus hidup berhikmat: merencanakan segala sesuatunya dengan baik, mendengarkan dan menerapkan kehidupannya dengan benar. Dengan hikmatnya ia mengerti bagaimana mengisi hidupnya dan mempersiapkan masa depannya.
Greg Morse mengatakan “Dosa bukan hanya melakukan yang buruk, melainkan juga kegagalan melakukan yang baik.” Kesungguhan kita beriman kepada Kristus tercitra saat Firman-Nya menjadi nyata dalam kehidupan: saat tingkah laku kita menjadi berkat bagi sesama dan pelayanan kita menjangkau orang yang memerlukan kasih Allah. Semuanya itu tak boleh tererosi meskipun keadaan tidak memihak kita. Juga bukan dengan alasan yang menguntungkan pribadi, melainkan karena kita telah mengalami penebusan-Nya.
Semangat untuk terus bergumul seperti kalimat yang sering kita dengarkan “mengasihi Tuhan Yesus lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun” (Our Heritage hlm 22) adalah satu komitmen kita dihadapan Allah untuk mengerjakan Keselamatan yang telah Allah anugerakan.
Oleh: Tuti Gunawati Hutasoit, Novi Nera, Kevin Simangunsong


Shalom abang-kakak dan teman-teman alumni…
Rasanya tak mungkin ada di antara kita yang tak mengenal lagu “Malam Kudus”. Mengawali bulan Desember ini, saya ingin menyegarkan kembali ingatan akan Sitz im Leben (konteks) yang terjadi saat lagu ini ditulis dan dinyanyikan.
Ingatkah kita, ketika Perang Napoleon melanda Eropa? Seorang pastor bernama Joseph Franz Mohr saat itu sedang ditugaskan pada tahun 1815 di Mariapfarr, Lungau. Mohr memikul tugas yang teramat berat. Sebab Salzburg menjadi rebutan bagi Bavaria, Austria, dan Perancis. Akibatnya, tempat itu menjadi sangat lekat dengan kesulitan ekonomi dan kriminalitas. Umat Tuhan menderita.
Penderitaan pun bertambah dengan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada bulan April 1815. Meski pun lokasi meletusnya di Nusantara, material yang dihembuskan gunung itu memicu anomali iklim Bumi secara dramatis. Sebuah surat kabar di Eropa menyebutkan tahun 1816 (dampak setelah letusan) sebagai The Year Without a Summer. Salju jatuh pada musim panas. Atau terkadang hujan deras turun bertubi-tubi membuat tanaman mati. Dicatat pula bahwa bantuan kepada orang miskin per Desember 1816 telah meningkat begitu tajam ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya di Salzburg dan sekitarnya.
Di masa yang penuh kesulitan dan penderitaan, Pastor Mohr menuliskan sebuah puisi dengan enam stanza “Stille Nacht” yang kemudian digubah menjadi lagu yang begitu indah oleh Franz Xaver Gruber.
Lagu “Malam Kudus” ini tidak hanya dituliskan di tengah pusaran penderitaan. Lagu “Malam Kudus” ini pun banyak dinyanyikan di tengah kesulitan yang mendera. Satu kisah yang paling terkenal di antaranya ialah Malam Natal 1914. Tentara Jerman dan Inggris yang tengah bertempur siang dan malam akhirnya meletakkan senjata bersama-sama. Memberikan satu malam hening. Kedua pihak menyanyikan lagu “Malam Kudus” dengan air mata sambil mengingat keluarga dan melihat korban yang berjatuhan di sebuah tempat di Front Barat semasa Perang Dunia I.
Lagu “Malam Kudus” yang ditulis dan dinyanyikan di tengah bencana akan terus mengingatkan kita bahwa memang dunia ini teramat fana dan sangat sementara. Banyak yang mungkin merasa bahagia dan biasa-biasa saja di tengah pandemi menyelimuti dunia. Tapi marilah buka mata, jauh lebih banyak yang kehilangan harapan, kehilangan pekerjaan, mengalami kekerasan rumah tangga, dan kehancuran masa mudanya.
Dunia ini sungguh-sungguh lapar dan haus akan Penebus. Yesus Kristus harus turun dari Surga ke Dunia untuk mewartakan tahun rahmat Tuhan sudah tiba. Kita tidak akan di dunia ini selamanya. Ada satu tempat setelah zaman berakhir tidak ada lagi tangis dan kertak gigi akibat dosa yang menyiksa.
Malam Kudus, Malam Sunyi, Malam Hening, dan Malam Suci. Abang-kakak dan teman-teman Alumni, marilah kita ambil satu malam yang khusus untuk menepi. Merenungkan bagaimana tangan Tuhan sedang membawa arah zaman ini sesuai dengan nubuatan di dalam Kitab Suci. Tuhan Yesus Memberkati. -frh-

(DOSA TERSEMBUNYI AKAN BERBAHAYA BAGI ORANG LAIN)

Dosa ialah segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak dan kebenaran Allah ( 1 Yoh. 3: 4) karena Allah adalah kebenaran (Yoh. 14:6) dan segala hukum dan firmanNya adalah benar (Maz, 92: 16; Yer.10: 10 dan Yoh 17: 3, 17). Karena manusia pertama dan keturunannya sudah diperhamba iblis maka semua manusia dikategorikan sebagai orang berdosa. Akibatnya mereka, terpisah dari Allah, tidak mengetahui kebenaran dan cenderung lari dari Allah. Akhirnya mereka kehilangan kemuliaan Allah dan binasa. Hukum Tuhan menyatakan bahwa upah dosa ialah maut (Rom. 3: 19, 23).
Namun karena Allah adalah kasih (1 Yoh. 4: 16b) dan sasaran kasih Allah ialah seluruh manusia (Yoh. 3: 16a) maka Ia tidak berkehendak agar manusia binasa di dalam dosa. KehendakNya ialah agar manusia selamat dan supaya mereka beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3: 16b). Namun karena manusia di dalam keberdosaan mereka tidak mungkin dapat menolong dirinya untuk beroleh hidup kekal, maka Allah sendiri yang memberikan jalan keluar. Di dalam rahmat dan belas kasihanNya, Ia mengaruniakan AnakNya yang yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, Firman Allah yang menciptakan segala sesuatu (Yoh. 1: 1-3) menjadi manusia. Tuhan Yesus meninggalkan surga dan menjadi manusia (Fil. 2: 6-8) dan bahkan rela mati mengorbankan diriNya untuk menggantikan manusia yang harus mati karena dosa mereka. Ia mencurahkan darahnya untuk menghapus dosa mereka, memperdamaikan mereka dengan Allah dan menjadikan mereka sebagai anak Tuhan dan ahli waris hidup kekal di surga, yaitu mereka yang percaya kepada pengorbananNya dan menerima Dia menjadi Tuhan dan Juru Selamat pribadinya (Rom. 5: 8-11; Ef. 2: 4-9). Merreka dimeteraikan menjadi milik Allah dengan Roh Kudus yang tinggal di dalam hidup mereka ( Yoh. 14: 17; Ef. 1: 13-14).
MANUSIA DALAM PERJALANAN HIDUPNYA SEBAGAI ORANG PERCAYA
Sebagai orang yang telah menikmati pengampunan dosa, orang percaya dikehendaki oleh Tuhan Allah menjadi anak-anakNya yang hidup dalam kekudusan sebagaimana Ia adalah kudus (1 Petr. 1: 15-16). Tuhan mengetahui bahwa tuntutan itu sangat sukar dilakukan. Tuhan juga sadar bahwa orang percaya selalu dicobai iblis dengan berbagai cara untuk menjatuhkan ke dalam dosa. Orang percaya selalu berada dalam keadaan perang, perang melawan tipu daya iblis dan juga untuk melawan keinginan daging. Di dalam kemaha tahuan Allah akan peperangan rohani yang dihadapi orang percaya, Allah menyediakan beberapa hal untuk menolong mereka tetap dalam situasi ‘menang’: Hal-hal tersebut ialah:
REALITA PENGALAMAN HIDUP ORANG PERCAYA
Setia dan hidup benar dihadapan Tuhan adalah idealisme kehidupan orang percaya. Tapi dalam kenyataan orang percaya masih banyak hidup jauh dari idealism tersebut. Di dalam kenyataan kekudusan hidup masih tetap idealism. Ada orang percaya yang menyimpan dosa yang dianggapnya merupakan sesuatu yang memberi kesenangan baginya. Dia mengusahakan agar dosa ini tidak diketahui orang lain (dosa kesayangan atau dosa hasian). Misalnya ada orang percaya yang masih melakukan jenis tertentu, mis. dosa pemuasan seksual, menyimpan sakit hati kepada orang lain atau kurang disiplin dalam memakai keuangan. Hal-hal seperti ini sangat bersifat pribadi dan biasanya tidak terbuka kepada orang lain. Namun yang menjadi pertanyaan ialah: ‘ADAKAH DOSA RAHASIA ATAU DOSA YANG TERSEMBUNYI (SECRET OR HIDDEN SIN)?’
Alkitab yang adalah Firman Tuhan memberi jawaban seperti ini:
PANDANGAN ILLAHI:
PANDANGAN MANUSIA:
APA AKIBAT DOSA TERSEBUT:
KESIMPULAN
Tidak ada orang yang sempurna tetapi sebagai orang percaya selalu memiliki hati yang berjuang untuk semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Untuk itu:
Oleh: Dr. Drs. M. Victor Tobing, D.Th.


Sebelum menjawab pertanyaan yang menjadi judul topik bahasan dalam artikel ini, saya teringat kembali saat pertama kali memberi persepuluhan. Saat itu adalah ketika saya menerima gaji pertama saya. Pekerjaan saya waktu itu belum tetap. Hanya berupa latihan kerja untuk persiapan masuk ke pekerjaan yang sesungguhnya.
Saat itu, gaji saya masih sangat sedikit. Tidak cukup untuk membiayai hidup saya. Saya harus ditopang orangtua. Tapi saya tetap bertekad untuk memberi persepuluhan. Hal ini karena di KTB sejak kuliah, saya sudah belajar tentang persepuluhan. Saya dan teman-teman KTB berkomitmen untuk taat dalam persepuluhan sejak pertama sekali menerima gaji.
Salah satu dasar Alkitab untuk memberi persepuluhan adalah Bilangan 35:1-8. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir dan masuk ke tanah Kanaan, 11 suku Israel mendapat bagian tanah untuk mereka kelola dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Hanya suku Lewi yang tidak mendapat bagian tanah pusaka. Karena suku Lewi dikhususkan untuk menjadi pelayan / imam di Bait Allah. Sehingga sesuai perintah Allah melalui Musa, ke 11 suku Israel yang lain harus memberikan sebagian dari tanah yang menjadi milik pusakanya kepada suku Lewi.
Siapakah suku Lewi zaman sekarang? Menurut uraian di Santapan Harian, tgl. 7 Feb 2021, “orang-orang Lewi bagi kita saat ini adalah mereka yang meneruskan pekerjaan Tuhan, baik gereja, badan misi, lembaga, maupun yayasan, bahkan perorangan yang meneruskan pekerjaan Tuhan di tengah dunia ini”. Sehingga kepada merekalah kita memberikan persepuluhan kita pada zaman sekarang.
Jadi untuk menjwab pertanyaan pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, saya menjawab, tentu masih relevan dan akan tetap relevan. Sebab selama Kristus belum datang untuk kedua kalinya, pekerjaan pemberitaan Injil akan tetap diteruskan. Tentu pekerjaan ini harus ditopang dengan dana.
Dalam bagian lain firman Tuhan juga mengatakan, “bawalah persembahan itu, supaya ada persediaan di rumahKu”. Umat Tuhan harus menjamin ketersediaan di rumah Tuhan. Untuk menunjang pelaksanaan tri tugas gereja yaitu koinonia (bersekutu), diakonia ( melayani), dan marturia ( bersaksi).
Dalam uraian Santapan Harian di atas juga di sebutkan ” Bangsa Israel harus memberikan berbagai persembahan kepada Tuhan dan hal ini dilakukan melalui suku Lewi yang mengelola pelayanan di Bait Allah. Karena itu pula, apa pun yang dimiliki oleh umat Tuhan harus ada yang dikhususkan untuk pekerjaan Tuhan. Setiap uang, harta, tanah atau apa pun yang kita miliki, bukanlah milik kita sepenuhnya, ada bagian yang harus kita serahkan agar pelayanan Tuhan dapat terus dikerjakan. Dimana ada umatNya, di situ pula pekerjaan Tuhan akan dilakukan.”
Berapa besarnya persepuluhan yang kita berikan? Menurut arti katanya adalah sepersepuluh ( 10% ) dari penghasilan kita setiap bulannya. Ketika menerima gaji, sepersepuluh langsung disisihkan untuk persepuluhan. Sisanya baru dibagi untuk membeli kebutuhan pokok, dan kebutuhan lainnya termasuk gaji asisten/pegawai yang bekerja membantu kita di rumah atau usaha yang kita miliki. Semakin besar penghasilan kita, tentu jumlah persepuluhan juga semakin besar. Tapi bukankah yang tinggal pada kita 9 kali lipat lebih besar yaitu 90% ?
Sebenarnya angka 10% itu adalah angka minimal. Karena kita percaya bahwa semua yang ada pada kita adalah pemberian dari Tuhan, maka kita siap memberikan seluruh hidup dan hati kita untuk kemuliaan nama Tuhan.
Selain itu, sikap hati dalam memberi persepuluhan dan persembahan haruslah berkenan kepadaNya. Yaitu hati yang bersyukur dan hormat pada Tuhan.
Akhir kata, kita harus belajar taat dalam memberikan persepuluhan. Kita percaya Tuhan akan memelihara kita. Kita tidak akan kekurangan. Bahkan Tuhan akan mencurahkan berkatNya berlipat ganda.
Berkat Tuhan, jangan kita pandang hanya berupa uang. Mungkin berupa kesehatan, sehingga kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk berobat. Mungkin berupa keamanan, sehingga semua harta kita tidak terjangkau pencuri. Dan kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli gantinya bila hilang. Mungkin berupa damai sejahtera di keluarga, anak-anak hidup tertib, sehingga tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin saja terjadi akibat kenakalan anak-anak di luar rumah. Dan banyak lagi berkat Tuhan yang lainnya.
Kesaksian saya, sejak awal memberi persepuluhan sampai sekarang, saya tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi. Ada yang berkomentar, “hidupnya berkelimpahan, sehingga dengan mudah dia memberikan persepuluhan”. Tapi saya pikir, pernyataan ini salah. Yang benar adalah sebaliknya, yaitu karena taat sejak awal maka Tuhan memberikan kelimpahan. Saya mengajak pembaca untuk mengimani firmanNya dalam Matius 6:33, bunyinya ” Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu”.
Biarlah kita mau taat memberikan kembali kepadaNya semua yang terbaik dalam hidup kita. Kolose 3:23 mengingatkan kita, ” Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Terpujilah Tuhan dalam hidup kita.. Amin.
dr. Herna Pelawi (Alumni FK)


Ada satu buku terkenal berjudul: The End of History and The Last Man tahun 1992, karya seorang ilmuwan politik Amerika, bernama Yoshihiro Francis Fukuyama. Di dalam tulisannya, Fukuyama memberikan kesimpulan bahwa; sejarah kehidupan manusia merupakan suatu proses evolusi, dan akhirnya liberal demokrasi berdiri kokoh sebagai bentuk final dari wujud pemerintahan di seluruh dunia (Fukuyama, 1992). Intinya, Demokrasi dianggap hadir sebagai pemenang, mengalahkan semua bentuk pemerintahan apapun di dunia. Demokrasi dalam hal ini, secara sederhana telah diuraikan Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika, sebagai bentuk pemerintahan; dari, oleh dan untuk rakyat saja.
Alih-alih mengagungkan Demokrasi, sebenarnya para filsuf Yuani Kuno memandang sebelah mata wujud pemerintahan Demokrasi. Mereka lebih mendambakan seorang “Raja Filsuf” atau Philosopher King, dengan sederet pengetahuan yang mumpuni, untuk dapat memerintah dengan bijaksana (Ahmad Suhelmi, 2001). Nyatanya, keadaan ideal dengan menghadirkan seorang manusia biasa, dengan sederet program pelatihan untuk menjadikannya bijaksana, tidak pernah benar-benar berdampak signifikan terhadap progresifitas umat manusia di Bumi. Kekaisaran Romawi bukti-nya, sekalipun setiap generasi, calon penerus kaisar mendapatkan bijaksana dari para filsuf terkenal di zamannya, sayangnya mayoritas Kaisar Romawi tumbuh menjadi diktator ulung. Sebut saja; Kaisar Agustus, Tiberius, Caligula, Nero dan lain sebagainya (Wilujojeng D., 2020). Mayoritas terjebak di dalam dosa; nafsu daging, harta dan tahta.
Di sisi lain, Demokrasi modern seperti saat ini, tidak serta merta menarasikan cerita-cerita heroik dan keindahan rill yang selalu dapat dinikmati masyarakatnya. Demokrasi justru menempatkan masyarakat, layaknya berada di dalam “kamp konsentrasi”, seperti dikatakan filsuf Italia, Giorgio Agamben. Sehingga, sama seperti para ilmuwan politik kebanyakan, Agamben juga berpandangan tidak jauh berbeda memandang demokrasi. Bahwasanya, di dalam politik, semua sistem itu sama-sama “busuk”. Tidak ada yang ideal. Entah itu; Monarki, Oligarki, Aristokrasi, Tirani dan Demokrasi. Seluruhnya sama-sama jahat! Namun bagi Agamben, di dalam Demokrasi, terdapat sedikit keuntungan: a lesser evil ( A. Setyo Wibowo, 2020).
Di dalam pemikiran Giorgio Agamben (1942 – sekarang), Demokrasi memiliki bahaya laten yang seringkali menghancurkan kesejahteraan masyarakat awam. Pemilik otoritas dan power, seringkali (sengaja) membuat keadaan menjadi serba darurat, sehingga rakyat tidak memiliki pilihan lain selain harus; tunduk dan taat pada penguasa. Contohnya, demi menjaga kepentingan nasional dan strategi geopolitik, akhirnya Rusia mengumumkan keadaan darurat untuk segera menginvasi Ukraina. Rakyat Rusia tidak memiliki pilihan lain, selain harus taat pada Pemerintah. Kebebasan informasi di dalam keadaan yang demikian, berubah menjadi ruang untuk tarik-menarik kepentingan, demi memuluskan keinginan pihak tertentu an sich. Tidak lagi berlandaskan kepentingan bersama.
Demokrasi yang digadang-gadang akan melahirkan prinsip-prinsip; berkuasanya hukum (rule of law) dan penegakan hukum (law enforcement), jusru menjadi lemah pada titik instansi dan aktor pelaksana mekanisme hukum itu sendiri. Hal ini sesuai dengan kritik Giorgio Agamben sebelumnya terhadap Demokrasi (A. Setyo Wibowo, 2020). Di dalam keadaan terkini di Indonesia misalnya, bisa kita saksikan, tragedi “polisi tembak polisi” yang telah disaksikan masyarakat, beberapa minggu terakhir. Kasus yang melibatkan Brigadir J. (Alm.), Baharada E dan seorang Jendral Polisi. Aparat penegak hukum sendiri, justru memiliki persoalan serius di internalnya, terlebih untuk menyadarkan masyarakat untuk taat hukum. Masyarakat jelas menjadi krisis kepercayaan terhadap hukum.
Tidak jauh berbeda dengan masyarakat penganut Demokrasi. Tidak serta merta sistemnya saja yang bermasalah. Namun sebenarnya, masyarakat yang berada di dalam ruang Demokrasi, perlahan mulai ikut ditarik ke dalam jerat pusaran kemajuan zaman. Seperti yang dikemukakan filsuf feminist bernama; Hannah Arendt (1906-1975) di dalam pandangannya soal modernitas. Bagi Arendt, di era modernitas, sebenarnya telah terjadi the rise of the social. Maksudnya, semua hal telah berubah menjadi objek produksi dan konsumsi. Sehingga, komersialisasi menghancurkan batas antara ruang publik dengan ranah privat di dalam masyarakat. Ruang privat telah menjadi ruang publik, dan ruang publik telah menjadi ruang privat akibat pengejaran atas kapital (komersialisasi) (Antonius Steven Un, harian Jawa Post, 2022).
Sederhananya, bisa kita saksikan di media sosial. Manusia tidak lagi mengenal rasa malu. Hal yang selama ini tabu untuk diperlihatkan, kini menjadi hal yang wajar untuk di-share ke ruang publik. Demi mendapatkan keuntungan kapital, popularitas, dan lain sebagainya, berita-berita palsu, informasi penuh sensasi atau bahkan aib masyarakat akhirnya banyak bertebaran di ruang publik. Akibatnya, moral masyarakat ikut tergerus. Intelektualitas perlahan tergantikan dengan sensasi dan pengenalan yang dangkal, karena adanya keinginan untuk mencari nikmat secara instan. Sungguh berbahaya!
Menggarami Demokrasi
Dari penjelasan sebelumnya, bisa kita saksikan bahwa, Demokrasi-pun memiliki persoalan yang cukup kompleks. Namun demikian, masyarakat di dunia termasuk di Indonesia, mayoritas telah memutuskan, untuk menjadi penganut bentuk pemerintahan Demokrasi. Seperti konklusi yang dikemukakan Fukuyama, di dalam bukunya berjudul; The End of History and The Last Man (1992).
Jika melihat gambaran di dalam Alkitab, sebenarnya praktik Demokrasi ada dinarasikan. Dan Tuhan menghormati keputusan masyarakat, yang telah menjalankan praktik Demokrasi itu. Bermula, kala Rakyat Israel menyampaikan keinginannya kepada Tuhan, untuk mengubah sistem politik, lewat pemilihan seorang Raja atas seluruh Israel. Berkat keinginan masyarakat Israel, maka Saul akhirnya ditetapkan sebagai raja atas Bangsa Israel (1 Samuel 10:17-27). Dari kisah ini bisa disaksikan bahwa, bibit Demokrasi sebenarnya mulai terlihat di dalam Kekristenan. Sekalipun praktik Demokrasi pernah terlaksana di dalam Alkitab, dan akhirnya terlaksana secara komprehensif hingga sekarang ini lewat perjalanan sejarah yang rumit. Namun, perlu diingat pula bahwa, praktik Demokrasi sekalipun diizinkan oleh Tuhan namun sebenarnya hal ini dikehendaki Tuhan, untuk boleh dilakukan dengan catatan bahwa, Allah yang sejati tetap memiliki otoritas mutlak di dalam praktik Demokrasi itu sendiri. Sehingga, dengan demikian, untuk seterusnya Israel berada di jalur yang benar sesuai pimpinan Tuhan.
Di tengah pesimisnya Giorgio Agamben melihat demokrasi, sebenarnya di dalam Demokrasi sendiri terdapat hal yang luput di dalam perhatian Agamben, yakni: adanya ruang dialog dalam praktik Demokrasi. Ruang inilah yang seharusnya dimanfaatkan demi kepentingan bersama. Seperti kritik Dr. A. Setyo Wibowo terhadap pemikiran Agamben, di dalam artikelnya berjudul: Demokrasi Sebagai Kamp Konsentrasi: Giorgio Agamben, Filsafat Politik dan Kritik (2020). Menurut Dr. A. Setyo Wibowo, sebenarnya ruang Demokrasi memiliki ruang dialog di dalamnya, sehingga setiap pihak sama-sama dapat menentukan apa yang berkenan bagi kepentingan bersama. Di titik ini, terlihat bahwa Demokrasi sebenarnya menghadirkan ruang untuk saling menebar pengaruh. Orang Kristen harus peka dan berdampak maksimal di dalam hal ini.
Pasalnya, orang-orang percaya, yang telah ditebus oleh Kristus Yesus dikatakan oleh Kristus sendiri memiliki identitas layaknya “garam dunia” (Matius 5:13). Garam itu memberikan pengaruh, bukan dipengaruhi oleh dunia. Garam bersumber dari lautan. Identitas garam, tidak lepas dari persekutuannya dengan sesama garam lainya di dalam lautan luas. Kemudian, ketika garam itu diutus keluar laut, dia harus dijemur dulu dengan panasnya terik. Dia siap diuji oleh zaman, tanpa kehilangan identitas aslinya. Lalu kemudian, garam dibawa untuk memberikan rasa, demi memperlambat pembusukan dan tentu saja perannya sangat vital. Sehingga, garam kemudian dipergunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa garam, betapa hambarnya kehidupan manusia. Gambaran yang sama, sejatinya berlaku pula di dalam ruang demokrasi. Orang Kristen dipanggil Kristus untuk berlaku laksana garam yang siap menggarami panggung demokrasi.
Dari keadaan yang demikian, muncul satu pertanyaan, mengapa peran Orang Kristen diperlukan untuk menggarami dunia? Jawabannya cukup sederhana. Allah tidak memilih Bangsa Mesir, Bangsa Asyur, Bangsa Babilonia, Makedonia atau bahkan Bangsa Romawi sebagai Bangsa yang akan melahirkan keturunan Anak Manusia –“Mesias” penyelamat Dunia. Allah juga tidak memandang kekayaan, kemewahan atau bahkan harta dari bangsa-bangsa besar di dalam catatan Alkitab sebelumnya untuk menjalankan misi agung menyelamatkan umat manusia yang percaya pada Kristus. Allah tidak memandang suatu bangsa karena kekuatan politik atau militernya. Melainkan, Allah memilih suatu bangsa kecil, yang sering kali menjadi korban jajahan atas bangsa-bangsa lalim lainnya, yakni bangsa Israel/orang Yahudi sesuai ketetapan dan kedaulatan Allah. Dan hal ini melambangkan kesetiaan Allah atas umat pilihanNya.
Namun demikian, memang pertama-tama kepada orang Yahudi rencana Allah dinyatakan, namun tidak hanya sampai disitu; Injil Keselamatan/berita tentang Kristus disebar pula selanjutnya di Yerusalem,Yudea tempat orang-orang Yahudi, juga kepada bangsa kafir di Samaria dan bahkan sampai ke-ujung bumi, atau dengan kata lain seluruh bangsa-bangsa di dunia direncanakan oleh Tuhan untuk beroleh keselamatan di dalam Kristus. Sehingga setiap bangsa dapat mendengarkan dan menikmati Injil Kristus (Kis 1:8).
Hal ini dilakukan pula agar, hadir suatu bangsa yang berkenan di hadapan Allah. Seperti doa syafaat yang dinyatakan Abraham kepada Allah atas rencana penghancuran Kota Sodom dan Gomora. Tuhan Allah mengharapkan ada setidaknya 50, 45, 40, 30, atau paling sedikit 10 orang benar atas Sodom dan Gomora. Naas, tidak ada orang benar sebanyak itu di sana. Dengan demikian, Sodom dan Gomora tidak memiliki pengharapan atas pertobatan karena kejahatan dan kebebalan hati mereka yang demikian mendukakan hati Tuhan, sehingga murka Allah dinyatakan dengan menghancurkan kedua kota itu (Kejadian 18:16-33).
Dari peristiwa Sodom dan Gomora, bisa kita saksikan bahwa, derajat perhatian Tuhan atas suatu bangsa, bukan serta merta berdasarkan kekuatan politik, kekayaan, pengaruh dan kecanggihan teknologi suatu bangsa. Hal yang paling diperkenan oleh Tuhan adalah, ada atau tidaknya orang benar di dalam suatu bangsa. Hal ini haruslah menjadi prinsip vital yang dipegang kokoh oleh seluruh umat manusia.
Ketika Injil Kristus secara leluasa bisa dinikmati setiap bangsa-bangsa di dunia, melalui pertobatan yang sejati maka, cepat atau lambat kesejahteraan ekonomi, perdagangan, intelektualitas atau bahkan medis boleh dirasakan setelahnya karena ada kejujuran, keteladanan moral dan hidup yang saling mengasihi sebagai buah dari pertobatan di dalam Kristus.
Sehingga, pilihan terakhir dan terpenting bagi setiap orang percaya, adalah berperan menyatakan Injil Kristus sesuai peran dan panggilan masing-masing. Intinya, diperlukan kerinduan untuk menebarkan pengaruh, layaknya “Garam Dunia” entah dalam berbagai bentuk apapun itu, selama bermanfaat bagi sesama dan dapat menyatakan kemuliaan Kristus Yesus Tuhan Kita, sehingga setiap bangsa dapat bertobat dan menyadari bahwa hisupnya bergatung pada Kristus saja. Pekerjaan besar demikian tetu saja harus dikerjakan pula di panggung Demokrasi. Akhir kata, selamat menjalankan panggilan Kristus bagi setiap kita. Dia yang memanggil dan Dia pula yang akan memampukan. Soli Deo Gloria!
Oleh: Yohansen Wyckliffe Gultom (Fisip’15)

“Menjadi alumni yang siap menjadi garam dan terang bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia.”

Kalimat tersebut adalah visi dari sebuah pelayanan mahasiswa yang saya ikuti selama duduk di bangku perkuliahan di kampus USU Medan. Sungguh, sebuah visi yang sangat besar dan dalam maknanya. Sebuah visi yang terus menerus diingatkan, didoakan, dikerjakan dan ditransfer dari generasi ke generasi di pelayanan tersebut, namun berhasil tidaknya visi itu dilihat sejak mahasiswa tersebut menjadi seorang alumni (sarjana/diploma). Visi itu telah menolong saya dan suami untuk tetap mengingat kepada panggilan hidup yang telah Tuhan tetapkan bagi kami; juga telah memampukan kami untuk tetap setia berjuang menjadi garam dan terang di tengah-tengah keluarga besar, pekerjaan, gereja, bangsa dan Negara. visi itu juga mengingatkan kami akan peran yang harus terus menerus kami kerjakan dan perjuangkan dalam segala aspek kehidupan. Dan yang uniknya, aspek yang paling membutuhkan komitmen besar dalam menghidupi visi itu adalah dalam hal bergereja. Kenapa demikian?
Berbicara tentang gereja, kita cenderung membayangkan tentang hal-hal yang mudah dilihat, seperti gedung, ibadah, jemaat, pujian, alat musik dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian pasti selalu kita ingat ketika berbicara tentang gereja, tetapi kita sering lupa arti yang sesungguhnya dari sebuah gereja itu sendiri. Gereja memiliki dua makna,yaitu visible church dan invisible church. Visible church adalah perkumpulan lokal orang Kristen; sementara invisible church adalah seluruh orang percaya sepanjang abad dan tempat.
Kebanyakan orang, termasuk para alumni Kristen, yang nota bene adalah kaum intelektual, baik yang telah dibina ataupun yang tidak dibina di pelayanan mahasiswa sebelumnya, lebih banyak membangun gereja yang visible saja sehingga terlupa bahwa sesungguhnya yang membuat gereja itu hidup dan terus berbuah adalah ketika setiap jemaat di perkumpulan lokal tersebut merupakan orang yang sungguh-sungguh percaya di dalam iman kepada Yesus Kristus (invisible church). Maka tidak mengherankan di zaman ini, gedung gereja dibangun dengan sangat megah, lengkap dengan peralatan-peralatannya yang semakin canggih dan megah, jumlah jemaatnya juga semakin lama semakin banyak, kegiatan-kegiatan gereja yang semakin banyak, namun justru pertumbuhan dan buah iman dari jemaatnya malah semakin hambar dan tidak terlihat. Semakin sulit menemukan anggota jemaat yang sungguh-sungguh hidup dalam Firman Tuhan dan berani tampil berbeda dari dunia ini. Semakin sedikit jemaat yang mau menjadi “hamba Tuhan” di dalam gereja, tetapi banyak yang mau menjadi “pemilik panggung” di dalam gereja.
Maka tidak heran jika saat ini semakin banyak gereja yang tidak lagi menunjukkan identitas sebagai kumpulan orang yang telah dipanggil keluar dari dalam kegelapan, menuju kepada terang Allah, atau yang kita kenal dengan istilah ekklesia (Matius 16:18; 18:17-18; Galatia 1:2; 2Kor.1:1; 1Tes.1:1). Banyak fakta yang dapat kita lihat dari gereja mengenai ini, sebut saja salah satunya adalah kejadian yang sempat menghebohkan gereja pada April yang lalu, khususnya di daerah Sumatera Utara karena meninggalnya seorang ibu bersama kedua anak kembarnya yang diduga meninggal karena bunuh diri di rumahnya sendiri, di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Padahal suaminya dan orang tuanya dikenal sebagai jemaat yang sangat aktif di kegiatan gereja, bahkan menjadi penatua dan pengurus di gereja tersebut. Di samping itu, kita bisa juga melihat fenomena yang semakin marak terjadi, termasuk dikalangan gereja, yaitu perceraian, yang juga semakin melonjak drastis, terutama sejak pandemic covid 19 melanda dunia, khususnya Indonesia. Berita yang juga tidak kalah menghebohkan akhir-akhir ini yaitu mengenai sikap dan pandangan PGI terhadap LGBTIQ (Lesbian, gay, biseksual, transgender, Interseksual dan queer) pada tahun 2016, yang telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan gereja sendiri di Indonesia hingga saat ini. Belum lagi kita menyoroti kepada kasus korupsi dan pelecehan seksual yang juga sesungguhnya marak terjadi di tengah-tengah gereja namun sangat minim perhatian dan kepedulian untuk menyelesaikannya, apalagi memberantasnya. Ditambah lagi zaman digitalisasi saat ini, membuat hampir semua orang, termasuk jemaat gereja, lebih menikmati dan berfokus kepada diri sendiri, sehingga kehadiran umat lain seolah-olah tidak lagi dibutuhkan. Bahkan gereja,yang juga disebut sebagai tubuh Kristus di dalam Efesus 4, pun sepertinya hanyalah sebuah khayalan di dunia nyata namun seolah-olah nyata di dunia maya. Setiap orang semakin mudah terhubung di dunia maya, tetapi justru semakin terhilang di dunia nyata(yang sebenarnya).
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Terlebih lagi sebagai kaum intelektual, yang telah dipercayakan Tuhan akan ilmu pengetahuan, lengkap dengan sertifikat sebagai seorang sarjana/diploma, seharusnya kehadiran alumni di tengah-tengah gereja sangatlah berperan penting. Bukan sekedar menambah jumlah anggota visible church, tetapi seharusnya siap menjadi motor/penggerak perotabatan dan perubahan gereja tersebut menuju invisible church yang semakin nyata dan kuat setiap hari. Para alumni dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, semestinya telah memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menghadapi isu-isu yang tengah marak di tengah-tengah gereja masa kini. Apalagi kaum intelektual ini juga telah dibekali dengan sedemikian rupa akan pengajaran, doktrin dan keterampilan-keterampilan hidup, termasuk kepemimpinan di masa-masa kuliah. Kehadiran para sarjana/diploma ini seharusnya menjadi jawaban atas ketertiduran gereja terhadap tritugas gereja selama ini, bukan justru menambah jumlah jemaat yang ikut tertidur dari tugas gereja tersebut.
Memang bukanlah suatu hal yang mudah untuk dapat langsung mengubah atau memperbaiki suatu kondisi/masalah yang telah bertahun atau bahkan mungkin puluhan tahun berlangsung. Namun ketika kita mau setia berjuang, konsisten berkarya dan senantiasa mengasihi, Tuhan pun pasti melihat, memperhitungkannya dan Dia pun akan memulihkan gereja semakin hari semakin bertumbuh dan hidup di dalam kehendakNya dan semakin hari semakin memancarkan hidup sebagai tubuh Kristus. Dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan dalam doa bagi gereja kita. Karena sebuah pertobatan dan perubahan hanyalah dapat dikerjakan oleh Roh Allah. Maka kita harus tekun berdoa dalam roh dan kebenaranNya. Diperlukan kerelaan membayar harga bahkan menderita demi perbaikan dari dalam gereja itu sendiri. Karena sebagai anggota gereja, apalagi ketika kita baru bergabung dengan gereja tersebut, dibutuhkan pengenalan yang baik untuk dapat mempengaruhi pola pikir bahkan nilai hidup jemaat, termasuk para pemimpin gereja. Maka sangatlah dibutuhkan peran aktif kita di dalam gereja, sehingga kehadiran kita tidak ditolak, tetapi lewat karya-karya yang benar dan sesuai dengan kebutuhan gereja, kita pun akan menjadi pemimpin yang membawa perubahan bagi jemaat dan gereja tanpa harus menjadi seorang pejabat pemimpin gereja.
Sebagai satu tubuh Kristus, kita juga membutuhkan sinergisitas dalam membangun gereja dengan lebih efektif, efisien dan kreatif, baik itu dalam menjaga pengajaran yang sehat (Matius 28:20), ataupun dalam menggerakkan kehidupan misi gereja. Dan kita para alumni sangatlah mungkin untuk melakukannya karena kita telah dibekali dengan lebih dari cukup dalam hal ini selama di kampus, terlebih lagi bagi mahasiswa yang diberikan keistimewaan menikmati pembinaan di pelayanan mahasiswa. Hanya saja memang dibutuhkan kerendahan hati dan kepekaan untuk tetap fokus dalam panggilan kita masing-masing sebagai bagian dari gereja kita.
Dan yang terakhir, yang dibutuhkan oleh gereja saat ini adalah teladan hidup. Walaupun merupakan hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan, tapi sangat besar dampaknya. Action speak louder than words. Keteladanan dari diri kita sendiri, juga keteladanan dari keluarga kita sebagai gereja kecil di tengah-tengah dunia ini. keteladanan dari keluarga kita sebagai bagian dari gereja akan sangat besar mempengaruhi kehidupan gereja, mulai dari relasi suami – istri, nilai-nilai hidup keluarga Kristen, pola asuh dan pendidikan anak, dan juga tujuan hidup keluarga Kristen. Karena sesungguhnya, ujung tombak dari sebuah gereja itu berada pada pertumbuhan dan kesehatan sebuah keluarga dalam segala aspeknya. Ketika keluarga sehat secara utuh (jiwa, raga dan roh), maka gereja pun akan sehat secara utuh karena keluarga adalah gereja kecilnya Allah. Maka jika berbicara tentang peran alumni di tengah-tengah gereja, hal yang paling mudah dan sederhana untuk dikerjakan adalah melalui keluarga.
Jika Anda ingin membangun gereja, bangunlah keluarga Anda di dalam Roh dan Kebenaran Allah!
Oleh: Juni Listanti Purba (Psikologi’03)


Terlahir di bangsa Indonesia sejatinya menjadi anugerah pemberian Allah yang layak kita syukuri. Indonesia yang pluralis memberikan warna dalam kehidupan Masyarakat. Bangsa yang mempunyai kurang lebih 1340 suku, 652 bahasa, 6 agama dan banyak aliran kepercayaan dan sekitar 270 juta jiwa.
Bangsa ini memiliki sejarah yang panjang sebelum memperoleh kemerdekaan. 01 Juni 1945 merupakan sebuah momentum yang menjadi tonggak penting kemerdekaan Indonesia. Tanggal 01 Juni 1945 menjadi hari lahirnya dasar negara Indonesia yang kita sebut dengan “Pancasila”. Pancasila adalah pernyataan tekad persatuan para Founding Father bangsa ini dari musyawarah yang panjang di tengah perbedaan ideologi, kepentingan golongan, suku, agama dan lainnya. Hingga saat ini, Pancasila menjadi ideologi yang tetap kita kumandangkan dalam berbangsa dan bernegara.
Pertanyaan yang kembali muncul adalah apakah semangat Pancasila ini masih semakin melekat kuat atau justru semakin tergerus di masyarakat saat ini bahkan bagi kita sendiri? Intoleransi, Korupsi-Kolusi-Nepotisme, sikap individualis, eksklusivisme di tengah keberagaman, disintegrasi mungkin bisa menjadi indikator realisasi Pancasila di Indonesia saat ini.
Sebagai seorang pribadi Kristen sejatinnya kita harus semakin menyadari bahwa 5 sila yang ada dalam Pancasila begitu sejalan dengan ajaran-ajaran kekristenan. Dalam Matius 22:37-40 Yesus Kristus mengajarkan tentang hukum yang terutama. Perintah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan akal budi (Keutamaan Allah dalam hidup seseorang) tentu sejalan dengan sila Pertama “Ke Tuhan-an yang Maha Esa”. Perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (mengasihi tanpa memilih-milih dan sepenuh hati) sejalan dengan sila Kedua sampai sila Kelima yang mengajarkan insan yang beradab, bersatu, hikmat permusyawaratan dan keadilan bagi semua orang. Menyikapi hal ini harusnya Pancasila tetap kita pegang teguh di dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain memberikan perintah mengasihi, Yesus Kristus juga memberikan teladan yang nyata dalam merealisasikan kasih kehidupan di lingkungan yang berbeda. Kisah Yesus dalam Yohanes 4:1-43 didasarkan pada pandangan primordial orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi, begitu juga sebaliknya. Dalam kisah ini, Yesus mematahkan pandangan itu dengan terlebih dahulu memulai percakapan dengan meminta air kepada perempuan Samaria. Walaupun pada awalnya perempuan Samaria enggan, tetapi pada akhirnya itu menjadi awal keselamatan perempuan itu dan orang orang di sekitarnya. Jika pada akhirnya Yesus tetap memilih dengan pandangan tidak bisa begaul dengan orang Samaria tentu tidak akan ada pertolongan bagi dia bukan? dan bukankah harusnya terang hadir dalam kegelapan supaya ia bercahaya terang?
Dua perikop di atas bisa menjadi refleksi bagi kita tentang bagaimana sebenarnya kita sebagai seseorang yang sudah menerima anugerah keselamatan. Kisah di atas juga menjadi dasar bagaimana sebenarnya kita bisa hidup selaras di dalam masyarakat. Inklusif menjadi opsi yang paling tepat bagi kita sebagai seorang Kristen dalam hidup bernegara. Keterbukaan, sikap merangkul, menghargai perbedaan dan mengedepankan kasih sehingga terwujud peradaban yang damai tentu akan mendorong orang lain menemukan Kristus dalam hidup kita.
Bangsa Indonesia yang pluralistik ini bisa kita ibaratkan menjadi sebuah instrument musik, di mana perbedaan warna, jenis dan nada pada akhirnya mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan sebuah harmonisasi yang indah. Sejatinya Allah juga menciptakan kita sedemikian rupa untuk hidup berdampingan menjadi sebuah bangsa yang bersatu dan berdaulat. Momen hari Lahir Pancasila ini bisa menjadi momen bagi kita semua untuk mengobarkan kembali semangat Bhineka Tunggal Ika yang diawali dengan mendoakan bangsa negara ini, berbuah dan berintegritas di pekerjaan, berdampak di lingkungan, mulai terlibat dalam aksi yang memberikan kontribusi bagi negeri dan mengedepankan toleransi. Pada akhirnya kita menjalankan perintah Allah dan juga menjalan pandangan Pancasila sebagai kewajiban seorang warga negara secara bersamaan. Hingga kemudian aksi nyata kita mewujudkan Pancasila bukan sekedar filosofi retoris saja, tetapi menjadi pandangan yang hidup bagi kita semua.
Oleh: Petrus Septian Gultom (Fisip’18)


Alkitab menceritakan dengan jelas Natal pertama setidaknya disaksikan oleh beberapa orang diantaranya Yusuf, Maria, orang-orang Majus dari Timur, dan para gembala. Mereka telah berhasil mempersiapkan dan merayakan Natal pertama ketika Yesus lahir di dunia. Sukacita yang mereka rasakan tentu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika mereka sebagai orang-orang yang pertama kali menerima hadiah Natal yang terindah dan terbaik dari Allah. Mereka dapat menyaksikan dan mengalami sendiri kelahiran Yesus sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar bagi dunia ini. Namun bagaimana mereka mempersiapkan dan merayakan Natal pertama? Mari kita lihat satu persatu.
Yusuf, seorang yang benar (Mat 1:19) dan taat. Ketika Yusuf mengetahui Maria hamil, Yusuf tidak mau mencemarkan nama isterinya di depan umum, namun Yusuf bermaksud menceraikan isterinya dengan diam-diam (Mat 1:19). Yusuf bukannya tidak mencintai Maria sebagai isterinya, tetapi Yusuf sebelumnya tidak tahu mengapa Maria tiba-tiba hamil dan menyangka Maria telah berzinah. Yusuf mengetahui mengapa Maria hamil ketika malaikat mendatangi Yusuf melalui mimpi. Ada 2 poin penting yang menjadi pesan dari malaikat kepada Yuduf. Yang pertama, Anak dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus (Mat 1:20), Yang kedua, Anak tersebut akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat 1:21). Bagaimana Yusuf mempersiapkan Natal pertama saat itu? Yusuf taat dan berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan. Yusuf menerima Maria sebagai isterinya dan menjaga hadiah Natal dari Allah yang di dalam kandungan Maria dengan baik. Tercatat sebanyak 4 kali Tuhan mengirimkan malaikat-Nya kepada Yusuf melalui mimpi dan Yusuf selalu taat (Mat 1:20; 2:13,19,22). Yusuf menjaga Anak yang dikandungan Maria dari niat jahat herodes dan Arkhelaus yang ingin membunuhnya (Mat 2:13,22) karena khawatir pemerintahan mereka akan tergantikan.
Maria juga seorang yang taat. Malaikat Gabriel menemui Maria dan memberitahukan bahwa Maria akan mengandung seorang anak laki-laki dan memberikan nama Yesus kepada Anak tersebut kelak. Bagaimana respon Maria saat itu? Awalnya tentu dia terkejut dan takut, karena bertemu dengan seorang malaikat (Lukas 1:29-30). Maria juga bingung karena Maria belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya (Lukas 1:34). Bagi Maria tentunya hal tersebut tidak mudah, karena Maria harus menjelaskan tentang kehamilannya kepada Yusuf, dipandang negatif oleh orang-orang sekitarnya, bahkan harus mengandung selama 9 bulan. Namun, hal yang menarik adalah Maria merespon malaikat tersebut dengan menjawab:”Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Bagaimana Maria menyambut dan mempersiapkan Natal pertama? Maria taat dan memberikan rahimnya untuk menjadi tempat Embryo berkembang menjadi Janin yang kudus.
Bagaiman dengan orang-orang majus dan para gembala?
Orang-orang majus mempersembahkan emas, kemenyan dan mur ketika mereka merayakan Natal pertama. Perjalanan mereka tentu tidak mudah karena mereka hampir saja dimanfaatkan oleh Herodes (Mat 2:3-8), bahkan mereka sendiri tidak tahu harus ke mana untuk menemukan lokasi bayi Yesus dilahirkan. Mereka hanya mendapatkan petunjuk dari sebuah bintang yang mereka lihat sejak dari Timur (Mat 1:2) dan bintang yang sama pula menuntun mereka hingga berhenti di atas tempat Yesus dilahirkan.
Para gembala mendapat informasi tentang Natal pertama dari malaikat yang tiba-tiba berdiri di dekat mereka dan menyampaikan pesan,” Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus di kota Daud.” Setelah mendengar dan menyaksikan “paduan suara (choir)” dari sejumlah besar bala tentara sorga, mereka segera pergi ke Betlehem untuk melihat bayi Yesus yang telah lahir. Para gembala merayakan Natal pertama dengan memuji dan memuliakan Allah karena segala yang mereka dengar dan lihat, sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka (Luk 2: 20).
Bagaimana kita menyambut dan merayakan Natal setiap tahunnya?
Hal yang menarik dari kisah Natal pertama adalah makna Natal yang disampaikan kepada Yusuf, Maria, orang-orang majus dan para gembala adalah sama, yaitu tentang lahirnya Yesus sang Mesias yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Natal pertama sesungguhnya berbicara tentang kedatangan Tuhan Yesus yang pertama ke dunia ini. Yusuf, Maria, orang-orang majus, dan para gembala telah menyambut dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang pertama dengan sangat baik. Jadi sebaiknya ketika kita ingin menyambut dan merayakan Natal, kita harus mengingat akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua.
Mari kita mengevaluasi diri sejenak. Apa yang telah kita lakukan dalam menyambut dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua? Apakah kita sedang menantikan kedatangan-Nya dengan sukacita dan memuji Tuhan sebagaimana para gembala (Luk 2:20,28) yang telah menyaksikan dan mengalami sendiri kehadiran Tuhan dalam hidup mereka? Apakah kita sudah hidup taat dan memiliki hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan sebagaimana Yusuf yang taat setiap kali Tuhan memerintahkan sesuatu kepadanya. Apakah kita sudah memberikan diri dan hidup kita sebagaimana Maria memberikan rahimnya sebagai jalan Allah mengirimkan Anak-Nya ke dunia? Apakah kita sudah mempersembahkan harta kita kepada Allah sebagaimana orang-orang majus yang mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada bayi Yesus? Apakah kita sudah memberitakan keselamatan yang menjadi tujuan kedatangan Yesus ke dunia sebagaimana pesan yang disampaikan malaikat kepada Yusuf, Maria dan para gembala?
Natal pertama tidak dirayakan dengan kemewahan tetapi dengan kesederhanaan di palungan (Luk 2:7). Natal pertama tidak berbicara tentang menantikan hadiah Natal, tetapi memberikan sesuatu sebagaimana Allah yang memberikan Anak-Nya yang tunggal (Yohanes 3:16), Maria memberikan rahimnya, dan orang-orang majus memberikan emas, kemenyan dan mur (Mat 2:11). Ketika kita memaknai Natal dengan cara yang sama sebagaimana Yusuf, Maria, orang-orang majus, dan para gembala, maka kita juga akan merasakan sukacita yang sama seperti yang mereka rasakan, Ketika kita menyambut dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua sebagaimana mereka menyambut dan mempersiapkan kedatangan Yesus yang pertama, maka kita akan ….. Mari kita menyambut dan merayakan Natal sebagaimana Yusuf, Maria, orang-orang majus, dan para gembala menyambut dan merayakan Natal pertama. Selamat merayakan Natal dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Beritakanlah dengan sukacita kabar keselamatan melalui Yesus Kristus kepada semua orang sebagaimana tujuan Yesus lahir ke dunia ini di Natal pertama. Haleluya.
Oleh: Ahmad Ricardo Silalahi (FK’03)
Butuh kerendahan hati agar menomorsatukan visi di atas ambisi dan keinginan pribadi lainnya. Namun visi yang kuat sangat penting agar kerendahan hati dan komitmen melayani mampu memberi dampak yang besar bagi dunia. Ketaatan merealisasikan visi adalah satu wujud kerendahan hati dan jiwa yang melayani. Persis. Itulah yang Yesus lakukan Ketika datang ke dunia untuk mengerjakan misiNya. Sebuah teladan sempurna tentang hati yang melayani.
Hidupku kini sepenuhnya digerakkan oleh visi yang berawal dari keinginan kuat memengaruhi generasi masa kini demi pembangunan hari esok. Kerinduan itu muncul dan bermetamorfosis sebagai akumulasi dari perjuangan sulit mengecap pendidikan terbaik sejak masa kecilku. Aku ingin melihat anak-anak menikmati belajar dan bermain. Aku memiliki impian memandang mereka kasmaran belajar. Tekad dan komitmenku adalah menciptakan wadah dan atmosfir di mana anak-anak bertumbuh melalui interaksi dengan teman dan pendidik mereka. Visiku terus menguat dan berkembang. Aku terus meningkatkan kualitas diriku agar bisa berdampak lebih baik melalui pendidikan. Aku melihat pendidikan dini yang memainkan peran sangat strategis memberi dampak baik bagi generasi mendatang.
Semua orang membutuhkan pendidikan yang baik; tua, muda, miskin, kaya, pelajar, bahkan pekerja. Namun ada perbedaan dampak yang sangat signifikan jika pendidikan berkualitas bisa dikecap sejak dini. Salah satu aset terpenting bagi kemajuan sebuah bangsa adalah pendidikan sejak dini. Lewat pendidikan, seorang anak dari lahir hingga beranjak dewasa memerlukan pendidikan yang tepat.
Pemenuhan kebutuhan pendidikan pun harus disertai pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya. Pemahaman ini yang akan membantu para pendidik dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing baik secara intelektual, emosional dan sosial.
Mengapa pendidikan lebih baik diberikan sejak dini? Frederick Douglas adalah seorang reformis sosial Amerika Serikat yang berpendapat bahwa jauh lebih mudah membentuk anak-anak menjadi kuat daripada berusaha memperbaiki orang-orang dewasa yang sudah rusak—“It is easier to build strong children than to repair broken men,” katanya. Dia juga menegaskan bahwa untuk menjadi seorang warga negara yang mandiri, seseorang harus memiliki kapasitas intelektual.
Memperbaiki orang dewasa yang sudah rusak bukanlah sebuah kesalahan; namun butuh waktu dan upaya yang sangat serius dan intens, juga butuh pendekatan pribadi yang tentunya akan jauh lebih sulit. Sedangkan mendidik anak menjadi kuat relatif jauh lebih mudah. Anak-anak yang belum terkontaminasi perbuatan jahat melalui kata-kata kotor dan perbuatan nakal akan lebih mudah mengecap bentukan karakter dari guru, orangtua, dan lingkungan yang baik.
Perubahan yang terlambat akan sulit diberbaiki. Dari sebuah pengalaman aku menyadari, pembinaan orang dewasa membutuhkan waktu yang lebih lama, biaya yang lebih mahal, dan perjuangan yang lebih susah. Pengetahuan yang sudah tertinggal jauh, mental yang tidak terbina dengan baik, dan karakter yang tidak dibentuk dengan budi pekerti yang bagus menyulitkan pembinaan orang dewasa.
Contoh yang relevan dengan persoalan ini terjadi pada seorang yang aku kenal baik. Aku sudah tamat kuliah dan bekerja sejak 2001, sementara orang ini putus sekolah sejak tahun 1994. Dia bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Pada tahun 2002 kami bertukar pikiran, mencoba berdiskusi bagaimana memperbaiki arah jalan hidupnya, baik pekerjaan maupun peluang untuk berkembang.
Awalnya kami sangat antusias dengan ide-ide yang kami bicarakan bersama. Tapi ide-ide itu ternyata susah diwujudkan. Bukannya merealisasikan ide, ia malah tertinggal jauh. Pengetahuan yang sangat minim, ketiadaan keahlian yang bisa dijual, dan cara berpikir yang belum terbentuk dengan matang membuatnya sulit mencapai ide-idenya. Belum lagi pendidikan terakhir yang dia sempat jalani hanyalah kelas 1 STM yang sekarang berubah nama menjadi SMK.
Untuk mewujudkan ide-ide kami tentang membangun masa depan, kami mengikuti les berbahasa Inggris. Setelah setahun dia mengikutinya, dia sudah mampu berbahasa Inggris. Kami melatih dia untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris. Kami sangat bersyukur dia diterima mengajar di sebuah kursus bahasa Inggris. Namun, setelah beberapa bulan, kami kembali menemukan masalah. Dia tidak memiliki karakter yang baik untuk menjadi seorang pendidik, juga tidak cukup sabar mengajar. Akhirnya dia menyerah.
Berbagai solusi terus kami coba. Paling lama dia bertahan pada suatu pekerjaan hanya dua tahun. Kini, setelah lima belas tahun kami berusaha menata masa depannya, dia belum juga memiliki pekerjaan tetap. Begitulah sulitnya memperbaiki orang dewasa yang sudah telanjur rusak—sulit, lama, dan mahal. Mengubah orang dewasa memanglah bisa, tapi dalam kasus yang aku alami bisa disebut kemungkinan, karena prosesnya berjalan lambat.
Solusi terbaik adalah mendidik sejak kecil. Salomo yang dikenal sebagai raja paling berhikmat pernah berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Orangtua harus mengabdikan diri mereka untuk memberi didikan disiplin belajar kepada anak-anak mereka. Prinsip umumnya adalah bahwa seorang anak yang telah dididik dengan benar tidak akan menyimpang dari jalan saleh yang telah diajarkan orangtuanya.
Membentuk anak-anak yang kuat pastilah jauh lebih baik dan lebih mudah. Kita bisa memperlengkapi mereka semua hal. Mengajari mereka karakter dan perilaku yang baik melalui teladan sehingga kelak mereka juga menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Mendorong mereka untuk memiliki semangat dan mental yang kuat dan pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Sehingga mereka akan terus berjuang mengatasi setiap masalah dan berupaya menyiasati setiap kesulitan dalam hidup, pekerjaan dan keluarga.
Sejak dini kita juga bisa mengasah keterampilan sesuai dengan minat dan bakat mereka sebagai bekal di masa depan mereka. Memfasilitasi mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik tentulah akan semakin memperlengkapi mereka menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan bermental baik demi hadirnya generasi pembaharu yang memberi dampak yang luar biasa baik bagi keluarga, masyarakat bahkan negara.
Anak-anak yang sudah ditempa dengan sedemikian baik diyakini kelak tidak akan menyimpang dari jalan baik yang sudah ditunjukkan pada mereka. Kita sebagai orangtua tentunya harus berusaha keras demi terciptanya generasi-generasi yang berkualitas ini. Butuh biaya, waktu, perjuangan yang tidak murah dan mudah. Namun jauh lebih baik dan murah jika dibandingkan dengan berupaya memperbaiki orang-orang dewasa yang sudah telanjur rusak.
Apa yang membuat seorang dewasa berbeda di masa depan, dan susah memperbaiki kelakuannya? Aristoteles adalah seorang pemikir pendidikan dan filsuf Yunani yang sangat peduli pada perkembangan pendidikan. Dia meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang terbentuk ketika muda akan memberi perbedaan berarti di masa depan seseorang. —“Good habits formed at youth make all the differences,” ucapnya.
Tidak bisa dibantah lagi bahwa waktu paling tepat untuk melahirkan generasi terbaik bagi negeri ini adalah dengan memerhatikan kualitas pendidikannya sejak dini. Mulai dari PAUD, TK, dan SD. Pemerintah, pengelola sekolah, guru, bahkan orangtua harus memberi perhatian dan terlibat langsung menciptakan suasana di mana anak-anak belajar dengan bergembira, sebab kecerdasan dan karakter anak muncul dan berkembang pada saat mereka menikmati belajar dan bermain.
Aku mengawali mendirikan lembaga belajar berbahasa Inggris dengan tujuan untuk menyalurkan minatku mengajar. Aku mendirikannya pada 12 Januari 2004. Aku mengamati betul metamorfosisnya tahun demi tahun. Kata-kata ekspresi ‘bersyukur’, ‘takjub’, atau ‘terdiam heran’ kurasa masih kurang memadai menggambarkan perasaanku untuk semua pertolongan, pimpinan, dan intervensi Tuhan dalam setiap ups and downs yang kualami dalam proses mengembangkannya. Dalam setiap dimensi kehidupan ada tahapan proses pertumbuhan dan perkembangan. Menikmati prosesnya adalah bagian terpenting. Kaizen atau tetap berbenah adalah prinsip yang tidak boleh hilang.
Dengan komitmen kuat, pertolongan Tuhan, dan dukungan sahabat kami memantapkan hati untuk mendirikan TK Plus Ark pada 2019 dan SD Plus Ark pada 2020. Sebuah perjuangan sulit yang benar-benar menguji komitmen kami. Terpujilah Tuhan yang setia menolong.
Dalam perjalanan hidup dan pekerjaan saya dan istri menemukan banyak peluang bisnis yang lebih menggiurkan untuk dikerjakan. Namun teladan Kristus yang rendah hati turun serendah-rendahnya menjadi manusia demi mengerjakan misi keselamatan, sudah cukup meneguhkan kami untuk setia mengerjakan visi yang Tuhan beri bagi kami untuk berkarya di bidang pendidikan. Ya. Taat dan setia memperjuangkan visi hidup adalah sebuah wujud kerendahan hati. Menomorsatukan visi di atas ambisi dan keinginan pribadi lainnya. Amin.
It is today that we create the world of the future.
–Eleanor Roosevelt
Oleh: Wandi P. Tambunan (FIB’98)


Keluarga adalah suatu institusi terkecil dalam sebuah komunitas.dan gambaran miniatur kondisi suatu negara. Kita bisa membayangkan bila kehidupan keluarga berantakan secara moril dan spiritual. Kemungkinan besar tatanan kehidupan secara nyata di tempat tersebut juga akan kacau. Sebagai contoh kehidupan di kota Sodom dan Gomora, dimana kita mendapatkan kasus LGBT yang pertama di dunia ( Kejadian 18:20, kej 19: 4-9). Bila ingin mengubah suatu tatanan kehidupan moril .spriritual, karakter dan sikap dari suatu daerah/,negara, maka kita harus memulainya dari keluarga kita masing-masing. Jadilah agent-agent perubahan dalam keluarga.
Menilik kisah Yosua, ketika berhadapan dengan bangsa Israel, maka dengan teguh dan tegas, dia mengatakan bahwa dia dan keluarganya hanya menyembah Allah saja. ( Yosua 24:15). Untuk mewujudkan satu keluarga bersama-sama dengan sepenuh hati menyembah Allah, tidaklah mudah. Karena dalam kenyataan sehari-hari, kita melihat bagaimana seorang ayah atau ibu yang setia hidup di dalam Tuhan. Saat teduh setiap hari, rajin berdoa dan melayani, tetapi hal tersebut hanya dilakukan sendiri saja, tidak terjadi proses penularan yang baik atau diikuti oleh anggota keluarga yang lainnya. Bila hal ini terjadi, berarti ada yang harus diperbaiki. Dari sisi yang lain, kita juga melihat bagaimana Raja Daud seorang yang berkenan di mata Allah, tetapi ada saat tidak melakukan tindakan yang tegas dan adil dalam keluarganya/ terhadap masalah antara anak-anaknya sehingga menimbulkan kepahitan/luka batin bagi anaknya Absalom yang kemudian membuat Absalom berbuat nekad ( 2 Sam 13).
Keluarga memang institusi terkecil, tetapi dalam kenyataannya untuk melakukan suatu perubahan terkadang lebih sulit dibandingkan dengan di tempat bekerja atau dilingkungan.
Untuk menjadi teladan dalam.keluarga yang akan berdampak bagi setidaknya lingkungan sekitar kita tidaklah gampang. Dan tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat. Tetapi sudah harus dimulai sejak kehidupan rumah tangga berjalan. Hal ini tentulah membutuhkan kesabaran, keuletan, semangat pantang menyerah dan keyakinan yang teguh. Kenyatan yang kita lihat dalam kehidupan sehari – hari. Ada orang yang berjabatan dalam kumpulan sosial kemasyarakatan seperti Serikat Tolong Menolong (STM), kumpulan Marga atau aktif dalam pelayanan di gereja atau pelayanan dengan menjadi anggota majelis atau pengurus kegiatan lainnya di gereja, tetapi kehidupan keluarganya jauh dari hidup sebagai contoh/teladan bagi orang lain. Jangan lupa, menjadi seorang pemimpin dimulai dari keluarga. Jikalau seorang Bapak tidak bisa memimpin keluarganya sendiri (istri dan anak-anaknya) bagaimana mungkin bisa menjadi pemimpin yang baik. Ironis sekali bila Bapak atau Ibu sedemikian menggebu dan rajin sekali melayani dan memimpin orang, tetapi hubungan sesama antar keluarga tidak sehat, jauh secara hati. Yang walaupun dalam satu ikatan keluarga tetapi sibuk hanya mengurus diri dan kehidupan masing-masing, yang tidak ubahnya seperti anak kost dalam satu rumah.
Hal sedemikian menarik untuk kita amati, pelajari dan pahani, mengapa bisa sampai terjadi?
Mari kita kupas bersama :
Tindakan nyata yang dapat dilakukan agar kita menjadi teladan dalam keluarga, antara lain:
Hal-hal yang perlu kita hindari dalam hidup bersama dengan sesama kita, yang akan berdampak bagi keluarga kita antara lain :
Menjadi teladan dalam keluarga itu adalah hal yang tidak gampang.. Mari kita berbenah diri dari hari ke hari dengan sikap rendah hati dalam limpahan kasih Kristus dengan pengejawantahan yang nyata dalam hidup yang kita jalani bersama keluarga.
Keluarga adalah saksi hidup kita.
Teladan itu dimulai dari tindakan nyata.
Oleh: Maria Peratenta Sembiring (Alumni FT)
Jalan-jalan, posting foto estetik dan caption asik di Instagram itu keren. Bisa ekspresiin diri dari busana yang kita pakai seturut tren itu kece. Berhasil menemukan serangkaian produk perawatan kulit yang cocok sama kita itu rasanya wah. Terus apa spesialnya orang-orang kalau sudah keren semua?
Oleh karena Allahku spesial, aku spesial. Karena aku dispesialkan, aku melakukan hal-hal spesial. Spesial itu ketika sadar apa yang baik dihadirkan atau dilakukan, kemudian kita hadirkan dan lakukan. Spesial itu waktu kita tidak begitu diapresiasi oleh orangtua, tapi terus didukung dan diapresiasi oleh teman-teman serekan kerja ataupun sepermainan. Kita belajar arti apresiasi, kemudian bisa mengapresiasi diri sendiri, orang lain, bahkan orangtua kita tadi. Bukan karena mau diapresiasi, tapi karena sudah sadar pentingnya mengapresiasi dan menghargai –menyatakan dan menyadarkan kespesialan orang lain oleh karena ia pun ciptaan spesialnya Allah juga.
Aku lahir setelah seorang abang sulung dan kakak keduaku lahir, dibesarkan oleh kedua orangtua yang sama-sama anak sulung di keluarga dengan budaya masing-masing. Ayahku seorang tionghoa dari Bandar Lampung dan Ibuku bersuku batak dari Pematangsiantar. Maka aku dibesarkan di tengah banyak kepemimpinan yang mendominasi, yang juga membuatku terbiasa beradaptasi di antara dominasi. Eh, setelah itu aku juga ada seorang adik laki-laki di keluarga kami.
Ayah Ibuku membesarkan abang sulung dengan sepenuh hati, kemudian segala yang dipandang kurang tepat yang pernah mereka perbuat diperbaiki ke pola asuh kakak kedua. Menyadari ada aspek yang mengecewakan dari kakak kedua, beliau-beliau pun semakin tidak memberi banyak pilihan kepadaku dan adikku dalam menentukan hidup bahkan sekadar berpendapat demi meminimalkan peluang kesalahan dalam pola asuh, demi sesuatu yang mereka pandang baik untuk kami kelak.
Tentu saja itu hanya asumsi yang berdasarkan sudut pandang subjektifku.
Sebelum memiliki domain komersialnya, CelotehNgoceh.com adalah blogspot amatir dari seorang remaja yang memiliki banyak ketidaksetujuan dan sanggahan atas orangtuanya. Semacam diary sekaligus bentuk eksistensi diri. Apa yang ia tonton, ia dengar, ia lihat, ia alami, terus dikomentari atau sekedar ditanggapi tak peduli dengan data ataupun fakta. Diketik saja semua tanpa basa-basi.
Sedari tidak ada yang peduli, terus diketik, terus diposting. Sampai ada yang mengapresiasi membuat ia sadar ada yang membaca tulisannya ini. Semakin sadar ia sedang dibaca, semakin belajar ia menyajikan tulisan yang layak dibaca. Diapresiasi lagi, ia semakin yakin dirinya bernilai dan dapat menolong orang lain. Lagi, lagi, ia belajar lagi bukan hanya apa yang ia mau sampaikan, melainkan juga apa yang orang lain butuhkan. Kini ia mengusahakan diri untuk tidak luput dari kejadian sehari-hari, belajar menjelajah orang lain dan fenomena di sekitarnya karena ia peduli dan mau menyumbangkan pendapatnya yang semoga bisa jadi bahan solusi untuk ditulis dan kemudian dapat dibaca pembaca.
Sejak 2015 ia mulai menulis blog. Pada 2018, ia belajar pengalamatan internet dan menyisihkan uang sakunya sendiri hingga bisa membeli hosting dan domain mandiri bernama CelotehNgoceh.com. Situs ini menjadi lebih diprioritaskan dalam pencarian google dan memiliki pita lebar yang memungkinkan akses pembaca tanpa hambatan, selain nama yang mudah diingat dan diketik di layar gawai.
Semakin gadis belia ini memberi diri dengan senang hati, semakin ia melihat banyak kenyataan yang acap luput dari publikasi media. Kecemasan pendidikan anak dan kesejahteraan perempuan saat PSBB, keadaan pengusaha toko kelontong, keberadaan pengusaha lokal buku independen, bagaimana para petani kopi bersatu dalam wadah koperasi, bertahan dengan menginisiasi wirausaha muda di balik semaraknya orang-orang membungakan uang di lantai efek, hingga minimnya empati pendengar terhadap pembicara virtual, semua berhasil Allah kirimkan sehingga ia temukan, gelisahkan. Di masa pandemi, ia kaji dan tulis di situs ini.
Ia hanyalah gadis biasa di mata orang-orang, namun gadis luar biasa spesial di mata Tuhan Yesus. Aku, Jessica Napitupulu, anak gadisnya juruselamat dunia.
Bukan pekerjaan yang hebat, bukannya menghasilkan malah menguras sumber daya yang ada. Tidak jarang dicibir meski juga banyak yang apresiasi. Bahkan sering tenggelam dalam kesedihan sendirian saat menemukan kenyataan lapangan yang tidak baik-baik saja, isu sekitar kita yang jarang dikemukakan. Tulisan berjudul Pengabdi Patriarki memiliki latar belakang kenyataan bahwa pelecehan seksual anak dan pudarnya hak asasi beberapa sosok istri/ibu masih sering ditemukan di lingkungan keluarga, korban dan pelaku di bawah satu atap. Tulisan “Tentang Kehilangan” juga terinspirasi dari kedukaan terdalam teman-teman yang terpisahkan oleh kematian dengan anggota keluarganya, di samping aku yang beranggota keluarga lengkap dan sehat.
Tapi Allah kita yang spesial tidak sembarang membentuk, memberikan kegelisahan dan pekerjaan untuk anak-Nya yang spesial. Kesusahan yang diizinkan terjadi tak pernah lewat dari perhatian-Nya.
Di tulisan “Aku Jelek” saat menjelajah orang lain, aku malah menemukan kunci jawaban atas diriku sendiri yang jadinya kujelajah. Pada “Scoliosis Fighter: Bent, Not Broken” beberapa pembaca yang telah kukenal maupun belum pernah kenal berhasil menjangkau kontak pribadiku dalam menceritakan kegelisahan yang sama. Kami berbagi pengalaman dan langkah medis juga saling membangun kepercayaan diri dan menemukan spesialnya para pejuang skoliosis. Benar yang dikatakan firman “Carilah dulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Berawal dari niat menyalurkan diri ke bukan siapapun, menyampaikan yang diinginkan diri dan dibutuhkan orang lain, dan total memberikan atensi menulis mengenai apa yang dibutuhkan orang lain, berhasil membuat gadis spesial ini menyadari dirinya spesial.Wuhh!
Aku juga jadi lebih objektif dalam menghadapi permasalahan sehari-hari, menulis dan membaca menolongku untuk melihat sebuah konflik dari berbagai pertimbangan dan sudut pandang. Aku kini dimampukan untuk menerima orangtuaku sebagaimana mereka adanya. Jikapun aku mungkin masih kecewa terhadap beberapa aspek dalam mereka, itu tidak mengurangi hormatku pada mereka yang secara spesial diberikan untukku. Bagaimanapun, beliau berdua adalah utusan-Nya untukku di dunia.
Hei, tahu tidak? Beberapa bulan lalu, aku hampir pupus, CelotehNgoceh.com sepertinya tidak akan berlanjut perihal finansial. Sumber dananya hanya dari penyisihan sepersekian uang sakuku tiap bulan, yang kemudian terkumpul dan dibayarkan tahunan kepada penyedia jasa domain. Dana sudah terkumpul berlanjut sampai November 2020, tapi yang telah dikumpulkan itu terpakai karena keperluan mendesak dan persembahan natal yang melebihi anggaran (yang kurasa penting dan mendesak juga). Dengan tetap setia dengan memberikan diri apa yang kumampu, di antara kesempatan melayani yang dipercayakan saat itu, PAK mengapresiasi apa yang kubagikan dalam Diskusi Pilkada 2020 tanpa pernah kuharap sedikitpun. Aku tidak tahu lagi menggambarkan takjubnya pada timing-nya Allah, selalu saja terkejut aku dibuat.
Dulu aku selalu berhasil diyakinkan sekitarku bahwa aku tidak spesial. Betapa tidak, kespesialan kita bukan yang didefenisi dunia, melainkan oleh-Nya saja. Aku spesial, aku berusaha melakukan hal yang spesial. Tentu saja, Ia pun selalu menyediakan yang kita perlu untuk melakukan yang spesial itu.
Oleh: Jessica Pradipta Alam Napitupulu (FEB’12)
Masihkah kita mengingat pengalaman pertobatan kita dan bagaimana rasanya pada saat itu? Coba sejenak tangkap rasa kasih mula-mula kita kepada Tuhan.
Beberapa waktu lalu aku bertanya kepada salah seorang temanku, “Apa rasanya mengenal Tuhan?” Dia menjawab, “Tidak pernah aku sebahagia ini dan aku seperti lahir baru. Sulit kujelaskan dengan kata-kata, karena ini pengalaman yang luar biasa. Mimik wajah yang menggambarkan betapa sukacitanya temanku itu, membuatku mengingat kembali saat dulu pertama kali menyadari kasih Allah kepada diriku.
Pengalaman lahir baru setiap orang itu unik, Tuhan dapat berkarya melalui situasi yang bagaimanapun dan kapan saja bahkan Tuhan dapat memakai siapa saja untuk memberitakan kabar baik kepada orang yang dikasihiNya. Aku ingin menceritakan pengalaman lahir baru temanku yang mengaku menyadari kasih Allah lewat percakapan sederhana kami di sore hari kala itu. Bahkan aku tidak menyangka bahwa percakapan itu berbuah manis, karena sungguh percakapan itu sederhana dan bukan rangkaian dari metode penginjilan yang pernah kuikuti sebelumnya.
Murni namanya, perempuan keturunan Nias yang lahir di Pulau Simuk: salah satu pulau kecil dan terluar di kepulauan batu, Nias Selatan. Dia anak bungsu dan yatim piatu, usianya lebih tua 1 tahun dariku dan satu-satunya yang belum menikah di keluarganya. Saat ini dia bekerja sebagai pendamping desa dari Kemendes di Pulau Sigata dan baru-baru ini tinggal dengan kakaknya di perumahan dinas, tetanggaku. Beberapa kali dia datang ke rumahku: masak, makan, bercerita dan terkadang menonton bersama. Dia melihat segala sesuatu yang kulakukan dengan jelas. Suatu sore, aku dan teman KTB ku (Rahel) membahas buku yang sedang kubaca “Monster-Monster Pribadi” karya Pak Julianto, dan dia juga ikut mendengar.
Kami pada akhirnya menceritakan siapa diri kami dan bagaimana keadaan keluarga membentuk kami menjadi pribadi yang berbeda karakter. Karena buku bacaan tersebut memang mengarahkan kami melihat monster yang ada dalam pribadi masing-masing. Kami bertiga menjadi lebih terbuka satu dengan yang lain dan hanyut dalam obrolan tentang keluarga, karakter yang sulit untuk diubah, dosa-dosa dan relasi dengan Tuhan. Kak Murni pun menceritakan latar belakang keluarganya, pergumulannya, kekecewaannya, dan ketakutan-ketakutan akan masa depannya.
“Aku selalu berdoa, tapi aku rasa ada yang kosong di hatiku. Aku baca alkitab, tapi gak ngerti. Apa Tuhan mendengar atau tidak?” Pertanyaannya itu membawa kami kepada obrolan tentang dosa yang menghalangi manusia untuk berelasi dengan Tuhan. Relasi yang rusak sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. “Satu dosa Adam dan Hawa sudah membuat mereka terusir dari taman Eden, apalagi kita?”
Aku teringat nats: Yesaya 59:1-2 Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Sudah sampai disitu saja aku mau bercerita, tapi kak Murni semakin bersemangat untuk mendengar. Berikutnya dia bertanya, “Bagaimana caranya biar manusia bisa berelasi lagi dengan Tuhan?” Aku dan teman KTB ku bergantian bercerita tentang inisiatif Allah untuk datang ke dunia demi kasihNya kepada manusia berdosa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Percakapan sore itu ternyata membawanya merenung sepanjang malam. Hari berikutnya, Kak Murni dan Rahel nginap di rumahku, seperti biasa dimana 3 wanita berkumpul pasti ada obrolan panjang yang membuat lupa akan kantuk. “Sejak aku dengar cerita kemarin, aku pulang ke rumah dan merenung ih baik kali lah Tuhan itu mau mengampuni dosa-dosaku. Aku punya pengharapan baru, kayak lahir baru lah aku rasanya. Gak pernah aku sebahagia ini rasanya. Aku selama ini memikirkan hal-hal duniawi, ada yang kosong di hatiku. Aku kerja keras tapi gak puas, aku mencari uang tapi gak pernah sebahagia ini.”
Sontak aku kaget dan menangis, kupeluk wanita nias itu Hahaha. Kudengarkan semua yang direnungkan dan dirasakannya. Kata-kata yang dilontarkannya seperti pengharapan baru, lahir baru, anugerah, membuat kami tercengang-cengang. Tidak ada kami bahas begitu komplit seperti yang dia ceritakan, tetapi kata-katanya mengalir seperti perkataan Roh. Dan satu hal lain yang membuatku yakin bahwa dia mengalami kelahiran kembali adalah kerinduannya mengenal Tuhan lebih dalam. “Ajaklah aku berdoa dan belajar firman”. Sepanjang sejarah penginjilan dalam hidupku: baru kali ini rasanya sangat natural dan mengalir. Bahkan aku yang terberkati lewat pengalaman rohaninya. Panjang sekali dia bercerita tentang hidupnya yang lama dan rasanya mengalami Tuhan saat ini. Aku terpesona melihat cara Tuhan bekerja. Sesungguhnya aku sudah sangat lama berdoa sejak ditugaskan di Pulau ini, agar bisa masuk dalam pelayanan gereja. Tetapi pandemi membuat banyak hal sulit dikerjakan, dan sampai di penghujung tahun rasanya aku tidak melakukan apa-apa dalam pelayanan. Ternyata, pengalaman kali ini membawaku pengertian baru akan pelayanan. Pelayanan bukan hanya di gedung gereja, atau organisasi rohani lainnya tetapi keseluruhan hidup kita melayani Tuhan; bekerja, bertetangga, bersahabat, berelasi dengan siapapun haruslah kita menjadi perpanjangan kasih Allah.
Kisah ini masih sangat hangat karena memang baru kami alami bersama-sama. Kisah yang menjadi penyemangat bagiku dan ucapan syukurku kepada Allah karena Dia tetap berkarya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dari kisah lahir baru kak Murni aku diingatkan betapa aku pun dulu pernah berapi-api ingin mengenal Tuhan. Kerinduan untuk mengenal Tuhan dan melayaninya sangat amat nyata. Tapi, sepanjang perjalanan ada banyak hal yang membuat hati berbelok ke arah yang lain. Pekerjaan, uang, keluarga, masalah dan lain hal yang menjadi alasan kita tidak berelasi hangat lagi dengan Tuhan. Doa yang sekedar, saat teduh yang sambil lalu, PA tidak lagi menjadi prioritas, dan disiplin rohani lainnya yang diabaikan. Ternyata kebiasaan buruk itu perlahan membuat kita semakin menjauh dari Tuhan.
Tahun baru identik dengan resolusi yang baru. Jika dihadapkan pada pertanyaan apa resolusimu? Apa jawab kita? Aku pikir sebagai orang percaya, layaklah kita mengevaluasi kedekatan kita dengan Tuhan sepanjang tahun yang telah berlalu. Sepantasnya kita memperbaiki diri kita agar semakin dekat lagi dengan Tuhan. Sebab Dia telah memberikan kita hidup yang baru, bukan untuk hidup bagi diri kita melainkan bagi Dia. Jika ketika pertama kali mengenal Tuhan, kita merasa mengasihi Tuhan dengan sangat, mengapa sekarang tidak? Pasti ada hal-hal yang harus kita tinggalkan dan lepaskan agar kita bisa puas dalam berelasi dengan Tuhan dan mengalami sukacita yang melimpah waktu demi waktu. Mari mengawali tahun yang baru dengan melibatkan Tuhan dalam perencanaan-perencanaan kita.
Happy New Year 🙂
Yuki Indah Sirait (FKG’12)
“Sekarang kita harus gimana?” Suara di ujung telepon terdengar sangat lirih dan putus asa.
Itu adalah suara Mamak yang menelpon aku. Mungkin sekitar 6 tahun yang lalu, saat aku masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat 2 di Universitas Sumatera Utara.
Beliau menangis dan aku hanya bisa diam serta ikut menangis pula, aku bahkan tidak tau harus memberikan kata-kata penghiburan seperti apa.
Masalah yang sama sekali tidak pernah kami duga. Hal ini bermula ketika beberapa orang debt collector dari sebuah Bank datang ke rumah kala itu. Mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka bahwa kami harus membayar utang sebesar 100 juta. Sebenarnya itu bukan utang keluarga kami, namun Paman ku (Adik dari Mamak) meminjam sertifikat rumah kami sebagai jaminan untuk melakukan pinjaman ke Bank beberapa bulan yang lalu sebagai dana untuk modal usaha. Tapi ternyata usaha beliau bangkrut dan tidak sanggup membayar cicilan ke bank. Pamanku pun sudah kabur dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Tentu saja kedatangan debt collector itu mengagetkan kami semua, karena ada persyaratan kalau kami tidak meneruskan membayar cicilan utang tersebut maka pihak Bank akan menyita rumah kami.
Sejak Bapak meninggal, keluarga ku hidup pas-pasan dari gaji Mamak yang adalah seorang PNS. Tidak berlebihan namun tidak bisa aku bilang sangat kekurangan. Terbilang cukup untuk biaya hidup kami sehari-hari, dimana aku dan adikku masih kuliah pada masa itu.
Beberapa hari kemudian, aku pulang ke rumah untuk mendiskusikan masalah ini dengan Mamak. Jujur, aku dan keluarga sangat kecewa dengan Paman ku. Aku dan keluarga juga sangat terluka, khususnya Mamak yang merasa dikhianati oleh orang terdekatnya. Pamanku dan keluarganya sama sekalli tidak bisa terlacak keberadaanya, beberapa kabar yang kami dengar mengatakan bahwa Pamanku dan keluarganya sudah pindah rumah dan istri Pamanku juga sakit akibat kebangkrutan usaha mereka. Mustahil rasanya untuk mendesak mereka membayar cicilan utang tersebut dengan kondisi mereka yang juga sangat terpuruk. Akhirnya aku dan Mamak bersepakat untuk membayar cicilan utang tersebut dengan konsekuensi belanja bulanan yang dikirimkan Mamak kepada ku akan di potong. Baiklah pikirku, daripada Mamak jatuh sakit, mungkin ini jalan yang terbaik. Puji Tuhan, saat itu aku juga mendapat beasiswa dari sebuah yayasan sehingga aku masih bisa melanjutkan perkuliahan (Yes, Tuhan sangat baik J).
Disaat diskusi dengan Mamak, ada kata-kata dan sikap Mamak yang sampai saat ini terus kuingat. Beliau berkata walaupun hatinya sangat sakit, Mamak mau memaafkan Pamanku dan memintaku untuk berdoa bersamanya. Doa kami supaya Pamanku dan keluarganya dalam keadaan baik dan kembali mencari Tuhan. Kebesaran hati Mamak untuk mengampuni mengingatkan aku tentang Kemurahan Hati Tuhan. Aku teringat akan Firman Tuhan yaitu Perumpamaan tentang Pengampunan dalam Matius 18 : 21-35. Tuhan kita telah berbelas kasih kepada kita, mengampuni bahkan melupakan kesalahan kita, apa hak kita untuk tidak melepaskan pengampunan kepada orang lain yang menyakiti kita? Saat itu aku pun meminta kepada Tuhan agar diberikan hati yang penuh kasih agar sanggup mengampuni sekalipun rasanya sakit sekali.
Setahun lebih, Pamanku masih belum diketahui keberadaanya. Sampai suatu ketika, Kakak Perempuan Mamak meninggal dunia. Aku dan Mamak datang ke acara tersebut dan di depan gedung itu aku melihat Pamanku. Akhirnya Pamanku muncul dan menampakkan dirinya. Dan tebak apa yang terjadi? Pamanku langsung memelukku erat sambil menangis. Aku tau walaupun kata ‘maaf’ tidak pernah keluar dari mulut Pamanku, hatinya pasti sangat menyesal. Aku pun membalas pelukan beliau dan menanyakan kabarnya. Mamak hanya bisa tersenyum haru melihat kami. Disaat itulah aku mengerti betapa besar artinya pengampunan dan bagaimana pengampunan bisa memulihkan hati yang terluka.
Sekarang kita memasuki Bulan Februari. Bulan yang selalu disebut-sebut sebagai Bulan Kasih Sayang. Banyak tradisi ataupun kebiasaan yang mungkin kita lakukan, seperti memberikan bunga, ucapan, coklat atau kado lain untuk orang-orang yang kita kasihi. Itu baik, tidak ada yang salah dengan hal itu. Lakukanlah, jika itu memang berasal dari kerinduan hati kita dan dapat menyenangkan hati orang-orang yang kita kasihi. Namun, dari pengalaman yang aku ceritakan tadi, aku belajar bahwa bukti terbesar dari Kasih ialah Pengampunan. Sama seperti Kristus yang menunjukkan Kasih-Nya dengan mengampuni kita manusia yang berdosa. Karena dosa, kita manusia sering sekali saling menyakiti, bahkan terkadang tanpa menyadari dan tidak ada niat sama sekali tapi nyatanya sering kali perkataan atau perbuatan kita melukai orang lain. Ketika membaca tulisan ini, apakah ada orang yang terlintas di pikiran kita? Orang yang harus kita ampuni maupun yang telah kita lukai? Jika iya, di bulan yang penuh kasih sayang ini, marilah kita mengasihi dengan mengampuni. Tuhanlah kiranya yang memberikan Kasih-Nya di hati kita agar kita rela mengampuni seperti Bapa Surgawi kita.
Ohya, anyway, puji Tuhan sekarang Pamanku sudah lebih baik secara finansial dan kembali melanjutkan pembayaran cicilan utang tersebut. Yes, Our God is Good dan waktu-Nya tetap yang terbaik. Tuhan Yesus meberkati!
Oleh: Penda Kaban (FT’12)
Dalam kehidupan sebagai profesional, baik pegawai/ karyawan dengan gaji rutin dan atau sebagai wiraswasta dengan kemandirian pengelolaan keuangan, sebagai seorang Kristen kita sering dihadapkan dengan situasi – situasi yang menjadi dilema bagi kita. Ketika ada begitu banyak tawaran dan godaan uang yang muncul di sekeliling kita dan banyak diantaranya yang sedemikian rupa begitu memikat hati dan pikiran manusiawi kita. Di tengah kebutuhan dan tantangan zaman di mana kesibukan dan prioritas hidup kita sering mengarah kepada hal- hal duniawi, kita seolah sering berada di persimpangan jalan untuk memutuskan apakah tujuan hidup kita masih tetap untuk mencari jiwa atau jangan- jangan sudah bergeser jauh kepada kesibukan mencari uang, demi gengsi dan kepuasan duniawi. Mari kita merefleksi diri atas respon atau reaksi kita ketika tawaran dan kesempatan menggiurkan itu datang kepada kita. Apakah kita secara tegas menolak, memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir dan menimbang- nimbang baik buruknya, atau justru tanpa berpikir panjang menerima dan ikut serta dalam suatu ketidakbenaran?
Bekerja adalah keniscayaan bagi setiap insan di muka bumi karena sejak Adam dan Hawa diusir dari taman Eden (Kejadian 3) manusia harus mengusahakan tanah di mana ia berada untuk melangsungkan dan mempertahankan kehidupannya. Dalam perkembangan zaman, nilai dan kualitas pekerjaan mulai disetarakan dengan uang yang nota bene merupakan alat tukar yang disepakati untuk menggantikan kebutuhan- kebutuhan hidup manusia. Bahkan dalam konteks persembahan, uang dikumpulkan untuk mendukung pelayanan dalam lembaga- lembaga persekutuan. Dengan adanya uang kegiatan pelayanan dapat didukung dan dimaksimalkan. Namun pertanyaannya, apakah dengan memberi persembahan, pelayanan sudah cukup? Mari kembali kita merefleksi diri kita, sudahkah kita memberi dengan kerelaan hati, bukan hanya uang kita, tetapi juga diri kita untuk melayani Tuhan? Dalam 1 Samuel 16: 7 digambarkan bahwa manusia melihat yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Konteks ayat ini menegur dan meneguhkan kita bahwa apa yang ingin kita buktikan kepada dunia tidak serta merta berkenan bagi Tuhan.
Tuhan memberi kita hati untuk melayani Dia, bukan karena kita layak tetapi karena Dia mengasihi kita. Mungkin sering agak susah dipahami, tetapi terkadang justru dalam ketidakmengertian dan ketidakberdayaan kitalah Tuhan ingin menunjukkan kuasaNya. Roma 11: 33 menyatakan betapa manusia tidak mampu menyelidiki keputusan- keputusan Allah dan tak terselami jalan- jalanNya. Maka dalam keterbatasan pengertian dan daya kita sudah sepatutnya kita bersyukur kalau Tuhan telah memanggil kita untuk melayani Dia. Bentuk respon kita atas kasih dan panggilan Tuhan itu pastinya termasuk dalam aktivitas pekerjaan yang kita tekuni saat ini. Pergumulan tentang godaan dan tantangan pekerjaan adalah keniscayaan dalam pekerjaan apapun di dunia ini. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita melihat pekerjaan kita sebagai bagian dari rencana Tuhan atas hidup kita termasuk panggilannya bagi kita untuk melayaniNya. Sehingga tujuan kita bekerja tidak dibatasi oleh ambisi mengumpulkan uang tetapi lebih jauh dari itu adalah sebagai kesaksian hidup dan persembahan diri kita sebagai pelayan Tuhan yang ditugaskan mencari jiwa untuk kemuliaan namaNya.
Ada banyak tokoh dalam Alkitab yang akhirnya jatuh ke dalam dosa karena uang diantaranya Akhan, Hofni dan Pinehas, Hizkia, Ananias dan Safira, dan Yudas Iskariot. Godaan uang sedemikian rupa membutakan mata hati manusia sehingga terkadang sampai melukai bahkan membunuh orang lain demi uang. Betapa kuat godaan iblis dalam representasi uang yang menyulut ketamakan manusia demi kepuasan duniawi. Apakah kita pernah atau bahkan mulai sering berada dalam keadan sedemikian lemah secara rohani sehingga seakan godaan mengumpulkan uang sudah mulai mengikis komitmen pribadi kita untuk memberi diri mencari jiwa bagi Tuhan? Mari kembali mengintrospeksi diri kita dan meminta kekuatan dari Tuhan agar hati kita diteguhkan dan pikiran kita dikuatkan kembali untuk mengutamakan Dia dalam hidup dan pekerjaan kita. Mari berjuang meneladani tokoh- tokoh Alkitab yang memberi kesaksian hidup yang benar tentang uang seperti Abraham, Raja Salomo, dan Paulus yang diberkati Tuhan dengan kekayaan dan kecukupan atas kesetiaan mereka kepada Tuhan. Abraham diberkati dengan kekayaan harta (Kejadian 13:2-3), Raja Salomo diberi hikmat oleh Tuhan untuk memperluas dan melipatgandakan kekayaannya (1 Raja- Raja 10:29; 2 Tawarikh 9: 3-14). Sementara Paulus dipelihara Tuhan dalam pelayanannya dengan bekerja sebagai pembuat dan penjual tenda, sehingga dapat menghidupi kehidupannya dan bahkan orang- orang yang ditemuinya dalam perjalanan pelayanannya. Maka, apabila komiten kita untuk memberi diri mencari jiwa bagi Tuhan adalah komitmen yang murni, maka keseluruhan hati dan pikiran kita akan kita condongkan kepada Tuhan dalam mengerjakan profesi kita. Tidak hanya mencari uang, tetapi terlebih utama menyenangkan hati Tuhan. Marilah kita bekerja mencari uang dan mencari jiwa dengan semangat seperti yang tertulis di Kolose 3:17 “Apapun yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh dia kepada Allah, Bapa Kita.” Amin.
Oleh: Leon Agusta, SS, M. Eng. Lit.
Mari kita mulai dengan sebuah cerita….
Pada suatu ketika ada TIGA BUAH POHON yang tumbuh di lereng suatu bukit. Mereka membicarakan harapan dan impian mereka.
POHON PERTAMA berkata, “Aku berharap aku akan menjadi suatu kotak harta yang berharga. Aku akan diisi dengan emas, perak dan barang berharga lainnya. Aku akan diukir dengan indah dan setiap orang dapat melihat keindahanku.”
Kemudian POHON KEDUA berkata, “Pada suatu ketika aku akan menjadi sebuah kapal yang perkasa. Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi samudera dan berlayar ke ujung dunia. Setiap orang akan merasa aman di dalam diriku.”
Akhirnya POHON KETIGA berkata, “Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang paling tinggi dan paling tegak di daerah ini. Orang dapat melihat saya di puncak sebuah bukit dan melihat ke cabang-cabang saya, dan berpikir betapa dekatnya aku dengan sorga dan Tuhan hingga bisa meraihnya. Aku akan menjadi pohon yang terbesar sepanjang zaman dan orang akan selalu ingat akan ku.”
Setelah beberapa tahun kemudian sekelompok penebang kayu datang ke situ. Ketika salah seorang penebang kayu datang ke POHON PERTAMA dan berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, aku kira aku dapat menjual kayunya pada seorang tukang kayu”. Ia pun mulai menebang pohon itu. POHON PERTAMA merasa bahagia, karena ia merasa tukang kayu itu akan membuatnya menjadi kotak harta yang berharga.
Pada POHON KEDUA salah seorang penebang kayu berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, aku tentu bisa menjualnya pada seorang tukang pembuat kapal.” POHON KEDUA juga merasa bahagia karena dengan cara itu ia mengira akan menjadi kapal yang perkasa.
Ketika penebang kayu itu sampai ke POHON KETIGA, pohon itu merasa cemas karena kalau ia ditebang maka impiannya tak akan menjadi kenyataan. Salah seorang tukang kayu berkata, “Aku tidak memerlukan hal-hal istimewa pada pohon ini, maka akan kuambil saja pohon ini,” ia pun menebangnya.
Ketika POHON PERTAMA tiba di tempat tukang kayu, tukang kayu itu membuatnya menjadi kotak makanan untuk hewan. Ia menaruhnya di sebuah kandang dan mengisinya dengan jerami. Pohon tu kecewa, ini sama sekali bukan hal yang diimpikannya.
POHON KEDUA dipotong-potong dan dijadikan sebuah perahu nelayan yang kecil. Impiannya untuk menjadi sebuah kapal yang perkasa yang membawa para raja haruslah berakhir.
POHON KETIGA dipotong menjadi potongan-potongan besar dan ditinggalkan dalam kegelapan.
Tahun-tahun pun berlalu, dan pohon-pohon itu sudah melupakan impian mereka.
Pada suatu hari, seorang laki-laki dan perempuan masuk ke kandang dan meletakkan seorang bayi di atas jerami dalam kotak makanan yang dibuat dari POHON PERTAMA. Orang laki-laki itu hendak membuat sebuah tempat tidur bayi dan palungan itu cocok untuk itu. POHON PERTAMA pun dapat merasakan pentingnya peristiwa itu dan tahu bahwa ia pernah digunakan untuk menaruh sesuatu yang paling mulia sepanjang segala zaman (Lukas 2:7).
Beberapa tahun kemudian, sekelompok orang menumpang kapal nelayan yang dibuat dari POHON KEDUA. Salah seorang di antaranya lelah dan tertidur. Ketika mereka sedang berada di tengah danau, mereka diterjang badai dan pohon itu merasa tidak cukup kuat melindungi orang-orang itu. Orang-orang itu membangunkan orang yang tertidur itu, dan Ia berdiri dan berkata, “Tenanglah” dan badai pun berhenti. Pada saat itu juga tahulah POHON KEDUA bahwa ia telah membawa Raja dari segala raja di perahu itu (Matius 8:23-27).
Akhirnya, datanglah seorang yang mengambil POHON KETIGA. Kayu itu dibawa sepanjang jalan oleh seorang dan orang-orang mengolok-olok orang yang membawa kayu itu. Ketika sampai di tujuan, orang itu dipaku pada pohon itu, ditegakkan dan Ia mati di puncak bukit. Ketika Minggu tiba, pohon itu menyadari bahwa ia cukup kuat berdiri di atas bukit itu dan berada sangat dekat dengan Tuhan, karena Yesus telah disalibkan di pohon itu (Matius 27; Lukas 23).
Apa yang ada dalam pikiran-mu saat ini?
“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan Ibuku” (13)
“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dasyat dan ajaib, ajaib apa yang Kau buat dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (14)
“Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satu pun dari padanya” (16)
“Dan bagiku betapa sulitnya pikiran-Mu ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” (17)
“Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (23)
Mazmur 139 adalah salah satu ayat favorit yang kerap saya baca untuk mengevaluasi kembali tentang apa yang harus saya lakukan, kapan saya melakukannya, mengapa saya melakukannya dan bagaimana saya melakukannya karena mengingatkan kembali SIAPA saya.
Ketika kita dibangku sekolah-kuliah, banyak hal-hal indah menjadi impian dan tujuan hidup kita. Saya prediksi sebagian besar diantara kita pasti memikirkan sesuatu dan menjadikan hal-hal yang luar biasa dan hebat dalam sudut pandang social sebagai IMPIAN kita.
Ketika kita mulai memasuki usia 20-an, banyak hal mulai berubah dan (bisa jadi) menyebabkan impian kecil kita pun turut berubah. Menjelang proses penyelesaian study di Kampus membuka gerbang awal menapaki realita kehidupan dimana tuntutan-tuntutan social lebih tinggi harus dihadapi.
“Kapan wisuda? Berapa IP Ketika lulus? Kapan kerja? Apa pekerjaanmu? Berapa penghasilanmu? Kapan menikah? Kapan punya anak? Apa sudah punya rumah? Mobil? Bla..bla..bla..”
Kemudian IMPIAN KECIL nan Optimis itu berubah menjadi Standar-Pesimis. Sebagian besar anak muda ter-distract dengan hambatan dan tantangan yang mereka hadapi dan berujung pada “Yasudahlah… asal bisa… bisa tamat? Bisa wisuda? Bisa kerja? Bisa hidup? Bla..bla..bla…”
Apakah KETIGA POHON salah memiliki impian sebagaimana tersebut di atas? Dan Apakah KETIGA POHON salah tidak dapat menjadi impian mereka di awal? Pada akhirnya KETIGA POHON menyadari mereka DIPAKAI LUAR BIASA.
Lingkungan dan kondisi social dari kita kecil mengasah pikiran kita untuk membuat patron-patron dalam batasan-batasan sekitar kita.
Pada akhirnya patron yang harus dijalani oleh anak-anak Tuhan adalah patronnya Allah. Tidak ada yang salah memiliki impian. Apa yang ada dalam pikiran kita, merupakan proses himpunan dari ilmu pengetahuan, wawasan, pengalaman dan karakter yang kita miliki sejak kita dalam kandungan.
Apakah kita pasrah saat kita tidak dapat memenuhi impiah kita? NOPE. Tidak ada yang salah (juga) ketika kita pada akhirnya belum memenuhi impian diawal ketika kita sudah berjuang dengan sungguh-sungguh pada limit yang kita miliki. Segala sesuatu bisa berubah, pasang-surut kerap terjadi dan Tuhan yang akan memurnikan motivasi dan impian kita serta mengembalikan kita pada Master Plan-Nya. Dia yang akan memampukan dan membekali kita untuk mencapai Kehendak-Nya bahkan ketika dunia mengklaim bahwa kita tidak cukup pantas untuk itu.
“Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (24)
Terima kasih untuk Tahun 2021 dan mari berjuang (lagi) untuk Tahun 2022. Apa pun yang kita hadapi saat ini dan apa pun yang menjadi kondisi kita, mari untuk tetap mengucap syukur dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita. Sulit?
Selamat Natal 2021 dan Tahun Baru 2022
Mariance Napitupulu (FT’09)
Pebedaan pendapat tidak dapat dihindari dalam kehidupan nyata kita, perbedaan pendapat ini biasanya dapat meningkat menjadi pertikaian/perselisihan. Pengamatan subjektif saya, sulitnya menyelesaiakan masalah pertikaian para pihak adalah bukan karena kurang pintar, tetapi karena kurangnya atau tidak adanya kerendahan hati. Menganggap diri paling tahu, paling berpengalaman, paling berkuasa, paling berjasa dan lain sebagainya. Kesediaan mendengar dan memahami menjadi sesuatu yang teramat sangat mewah. Tidak sedikit organisasi bisnis maupun pelayanan terganggu bahkan bubar karena salah seorang atau masing-masing menganggap diri sebagai orang yang paling penting dan perlu
Demikian halnya ditengah-tengah keluarga, tidak jarang terjadi pertikaian antara anak dengan anak, antara anak dan orang tua, dan antara pasangan suami istri. Pertikaian itu hingga tingkat yang sangat memprihatinkan: perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Tidak ada keluarga yang imun dari keadaan ini termasuk keluarga yang berasal atau yang dahulunya dibina dalam pelayanan mahasiswa.
Kita – sebagai alumni yang pernah dilayani dan melayani di Kampus – bisa saja dahulu sangat berapi-api, tetapi sekarang letih lesu, tidak berdaya, bahkan ‘lilinnya’ sudah padam. Kelihatannya tidak sedikit keluarga Kristen yang mengalami krisis keteladaan. Kenapa? Hal ini bisa saja terjadi karena kita tidak ‘tinggal’ didalam ‘pokok anggur yang benar’ (Yoh 15:1-8). Hubungan kepada Tuhan dan sesama menjadi tawar, mengabaikan hubungan pribadi dengan Tuhan; mengabaikan saat teduh atau pembacaan Kitab Suci. Kita tidak bersedia dibersihkan, sebaliknya mati-matian mempertahankan ego (baca: keangkuhan).
Padahal, kita pernah mengalami ‘jamahan’ Tuhan Yesus, mungkin kita pernah dengan menangis tersedu-sedu atau menyesali dan mengaku dosa-dosa kesombongan kita, memohon belas kasihan akan pengampunan dosa. Mungkin juga kita pernah menangis karena begitu sukacitanya mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, yang telah memindahkan kita dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Kita terpesona dan kagum akan anugerah keselamatan yang diberikan dengan cuma-cuma. Tuhan Yesus yang mulia datang dengan hina agar kita yang hina jadi mulia. Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Itulah sebabnya kita perlu terus belajar merendahkan hati kita dihadapan Tuhan, secara terus menerus memohon belas kasihan Tuhan agar hidup kita terus diperbaharui dari hari ke hari. Firman Tuhan dalam Filipi 2:1-11, memberi pelajaran bagi kita, agar semuanya berpusat kepada teladan Kristus yang telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dalam konteks ini ada tiga kali kata hendaklah yang digunakan dan dalam KBBI kata hendaklah berarti seharusnya:
Bagaimanakah keluarga kita dapat meneladani Yesus dan mengaplikasikan tiga prinsip hendaklah yang diatas? Tidak ada cara lain kecuali kita tetap tinggal pada pokok anggur yang benar. Kita harus tetap melekat pada pokok. Dalam perikop pokok anggur yang benar dalam Yoh 15:1-8 ada 7 (tujuh) kali kata tinggal, hal ini dapat dimengerti sebagai penekanan dan kita pahami sebagai hal yang penting. Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan tinggallah di dalam Aku, dan konsekwensi jika kita tidak tinggal di dalam Yesus adalah tidak dapat berbuah, dibuang seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan kedalam api lalu dibakar
Keteladanan adalah kata kunci dan harus dimulai dari diri sendiri. Kiranya kita dikenal oleh keluarga inti kita maupun keluarga besar kita sebagai orang yang mencintai Tuhan, sebagai orang yang takut akan Tuhan, orang yang meneladani Tuhan Yesus, dan melalui hidup kita Kristus dimuliakan. Oleh karena itu sesulit dan sesibuk apapun kita, jangan pernah mengabaikan hubungan pribadi dengan Tuhan. Jangan pernah mengabaikan pembacaan Kitab Suci dan kehidupan doa kita. Jikapun ada perbedaan ditengah-tengah keluarga, maka perbedaan bukanlah berkembang menjadi pertikaian atau perselisihan, tetapi melaluinya seluruh anggota keluarga secara bersama-sama dengan rendah hati mencari kehendak Tuhan dan mentaatinya. Sehingga jika ada yang berbuat salah, maka suami tidak perlu malu untuk meminta maaf kepada isteri, dan sebaliknya isteri kepada suami, demikian halnya antara anak dengan orang tua dan juga antara sesama anak.
Langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan keluarga adalah:
Akhirnya, apapun yang kita lakukan muaranya adalah agar mempermuliakan nama Tuhan sebagaimana yang tertulis dalam Yoh 15: 8, ”Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”
Hasudungan Limbong
Alumni FT USU, Ketua Pembina YLKA
Belajar dari Opa Simeon
Lukas 2:21-38
Kitab Injil Lukas mencatat tentang Simeon seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Ketika melihat Yesus dibawa masuk orang tua-Nya pada waktu penyerahan-pentahiran, Simeon menyambut dan menatang-Nya. Simeon seorang yang hidup dalam pengharapan dengan iman akan kedatangan Juruselamat. Hidup dalam penantian untuk melihat Sang Mesias yang dinubuatkan dalam Kitab Para Nabi di Perjanjian Lama.
Simeon mengenal siapa yang datang ke Bait ALLAH…
Saat Yusuf dan Maria datang ke bait ALLAH, Simeon langsung mengenal mereka. Padahal yang datang bukan dari keluarga yang kaya, dengan pakaian kemegahan pada zaman itu atau membawa persembahan dengan kambing atau domba. Karena orangtua Yesus tergolong orang yang sederhana dan miskin, mereka tidak mempersembahkan kambing atau domba (yang lebih mahal), mereka datang dan mempersembahkan sepasang burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati, yang dalam kitab Imamat 12:8 mencatat: “Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan seekor kambing atau domba, maka haruslah ia mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati jika mampu membawa seekor domba atau kambing…
Sepanjang hidupnya Simeon tekun menanti. Menanti dengan belajar Firman, mempelajari kitab-kitab para Nabi. Roh Kudus ada di atas Simeon, itu karena Simeon hidup benar dan saleh. Hidup benar dan saleh menurut standar ALLAH. Itulah sebabnya Roh Kudus juga yang membawa Simeon datang ke Bait ALLAH tepat pada saat Yusuf dan Maria membawa Yesus untuk pentahiran sesuai Taurat Musa. Sementara Yusuf dan Maria membawa Yesus untuk pentahiran adalah sesuai dengan perintah dan hukum taurat Musa untuk anak sulung yang berusia 40 hari untuk dikuduskan bagi ALLAH. Jadi kedua moment ini “diatur oleh ALLAH” untuk mempertemukan Simeon dan Yesus Kristus dalam bait ALLAH. Bukan kebetulan! Tetapi memang ALLAH menjawab penantian panjang Simeon.
Roh Kudus sudah menyatakan kepada Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Yesus. Dalam hal ini kita bisa melihat kepekaan Simeon karena hidupannya yang benar dan saleh kepada Tuhan. Keyakinan yang kuat akan penantian Sang Penghibur itu, Simeon pastinya semangat menjalani hari-harinya karena ia percaya pada ALLAH menurut waktu ALLAH untuk dipertemukan dengan Mesias.
Simeon bukanlah orang yang suci tetapi sebagai manusia yang berdosa. Bedanya adalah, Simeon hidup bergaul dengan ALLAH, sehingga mendapatkan tempat di hati ALLAH. Imannya yang teguh berharap akan kedatangan Juruselamat saja sudah menyelamatkan-Nya, sama seperti Abraham yang disebut bapa orang beriman. “Apakah bagi Simeon melihat Juruselamat adalah hadiah atau reward atas imannya akan Yesus?”. Yesus yang disambut oleh Simeon bukanlah anak biasa, Simeon yakin Yesus yang disambutnya adalah Juruselamat.
Kita bisa membaca bagaimana Nyayian pujian Simeon di Lukas 2:29-32, dan apa yang disampaikan Simeon kepada Maria adalah pernyataan iman bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi segala bangsa-bangsa. Lukas 2:29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,sesuai dengan firman-Mu,2:30 sebab mataku telah melihat keselamatanyang dari pada-Mu, 2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.
Kelahiran Yesus memberi kehidupan buat Simeon, semangat hidup untuk siap pergi dalam damai sejahtera. Karena seluruh hidupnya sudah berkenan kepada TUHAN ALLAH, dia melakukan apa yang menjadi bagiannya selama masa penantian, yaitu melakukan apa yang benar dan hidup saleh.
“Bagaimana dengan kita?”
“Apakah kelahiranNya memberikan kehidupan buat hidup kita secara Pribadi?”
“Sudahkah kita melakukan bagian yang seharusnya kita kerjakan selama hidup di dunia, yaitu hidup benar dan saleh?”.
Menyambut Natal ini, semoga kita kembali disegarkan akan makna kelahiranNya yang membawa kehidupan bagi saya dan saudara sekalian. Mari kita kabarkan Sukacita ini kepada sebanyak mungkin orang. Tuhan Yesus lahir membawa kehidupan, DIA Pemilik alam semesta merendahkan Diri-NYA sendiri dengan datang menjadi manusia untuk menyelamatkan umatNya dari hukuman kekal kepada kehidupan dan terang kekal. Amin…
Purwanto Siagian (Alumni MIPA)
Kota Wisata-Cibubur, 261122.
Latar Belakang Perjuangan Pendidikan di Indonesia
Ketika Kerajaan Belanda masuk ke Indonesia sebagai negara penjajah, maka seluruh tatanan aspek kehidupan bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan kerajaan Belanda pada masa itu. Sehingga rakyat Indonesia pada umumnya menjadi budak bagi kerajaan Belanda dengan menjadikan pekerja rodi untuk kepentingan negara mereka. Rakyat Indonesia pada masa itu tidak memiliki kebebasan penuh untuk bertindak. Termasuk dalam dunia pendidikan, bangsa Belanda pada awalnya sangat diskriminatif yaitu mendirikan sekolah-sekolah demi kepentingkan pendidikan anak-anak dan keluarga mereka dan membatasi anak-anak pribumi untuk mengecap jenjang pendidikan yang sama sehingga tingkat pendidikan anak-anak pribumi Indonesia tetap menjadi terbelakang. Bahkan tujuan pendidikan pada masa penjajahan Belanda hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan pemerintah Belanda dalam penyediaan tenaga kerja murah dan sekaligus sarana untuk menyebar luaskan kebudayaan Barat. Namun dalam sejarah perjuangan para tokoh pendidikan orang-orang pribumi, maka rakyat Indonesia dapat mengecap pendidikan di semua strata dengan baik hingga saat ini
Dilansir dari Kompas.com. Sejarah pergerakan beberapa tokoh pribumi yang beregerak dalam dunia pendidikan meskipun mereka masih dalam tekanan pengusa kerajaan Belanda pada masa itu, namun dengan berani mereka terus melakukan peregerakan tanpa takut dan terbukti menghasilkan hal terbaik bagi kita dan menjadi tonggak kemajuan pendidikan bagi bangsa Indonesia saat ini. Diantaranya ada pergerakan Budi Utomo yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 yang dipelopori beberapa mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen). Adapun Tokoh pendiri organisasi Budi Utomo, antara lain Dr. Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Namun Pendirian Budi Utomo tidak terlepas dari peran dr. Wahidin Soedirohusodo yang sering berkeliling ke kota-kota besar di Jawa untuk mengkampanyekan bantuan dana bagi pelajar pribumi yang berprestasi dan yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan. Adapun tujuan utama pergerakan Budi Utomo yaitu untuk menjamin kehidupan bangsa yang terhormat dengan fokus utama organisasi ini terletak pada bidang sosial, pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional yaitu setiap tanggal 20 Mei .
Berikutnya ada seorang tokoh wanita yang bergerak dalam memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh hak pendidikan dan hak-hak lainnya yang sama dengan pria. Tokoh tersebut bernama Raden Ajeng Kartini (RA Kartini). Kartini adalah merupakan putri tertua dari keluarga keturunan ningrat yang berada di Jepara, Jawa Tengah. Ia menyandang predikat sebagai kasta bangsawan. Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Sosroningrat. Pada masa kolonial, Kartini melihat perempuan terikat dengan norma-norma budaya patriartki yaitu peran perempuan dianggap tidak setara dengan laki-laki. Pemikirannya yang lugas menentang budaya turun temurun tentang peran perempuan yang lazimnya hanya menjalani kehidupan sebagai istri, ibu, dan dianggap tak mampu melakoni peran laki-laki. Perjuanganya berhasil sehingga terwjudlah kesetaraan antara pria dan wanita yang dikenal dengan adanya istilah emansipasipasi wanita hampir dalam seluruh bidang pendidikan, pekerjaan, organisasi, dll. Hasil perjuangannya ditetapkan sebagai hari besar negara yaitu Hari Kartini pada tanggal 21 April dan beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Selanjutnya ada lagi salah satu pejuang pendidikan yaitu Ki Hadjar Dewantara yang lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada zaman kolonial, ia melihat kebijakan Hindia Belanda hanya mempersilakan anak-anak kelahiran Belanda dan kaum priayi saja yang bisa menempuh pendidikan. Namun kaum pribumi lain tidak bisa menikmati pendidikan sekecil apapun. Kebijakan tersebut ditentang oleh Ki Hadjar Dewantara. Ia mengkritik kebijakan pemerintah kolonial sehingga ia diasingkan ke Belanda bersama dengan dua rekannya yaitu Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkusumo. Ketiganya kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Setelah Kembali dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau disebut Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lembaga pendidikan ini bertujuan untuk memberikan hak pendidikan yang sama bagi kaum pribumi dan rakyat jelata Indonesia dengan anak-anak keturunan Belanda dan kaum priyayi. Akhirnya perjuangannya berhasil sehingga kaum pribumi memiliki hak yang sama dalam mengecap pendidikan, dengan kaum priayi dan keturunan Belanda. Selain mendirikan lembaga pendidikan, ia juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisannya, Ki Hadjar Dewantara berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia ia diangkat sebagai pahlawan nasional dan hasil perjuangannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang ditetapkan sesuai tanggal kelahirannya yaitu tanggal 2 Mei.
Mengingat kesempatan pendidikan saat ini sangat luas dan telah diakomidir oleh pemerintah melalui adanya lembaga pemerintahaan yang khusus menangani dunia pendidikan melalui Departement Pendidikan Dan Kebudayaan. Maka kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh umat Tuhan untuk mengupgrade pengetahuannya dan mendorong anak-anak kita untuk dapat menempuh jenjang pendidikan dengan maksimal. Melalui pandangan Alkitab selaku umat Tuhan kita juga didorong untuk memiliki hikmat dan kepintaran. Peran orang tua dalam mejalani proses pendidikan bagi anak-anaknya sangat penting. Salah satu tokoh Alkitab yang memiliki kepintaran dan kebijaksanaan adalah raja Salomo. Hal tersebut diperolehnya ketika Allah memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta apa yang akan diberikan Tuhan kepadanya (1Raja3:5). Lalu ia meminta hikmat untuk menghakimi umat-Nya yang sangat besar (1Raja 3:9b). Lalu Allah memberikan hikmat kepada Salomo dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di laut (1Raja 4:29).
Christoph Barth (2016), mengatakan sejak zaman Daud terlebih dalam zaman Salomo, hikmat dikumpulkan, dicatat dan dikembangkan di kota kerajaan yaitu Yerusalem dan dijadikan sumber hikmat dan pengetahuan. Itu sebabnya FT dalam Yes.2:3b, “Dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem”. Sehingga banyak suku bangsa akan datang ke Yerusalem untuk beroleh pengetahuan khususnya pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan. Bahkan Salomo meskipun ia memiliki hikmat yang luar biasa, tetapi ia tetap memanggil orang-orang bijak menjadi penasihat-penasihatnya atau menjadi guru untuk anak-anak raja serta calon pegawai kerajaan. Sehingga secara lambat laun anak-anak para elit politik dan ekonomi masuk ke dalam sekolah istana. Mereka belajar membaca dan menulis, menggunakan bahasa dengan cara yang meyakinkan, melakukan perencanaan dan menghitung. Dengan proses belajar mengajar di lingkungan istana banyak orang akan mendapat ilmu pengetahuan baik pengajaran yang akan menambah ilmu pengetahuan yang akan mendatangkan Skill dan Knowledge maupun peningkatan kualitas sipiritual melalui pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan.
Bagi kita yang percaya kita tidak hanya sekedar meningkatkan intelektual yaitu memiliki kepintaran yang akan menambah logika berpikir yang dapat diperoleh melalui proses belajar mengajar atau pendidikan semata (to fill intelligence of the brain), tetapi harus memiliki hikmat yang bersumber dari takut akan Tuhan melalui peningkatan kualitas kerohanian. Sebab seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (intellectal intelligence) belum tentu memiliki hikmat jika orang tersebut tidak hidup di dalam ketaatan Firman Tuhan. Sebaliknya orang yang takut akan Tuhan akan dikaruniakan hikmat dan pengetahuan dan akan melakukan kebenaran dalam setiap langkah hidupnya. Ams.5:1-2, “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan”. Hikmat itu berasal dari Allah yang akan dikaruniakan kepada setiap orang yang takut akan Tuhan. “Sesungguhnya, takut akan Tuhan itulah hikmat dan menjauhi kejahatan itulah akal budi”.
Melalui mementum peringatan hari Kartini yang baru saja kita peringati bersama, mari kita terus berproses untuk meningkatkan kualitas diri yang akan meningkatkan komptensi melalui penambahan Skill and Knowledge dan juga mendorong anak-anak kita untuk dapat menikmati pendidikan secara optimal yang telah tersedia melalui kebijakan program pendidikan yang dikelola pemerintah terlebih lagi di zaman era digital ini (digitalisasi) yang sangat memudahkan untuk memproleh ilmu pengetahuan dengan segala jenisnya. Amin, TYM.
Oleh: Robert Pangaribuan (Alumni FEB)
Seiring berjalannya waktu beriringan dengan banyaknya hal-hal yang menjadi pelajaran dalam hidup. Dari anak-anak menjadi dewasa, dari minum asi hingga mampu mengkomsumsi makanan keras, selama itulah waktu berharga untuk belajar dalam hidup.
Lahir di dalam keluarga kristen bukan jaminan bahwa kita orang yang takut Tuhan. Tetapi banyak orang yang menjadi kristen sejati ketika mengalami suatu perjumpaan dengan Tuhan, atau ketika seseorang mengalami sesuatu kejadian dan sadar bahwa dia butuh Tuhan dalam hidupnya. Sama seperti Paulus yang awalnya pembenci menjadi pengikut Kristus.
Cara Tuhan bekerja mengerjakan bagiannya untuk kehidupan kita, tidak bisa di tebak atau diterka terka oleh pikiran kita. Tetapi apapun dan bagaimana pun bentuknya yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita adalah versi yang terbaik untuk kita.
Tahun 2015 adalah tahun dimana saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya secara pribadi, dan tentunya dari saat itu jugalah aku boleh meninggalkan hal hal yang tidak baik dari dalam diri saya. Hal paling besar yang terjadi di awal saya lahir baru adalah mengampuni ayah saya. Dan ternyata yang membuat saya terpuruk dan susah bertumbuh adalah akar pahit yang ada dalam diri saya. Setelah saya melepaskan pengampunan akhirnya saya mengerti kalau saya juga butuh diampuni, dan itu membuat beban hidup saya berkurang, hama yang selama itu ada dalam hidup saya akhirnya terbuang dan hama hama lainnya juga terbuang satu per satu.
Lahir baru itu ibarat pintu yang ketika kita masuk maka hidup kita berubah 180 derajat, bahkan harus berubah dari kehidupan sebelum lahir baru. Dan lahir baru yang terjadi di 2015 itu jugalah yang menghantarkan saya dalam pelayanan dan pekerjaan saya saat ini sebagai guru pedalaman. Bagi saya belajar Firman Tuhan itu tidak cukup hanya sebatas teori tetapi harus banyak penerapan. Apa yang kudapatkan selama kelompok kecil di mahasiswa harus saya kerjakan di dunia alumni.
Hidup di pedalaman itu tentunya banyak tantangan dan itu bukan hal yang mudah untuk di lewati. Perbedaan bahasa, agama, budaya, adat istiadat, bahkan makanan dan pola hidup sangat berbeda. Tetapi hal itu menjadi motivasi untuk mengerjakan kewajiban sebagai murid Kristus yaitu menjadi garam dan terang dan hidup menjadi berkat bagi orang lain. Mulai dari hal hal kecil yang kita lakukan hingga banyak orang akhirnya tersadarkan bahwa Tuhan itu bekerja dalam hidup kita dan menyertai kita selama di pedalaman dan dimanapun kita. Lewat cara kita hidup saja orang lain akan tahu dan memberi nilai kepada kita, bahkan sebelum kita menjelaskan dengan kata kata.
Sebagai pekerja marilah kita fokus kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan memberikan apa yang terbaik kita dapatkan. Bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk kita mengerjakan kewajiban kita yaitu melayani Tuhan. Dan tanpa Tuhan hidup kita tidak akan menjadi apa apa. Oleh karena itu marilah kita memberikan hidup kita untuk melayani Tuhan selama kita masih hidup.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Oleh: Hokkop Sianipar (FIB’15)
Tahun 2003 lalu, saya hendak melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Pekanbaru. Sembari menunggu panggilan masuk ke dalam pesawat, saya pun menyempatkan diri untuk mengobrol dengan seorang bapak yang sedang berada di ruang tunggu.
Tulisan ini, tentu tidak sedang membahas obrolan kami. Hanya mencoba mengenang satu kalimat yang pernah dilontarkan bapak tersebut, sebelum kami berpisah dan masuk ke dalam pesawat.
“Kalau boleh saya menebak, Bapak itu profesinya guru iya? Soalnya saya melihat gaya bicara dan cara berpakaian Bapak.“ Ujar beliau.
Hingga saat ini, kalimat pertanyaan yang sekaligus mengandung pernyataan tersebut, terkadang masih terngiang di telinga saya. Bahkan sering sekali menjadi perenungan bagi saya yang memang berprofesi sebagai guru. Padahal, nama dan wajah bapak itu saja, saya sudah lupa.
Awalnya, dalam benak saya bertanya. Memangnya, ada apa dengan cara berpakaian saya? Menurut saya tidak berbeda dengan yang lainnya. Apakah karena pakaian yang saya kenakan saat itu begitu sederhana alias tidak bermerek, lantas saya disebut guru?
Bagaimana pula dengan cara saya berbicara? Adakah yang spesial dari yang saya bicarakan, sampai-sampai bapak tersebut menyimpulkan kalau saya adalah seorang guru. Padahal selama pembicaraan, saya tidak pernah bercerita kalau profesi saya adalah seorang guru.
Seiring berjalannya waktu, saya pun mencoba memahami, dan memaknai melalui sebuah interpretasi tentang kalimat pertanyaan sekaligus pernyataan yang pernah dilontarkan bapak tersebut. Bahkan sering sekali menjadi pengingat bagi saya.
Seorang guru haruslah menjadi guru, kapan, dalam keadaan seperti apa, dan di mana pun berada. Dari seorang guru, sejatinya terpancar citra diri sebagai seorang pendidik. Identitas guru itu terus melekat ke mana pun dia pergi. Artinya, menjadi guru bukan hanya ketika di dalam kelas atau berada di lingkungan sekolah saja.
Jadi, ketika saya berbincang dengan seseorang yang baru saya kenal di ruang tunggu bandara pun, saya ternyata tetaplah guru. Siap dinilai oleh siapa pun. Tidak ada alasan, ketika saya bepergian, maka identitas guru itu saya tinggalkan di rumah.
Kalau bisa dianalogikan, guru itu memang layaknya “sebuah kota di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi”. Semua orang akan memandang dan melihat keteladanannya. Guru adalah sosok yang harus “digugu dan ditiru”. Guru haruslah menjadi sosok yang berintegritas, sejalan perkataan dan perbuatannya.
Kekuatan seorang guru sesungguhnya adalah teladannya. Yakinlah, bahwa keteladanan itu mampu berbicara. Ketika kata-kata nasihat tidak lagi di dengar oleh peserta didik, maka keteladanan seorang guru pun akan selalu dilihat dan diperhatikan.
Keteladanan seorang guru akan jauh lebih kuat daripada hardikan atau pun sejumlah sanksi yang diberikan kepada peserta didik. Keteladanan akan jauh lebih melekat daripada sekedar nasihat-nasihat yang panjang.
Menjadi teladan itu memang tidak mudah. Seorang guru pun harus terus belajar keteladanan dari waktu ke waktu. Sebagai seorang guru yang sudah berkecimpung di dunia pendidikan selama dua puluh enam tahun, baik di institusi non formal atau pun sekolah formal, saya mengakui bahwa untuk memiliki keteladanan yang baik itu butuh proses dan komitmen yang kuat. Bahkan adakalanya masih jatuh bangun untuk urusan keteladanan.
Karena itu, sebagai seorang guru Kristen, sejatinya kita harus terus belajar, terutama dari Sang Guru sejati kita, yakni Yesus Kristus. Ketika Yesus menjadi guru di antara murid-muridnya, Yesus pun menunjukkan keteladanan itu.
Dalam kitab suci, sesungguhnya sangat mudah kita menunjukkan tentang keteladanan yang pernah diajarkan Yesus.
Misalnya, menunjukkan keteladanannya dalam hal disiplin rohani (Markus 1:35), keteladanan tentang kerendahan hati (Filipi 2 : 6-8), keteladanan tentang kemurahan hati (2 Korintus 8 : 9), keteladanan agar tidak berbuat dosa (1 Petrus 2 : 22), keteladanan agar memberkati orang lain (Roma 12 : 14), keteladanan kesabaran (Roma 12 : 12), dan masih banyak lagi.
Nah, melalui momen Hari Guru Nasional (22 November 2022), sebagai seorang pendidik, saatnya kembali merenungkan dan memurnikan panggilan menjadi seorang guru. Mengevaluasi, apakah sudah menjadi guru yang sesungguhnya? Sudahkah menjadi teladan ketika menjalankan panggilan sebagai seorang guru?
Dan, sekadar mengingatkan tema Hari Guru Sedunia yang baru diperingati 5 Oktober 2022 lalu, ‘The transformation of education begins with teachers’. Bahwa transformasi pendidikan itu memang harus dimulai dari guru.
Mari selalu mentransformasi diri, menjadi teladan di mana pun berada, sehingga sebagai guru kita pun memiliki kekuatan untuk mendidik dan mengajar.
Selamat Hari Guru Nasional, buat sahabatku para guru yang mendedikasikan diri untuk kemajuan pendidikan di negeri kita.
(Thurneysen Simanjuntak, Guru dan Pegiat Literasi)
Sudah lama rasanya saya tidak menulis sebuah artikel renungan. Percaya bahwa segala sesuatu ada rencana Tuhan, saya pun mengiyakan permintaan menulis sebuah artikel dalam bulletin alumni KMK USU. Tema yang diminta adalah soal Gereja Yang Membangun Bangsa. Dalam perenungan singkat saya teringat firman yang menggerakkan saya akhirnya masuk dalam dunia politik, firman itu adalah sebuah kisah inspiratif Orang Samaria Yang Baik Hati.
Mungkin kisah Orang Samaria Yang Baik Hati bukan sekali atau dua kali kita dengarkan. Bisa saja sudah berkali-kali dan bahkan kita dalam sebuah kesempatan mungkin saja pernah membawakan renungan dengan kisah tersebut. Sebuah kisah yang membuat saya akhirnya masuk dalam dunia politik karena tidak bisa melakukan panggilan tersebut dengan status saya sebelumnya yang adalah seorang full timer Perkantas Riau.
Dalam kisah Orang Samaria Yang Baik Hati, Yesus membandingkan 3 orang dengan status yang berbeda dalam menghadapi situasi yang sama. Kisah ini Yesus ceritakan menjawab seorang ahli Taurat yang bertanya “siapakah sesamaku manusia?”. Yesus membandingkan tindakan seorang imam, seorang Lewi, dan seorang Samaria saat menemukan orang terluka dalam keadaan setengah mati. Imam dan Lewi melewati orang yang sekarat itu dari seberang jalan, tetapi orang samaria tergerak hatinya oleh belas kasihan.
Tidak terlalu detail kisah ini diceritakan oleh Yesus mengenai iman orang Samaria tersebut. Tidak juga detail menceritakan mengenai iman seorang Imam dan seorang Lewi tersebut. Tetapi yang diangkat oleh Yesus dalam menjawab pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” adalah sebuah tindakan atas dasar belas kasihan untuk menolong orang yang sekarat tersebut. Mungkin ada konflik budaya dan tradisi, tetapi semua itu bukanlah kepedulian Yesus bagaimana seharusnya kita mengasihi sesama. Mengasihi sesama adalah tindakan hati yang penuh belas kasihan.
Gereja (pribadi, organisasi, maupun bangunan) tidak akan pernah jadi mata air yang membangun bangsa tanpa disertai hati yang penuh belas kasihan. Membangun bangsa juga sama dengan tindakan mengasihi sesama. Haruslah bersumber dengan hati yang penuh belas kasihan. Terlebih melihat kondisi bangsa yang saat ini sedang mengalami pandemi Covid 19. Saling tolong menolong, saling membantu akan lahir dari Gereja yang penuh dengan belas kasihan.
Gereja sejak dahulu ikut membangun bangsa ini. Mulai dari masa merebut kemerdekaan sampai pada masa reformasi saat ini. Lalu gerakan apa yang bisa dilakukan gereja dalam membangun Indonesia masa kini?! Hanya satu kata, BERPARTISIPASI. Gereja harus berpartisipasi dalam membangun bangsa. Tidak pasif melainkan proaktif melakukan gerakan-gerakan mendukung pembangunan bangsa lebih baik ke depannya.
Hal yang bisa dilakukan secara pribadi adalah mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah selama masa pandemi dengan disiplin, saling mengingatkan dan menegur dengan sesama, dan saling menolong sebisa mungkin orang yang terdampak pandemi. Secara organisasi? Gereja bisa melakukan pembagian sembako atau paket obat dan vitamin bagi warga sekitar Gereja yang melakukan Isolasi Mandiri. Dalam konteks yang lebih besarnya, Gereja juga bisa melakukan vaksinasi atau melakukan terobosan menyiapkan tempat Isoman atau pasien OTG di asrama atau gedung serba guna yang bisa dialihfungsikan.
Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai Gereja untuk membangun bangsa ini. Melakukan partisipasi yang aktif yang digerakkan oleh hati yang penuh belas kasihan. Tanpa itu, maka Gereja hanya akan melewati setiap jaman melalui seberang jalan dan tidak peduli dengan kondisi bangsa yang membutuhkan bantuan. Yuk, jadi Gereja Yang Membangun Bangsa.
Oleh: Palti Hutabarat (FP’02)
Pada era tahun 70-80an Rinto Harahap mengeluarkan lagu yang terkenal, yang berjudul: “Lain Dulu Lain Sekarang”. Lagu ini menceritakan bagaimana perasaan penyanyi yang dulunya mengharapkan kekasihnya untuk hidup berdua selamanya, namun semua itu sirna saat sang kekasih telah dimiliki oleh pria lain, sehingga yang tersisa hanyalah luka. Dari lirik lagu ini dapat dilihat bahwa terjadi perubahan mendasar terhadap pria tersebut. Kenyataan hidup membuatnya berubah, baik perasaan maupun arah dan tujuan hidupnya.
Sebenarnya hal tersebut tidak hanya dialami di dunia percintaan, dalam kehidupan kerohanian pun dibutuhkan perubahan total, terkhusus ketika seseorang telah menyatakan bahwa ia percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Uniknya, setelah seseorang percaya, kehidupannya tidak cukup sampai di situ, namun ia juga harus menggali, menemukan dan menghidupi panggilan.
Apa Itu Panggilan? Apakah Semua Orang Percaya Memiliki Panggilan yang Sama?
Berbicara mengenai panggilan mungkin agak sedikit aneh bagi mereka yang belum percaya. Bagi mereka, hidup dapat dijalani sesuai dengan kemauan, cita-cita dan ambisi mereka semata tanpa melibatkan Tuhan dan bukan untuk Tuhan. “Aku belajar, aku bekerja keras dan akulah yang menikmati.” Hal itu pasti muncul dalam pikiran mereka. Hal tersebut sangat berbeda dengan orang-orang percaya apalagi untuk mereka yang sudah dibina sejak siswa, mahasiswa bahkan alumni.
Alkitab dari sejak Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menuliskan ribuan nama-nama, dengan latar belakang, status, umur, gender, profesi dan ras yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda-beda saat dimunculkan dalam teks alkitab. Uniknya, meskipun mereka berbeda-beda namun memiliki satu tujuan. Ingat, satu tujuan, yaitu menggenapi rencana Allah sehingga nama-Nya dipermuliakan oleh segala bangsa. Dari hal ini dapat dipahami bahwa setiap umat Tuhan diberikan mandat atau tujuan khusus dalam hidupnya untuk menggenapi rencana Allah, dimana masing-masing menemukan, memiliki dan menjalaninya secara unik. Hal inilah yang dapat disebut sebagai panggilan.
Lantas Bagaimana Menemukan Panggilan?
Salah satu tokoh alkitab yang akan penulis bahas dalam artikel ini adalah Paulus atau Saulus (nama lamanya). Saulus adalah tokoh legendaris yang hampir gagal menemukan panggilannya. Menurutnya, panggilan hidupnya sudah benar, kudus dan mulia, yaitu menganiaya dan menghabisi orang-orang percaya. Siapakah Saulus? Ia adalah orang yang hebat dan paling berbakti bagi Tuhan (Filipi 3:4b-7). Paulus dengan jelas mendaftarkan segala keistimewaannya sebagai manusia. Ada tujuh hal yang ia daftarkan yaitu: Pertama, disunat pada hari kedelapan. Mengapa Paulus menonjolkan hal ini? Artinya, orangtuanya merupakan orang Israel yang taat, yang patuh pada hukum Taurat, sebab sunat merupakan perintah Tuhan kepada Abraham dan kepada segala keturunannya, dimana setiap anak laki-laki disunat di usia delapan hari. Dengan demikian, sejak bayi Paulus sudah masuk dalam perjanjian Allah melalui sunat. Sejak bayi, ia sudah dibuat taat akan perintah Tuhan. Kedua, dari bangsa Israel. Kata “Israel” pertama kali muncul saat Yakub bergulat dengan Allah dan manusia dan ia menang (Kej. 32:28). Pada bagian selanjutnya, Allah menamai Yakub kembali sebagai “Israel” dalam peristiwa di Betel setelah membuat Mezbah bagi Allah. Tidak hanya dinamai tetapi juga Allah menyatakan janji untuknya, dimana keturunannya akan bertambah banyak, satu bangsa bahkan sekumpulan bangsa dan padanya akan berkumpul raja-raja serta negeri yang diberikan Abraham akan diberikan kepadanya dan keturunannya (Kej. 35: 10-12). Bukankah ini hal yang hebat dan patut dibanggakan? Allah sendiri yang menamai dan menjanjikan berkat-berkat. Satu-satunya bangsa di bawah kolong langit yang digambarkan secara istimewa. Ketiga, dari Suku Benyamin. Mengapa Paulus membanggakan hal ini? Alkitab mencatat bahwa di antara 12 suku Israel yang pecah, satu-satunya suku yang setia kepada Yehuda, kerajaan Daud adalah Benyamin. Jika dikilas balik lagi di zaman kerajaan, ketika mereka merubah teokrasi menjadi kerajaan yang dipimpin oleh manusia maka raja pertama yang Tuhan pilih adalah Saul, orang Benyamin itu. Jadi makin jelas, kebanggan Paulus. Keempat, orang Ibrani asli. Ini juga kebanggan bagi Paulus. Artinya nenek moyangnya taat pada perintah Tuhan untuk tidak melakukan perkawinan campur dengan orang-orang Kafir yang tidak mengenal Allah. Artinya, Paulus orang Ibrani tulen, bangsa pilihan itu. Kelima, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi. Artinya, ia ketat terhadap hukum Taurat. Orang Farisi adalah orang yang menjelaskan semua hukum Allah, pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti bahkan sampai ke hal-hal yang sangat kecil. Bagi mereka, Allah mengasihi orang yang taat hukum dan menghukum mereka yang tidak taat. Oleh karenanya, sampai detail yang terkecil dari hukum akan mereka perhatikan. Keenam, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat. Paulus sangat membenci orang Yahudi yang menyembah Tuhan di luar YHWH. Baginya, orang yang demikian harus dimusnahkan. Sebenarnya, ini sesuai dengan hukum di dua loh batu yang diterima Musa (Hukum I). Ketujuh, tentang kebenaran dalam mentaati Hukum Taurat aku tidak bercacat. Kata “tidak bercacat” yang dipakai adalah amemptos (ἂμεμπτος). Artinya, tidak pernah gagal ataupun lalai. Paulus ingin menunjukkan kesetiaannya. Ia pelaku dan tunduk penuh pada Hukum Taurat.
Perlu diperhatikan juga bahwa Saulus adalah murid berprestasi dari Gamaliel, seorang rabban (rabban, sebuah gelar yang lebih tinggi daripada rabbi) di kala itu, yang sangat dikagumi. Sejak masa mudanya, ia sudah dididik dan dilatih oleh Gamaliel. Inilah panggilan hidup Saulus, semata-mata untuk memuliakan Allah-nya yang ia kenal sejak kecil.
Apakah ini salah? Perlu dicatat, ia melakukan semuanya itu sesuai dengan panggilan hidupnya berdasarkan pemahaman Yudaismenya di saat itu. Penulis kira, gurunya, orantuanya bahkan teman-temannya pasti sangat menyukai dan mengaguminya.
Saulus, Saulus, Mengapa Engkau Menganiaya Aku?
Pertanyaan ini muncul saat Saulus sedang berapi-api dengan kegagahannya, dengan kudanya dengan surat kuasa yang legal yang ia minta dari Imam Besar untuk menganiaya dan memusnahkan jemaat Tuhan di Damsyik (Kis. 9:1-2). Saat itu Paulus sangat benci dengan orang-orang Israel yang menyembah Yesus karena baginya itu adalah kekejian sesuai dengan pengakuan iman (shema) mereka, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa (Ul. 6:4; shema Yisrael Yahweh elohenu Yahweh ekhad).” Allah Esa, hanya YHWH, tidak ada yang lain yang dapat disembah. Adapun kata yang digunakan untuk kata “menganiaya” adalah elumaineto (ἐλυμαίνετο). Kata ini memiliki arti melumatkan, seperti singa yang menerkam habis dan melumatkan makanannya. Bukankah dari hal ini dapat dilihat bahwa Saulus sangat membenci, haus dan sungguh-sungguh ingin memusnahkan mereka, karena kecintaannya kepada Allah yang sangat dalam?
Apakah benar ini panggilan Allah yang Paulus sembah selama ini? Jawabannya tidak! Allah yang ia pelajari, imani dan cintai sejak ia kecil bahkan bayi dimana ia sudah diikat dalam perjanjian dengan-Nya mengatakan, “Saulus, Saulus, Mengapa Engkau Menganiaya Aku? (Kis. 9:4b).” Kata-kata ini dan kebutaan yang dialaminya membalikkan semua keadaannya dan membuat ia percaya kepada Tuhan Yesus serta mengubah panggilan hidupnya. Ia pun memahami bahwa selama ini semua yang ia miliki dan tujuan hidupnya itu hanyalah sampah (Fil. 3:8). Ia dipilih Allah untuk menjadi rasul bagi non-Yahudi (Kis. 9:15; Gal. 2:9) meskipun tidak secara langsung menerima pengajaran dari Tuhan Yesus.
Dari kisah hidup Paulus, dapat dilihat bahwa menemukan panggilan itu sangat unik. Paulus harus buta dulu dan betul-berul jatuh sampai ke titik nol. Tidak hanya itu, segala pengakuan iman dan hukum-hukum yang ia pelajari habis diobrak-abrik oleh penglihatan di siang itu. Seorang monoteisme Yahudi berubah menjadi mengenal Allah Tritunggal dan menjadi rasul bagi Non Yahudi. Proses menemukan panggilan hidupnya sangat panjang. Paulus, secara tidak langsung Allah persiapkan di bawah didikan guru yang diakui di zaman itu, belajar semua kebudayaan Helenistik dan Romawi yang akhirnya dipakai Tuhan untuk rencana-Nya menjadi rasul non-Yahudi.
Tentu hal tersebut juga berlaku bagi semua orang percaya, menemukan panggilan hidup tidaklah instan. Masing-masing akan menemukannya secara unik, dalam proses yang panjang bahkan terkadang di awal salah memilih panggilan seperti Saulus. Namun, tidak perlu frustasi, saat Tuhan memanggil dan kerinduan hati adalah sungguh-sungguh ingin memuliakan-Nya, pasti Allah akan berkenan untuk menyatakan panggilan itu. Dengan demikian, tidak ada teori dalam menemukan panggilan. Allah menyatakan beberapa prinsip untuk menemukannya di alkitab dan semua itu adalah pengalaman rohani secara pribadi dengan Tuhan.
Panggilan biasanya tidak jauh dari latar belakang dan gifts yang Tuhan berikan bagi setiap orang percaya. Paulus dipilih menjadi rasul bagi non-Yahudi karena memang ia memiliki kemampuan akan hal itu. Ia tahu, belajar dan paham betul bahasa, dan kebudayaan Yunani, dan Romawi bahkan ia memiliki kewarganegaraan Romawi. Sementara Petrus, Yakobus dan Yohanes tidak memiliki kemampuan seperti Paulus. Setiap orang percaya sejak dini harus mengetahui dan menyadari segala kemampuan dan gifts yang Tuhan anugerahkan padanya. Dengan demikian memudahkannya untuk menemukan panggilan.
Bagaimana Menghidupi Panggilan?
Rasul Paulus mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Fil. 3:10). Fokus hidup Paulus adalah Kristus, penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Saya yakin, Paulus berhasil menunaikan tugas panggilannya karena hal ini. Tidak heran dalam menjalani panggilan yang berat, sukar dan senang, ia tidak pernah ingkar.
Suratnya kepada jemaat Korintus dikatakan bahwa ia disesah oleh orang Yahudi sebanyak 5 kali dimana dipukul 40 kurang satu pukulan (aturan taurat), 3 kali didera, 1 kali dilempari dengan batu, 3 kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut, dalam perjalanan sering terancam akan bencana banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak Yahudi dan Non-Yahudi, bahaya di kota, padan gurun, di tengah laut, dan bahaya dari saudara-saudara palsu. Ia banyak berjerih lelah dan bekerja berat, kerap tidak tidur, lapar dan dahaga, kerap kali berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Kor. 11:24-27). Dari hal ini dapat dipahami bahwa menjalani panggilan hidup tidaklah gampang, banyak rintangan, hambatan, kesusahan, kelaparan, dinilai salah, ditipu bahkan hampir di ambang maut. Akan tetapi ketika Kristus yang menjadi poros, komitmen untuk setia menjalani panggilan akan terus Tuhan mampukan.
Akibat kerja keras dan kesetiaan Paulus terhadap panggilan Tuhan dan dibarengi dengan perkenanan Tuhan kepadanya, ia dipakai Tuhan secara luar biasa. Ia tidak hanya menjadi misionaris yang telah merintis jemaat-jemaat non-Yahudi, ia juga menggenapi perintah Tuhan Yesus di kala itu, bahwa Injil harus sampai ke ujung-ujung bumi (Kis. 1:8). Kala itu ujung bumi adalah Roma, dalam pemenjaraannya di Roma, ia memberitakan injil. Injil sampai ke ruang lingkup kerajaan. Tidak hanya itu, dari ke-27 kitab Perjanjian Baru, 13 darinya adalah dari tangan Rasul Paulus yang sampai sekarang kita baca, hafal, imani bahkan diteliti oleh para teolog-teolog di bawah kolong langit. Bukankah ini sangat luar biasa?
Setiap orang percaya, mari gali panggilan kita, hidupi dengan penuh kesetiaan dan terus berpusat pada Kristus. Jangan letakkan dasar panggilan karena dunia, materi dan manusia. Semua itu akan membuat kita kecewa. Tanpa Kristus dan panggilan-Nya kita bukan apa-apa (nothing), namun ketika Kristus hidup dan menjadi pusat hidup kita dan menggerakkan kita menghidupi panggilannya, saat itulah kita dapat disebut orang percaya (to be something). Kristus yang memanggil, Kristus yang memberikan panggilan, Kristus yang memampukan dan pasti Kristus juga yang akan menguatkan. Dengan demikian, jadikan Kristus sebagai pusat kita menjalani panggilan, apapun panggilan kita. Ia berjanji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (20b).”
Oleh: Pdt. Marito Silalahi, S,Th.
TERSENDAT DALAM SATU PERTANYAAN YANG TERLIHAT SEPELE
Momen ketika pertama kali diwawancarai oleh 2 orang ahli sekaligus masih sangat membekas dalam ingatan saya. Momen itu terjadi di tahun kedua perkuliahan saya ketika mengikuti seleksi pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh salah satu donatur dari beasiswa yang saya terima. Orang-orang terbaik akan dipilih dari setiap PTN di Indonesia untuk mengikuti pelatihan yang akan dilaksanakan di Akademi Militer Magelang. Kala itu jumlah peserta dari USU yang memenuhi kriteria untuk mengikuti seleksi adalah 11 orang, dan yang akan dipilih hanya beberapa orang terbaik. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini, kami mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Beberapa kali sebelum hari pelaksanaan wawancara, kami sudah mengadakan pertemuan untuk berdiskusi bersama serta sharing dengan senior-senior yang sebelumnya sudah berhasil. Kami mendaftarkan sebanyak-banyaknya pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh interviewer. Kami kemudian mengisi jawaban masing-masing sesuai dengan daftar pertanyaan tersebut. Kala itu terdapat satu pertanyaan yang paling terakhir saya jawab dan memakan waktu yang cukup lama bagi saya untuk memikirkan jawabannya, yaitu “sebutkan kekuatan dan kelemahanmu!”. Saya merasa tersendat pada soal ini, setelah beberapa waktu berlalu saya berhasil menemukan beberapa poin kelemahan saya, namun kekuatan belum juga saya temukan. Pertanyaan tersebut memang terlihat sepele karena itu mengenai diri saya, saya seharusnya dapat menjawabnya dengan lancar, namun ternyata malah pertanyaan itulah yang paling sulit saya jawab.
BELAJAR UNTUK MENJADI VERSI DIRI YANG TERBAIK
Hasil seleksi keluar, saya dinyatakan “tidak lulus”. Perasaan sedih pun timbul, namun saya tetap berpengharapan dan saya tahu bahwa melalui ini pun Tuhan sedang mengajarkan suatu hal yang baik dalam perjalanan hidup saya. Pada malam setelah pengumuman tersebut, saya kemudian melakukan refleksi, mengingat-ingat kembali pada bagian mana yang mungkin membuat saya gagal, dan kemudian mengambil komitmen untuk memperbaiki diri. Salah satu langkah yang saya ambil saat itu adalah membuat notes di HP dengan judul “kekuatan dan kelemahanku”. Mulai saat itu, setiap menyadari kekuatan maupun kelemahan dalam diri, termasuk saat orang lain mengapresiasi maupun mengevaluasi saya, saya mendaftarkan semuanya. Seiring waktu berjalan, saya akhirnya menemukan puluhan poin “kekuatan dan kelemahanku”. Saya bersyukur, melalui daftar tersebut Tuhan menolong saat mengikuti kesempatan dari donatur lainnya, saya berhasil menjadi salah seorang peserta pelatihan kepemimpinan di Pangkalan TNI Angkatan Udara Yogyakarta bersama dengan perwakilan dari seluruh PTN dari Sabang sampai Merauke. Daftar “kekuatan dan kelemahanku” juga menolong ketika melamar pekerjaan, saya dengan lugas dapat mempresentasikan diri kepada HRD dari perusahaan yang saya lamar. Daftar tersebut terus saya update seiring bertambahnya pengenalan diri dan pengalaman hidup, hingga saat ini. Daftar tersebut juga menjadi salah satu cara bagi saya untuk memperbaiki diri, juga membantu saya menyadari bahwa dari banyaknya kelemahan, Tuhan juga memberikan kekuatan kepada saya, yang dapat terus saya asah dan optimalkan sehingga bisa menjadi versi terbaik dari diri ini.
MENGENALI DIRI LEBIH DALAM LAGI
Tidak jarang kita mendengar adanya mahasiswa yang merasa salah jurusan, bahkan pekerja pun ada yang merasa tidak cocok dengan pekerjaannya sehingga tidak menikmati pekerjaan dan bahkan sampai berulang kali resign dan gonta-ganti pekerjaan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, baik secara eksternal maupun internal. Mungkin faktor eksternal tidak dapat kita kendalikan, tetapi hal yang dapat kita kontrol adalah faktor internal, dari dalam diri kita. Salah satunya adalah dengan pengenalan yang benar akan diri. Ketika kita mengetahui kemampuan intelektual kita, lingkungan bagaimana yang cocok dengan kita, bidang apa yang dapat kita kerjakan dengan baik, apa yang kita senangi, apa yang paling membuat kita bergairah, apa yang paling menggelisahkan hati kita, apa panggilan kita, dan aspek lain sesuai dengan keunikan kita masing-masing, hal ini akan sangat membantu kita untuk memperoleh jurusan maupun pekerjaan yang tepat dengan kita. Pengenalan akan diri dapat kita lakukan dengan menggunakan metode tertentu, misalnya dengan mengikuti tes psikologi (psikotes), atau tes sederhana untuk pengenalan diri, atau bisa juga dengan cara bertanya kepada orang-orang yang mengenal kita dengan baik. Metode ini juga dapat kita gunakan untuk melihat kelebihan dan kekurangan kita. Mungkin saja masih ada yang belum menemukan kelebihan ataupun bakat di dalam diri, namun yakinlah bahwa Tuhan pasti sudah memberikannya kepada Anda. Berdasarkan pengamatan saya juga secara pribadi sejak tahun 2018 bekerja di bidang layanan psikologi, dan telah melihat hasil psikotes dari ribuan orang, saya sangat kagum akan Allah karena saya mendapati bahwa seseorang yang dikategorikan “bodoh” sekalipun, setidaknya orang tersebut pasti memiliki suatu kelebihan di bidang tertentu. Jadi tugas kita adalah untuk terus mencari dan menggalinya seiring dengan pengenalan kita akan diri kita sendiri. Salah satu contoh sederhana yang dapat kita praktekkan untuk semakin mengenali diri adalah Johari Window, yaitu sebuah cara untuk memahami diri melalui kesadaran diri sendiri dan feedback dari orang lain, cobalah menemukan dan mengisi setiap kuadrannya dalam versi diri Anda sendiri:

SEJAUH MANA SAYA HARUS BERUSAHA?
Salah satu momen yang menyebabkan terjadinya perubahan besar di seluruh dunia adalah pandemi covid-19, hal ini juga sangat mempengaruhi saya secara pribadi. Saya yang merupakan tipe orang terstruktur dan sulit menerima perubahan, dipaksa oleh kondisi untuk melakukan berbagai hal yang menuntut saya untuk fleksibel. Hal tersebut sangatlah sulit, saya sangat tidak nyaman ketika harus melakukan pekerjaan yang tidak familiar bagi saya. Namun ketika merefleksikan kembali mengenai apa yang saya alami saat itu, Tuhan menunjukkan kesadaran yang baru, ternyata jika saya mencoba dan terus berusaha, saya bisa melakukan hal yang sebelumnya saya kira tidak mampu lakukan, meskipun sulit dan tidak nyaman di awal. Ketika saya menerima dan menjalani tantangan yang ada, saya kemudian menemukan bakat baru dalam diri saya yang juga sangat mendukung pekerjaan saya sampai saat ini. Setelah di pikir-pikir lagi, ternyata di Alkitab juga terdapat orang-orang yang awalnya belum menemukan bakat luar biasa yang ada dalam diri mereka. Namun kemudian ketika mereka dipakai dan dibentuk Tuhan, mereka menjadi orang-orang yang hebat. Contohnya: Petrus yang bekerja sebagai penjala ikan ternyata memiliki bakat yang luar biasa dalam berkhotbah yang mampu mendorong begitu banyak orang untuk berubah dan bertindak, Daud yang seorang gembala ternyata memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memimpin, Musa yang menyatakan dirinya tidak pandai dalam berkomunikasi kemudian Tuhan pakai sebagai pemimpin bangsa Israel dan ternyata ia memiliki manajemen kepemimpinan yang sangat baik, dan banyak tokoh lainnya yang dapat kita baca di Alkitab. Kita bisa melihat bahwa mereka tidak secara spontan menjadi tokoh yang luar biasa seperti itu, mereka mengalami banyak pembentukan dan salah satu kuncinya adalah kemauan dan penyerahan diri. Dari kisah-kisah ini kita juga dapat melihat bahwa “seseorang bisa ahli dalam suatu bidang, asalkan mau terus berusaha dan berlatih”. Meskipun terdapat pengecualian dalam beberapa hal, seperti hal-hal dasar yang memang tidak bisa diubah. Salah satu contohnya adalah penyanyi, tidak semua orang bisa ahli dalam bernyanyi, ada jenis suara tertentu yang bagaimanapun dilatih akan tetap tidak bisa menjadi penyanyi. Lagi dan lagi, tugas kita adalah untuk terus mengeksplorasi dan menemukan kekuatan maupun bakat yang Tuhan berikan di dalam diri kita. Setelah kita tahu areanya, berikanlah waktu dan usaha untuk mengembangkannya, baik mengikuti kursus, belajar melalui buku maupun internet, atau dengan meminta bimbingan dari yang lebih ahli, kemudian teruslah berlatih.
UNTUK APA SAYA MELAKUKAN SEMUA INI?
Sesuai dengan teori multiple intelligence (kecerdasan majemuk), saya memiliki hasil yang paling dominan pada kecerdasan interpersonal, yang artinya saya memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik dalam memahami dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga didukung oleh minat saya pada social service, yaitu lebih menyukai kegiatan atau pekerjaan yang sifatnya menolong atau membimbing orang lain. Pengetahuan saya akan minat dan bakat yang saya miliki ini membantu saya untuk mencari pekerjaan dan wadah pelayanan yang tepat dengan saya. Saya bersyukur ketika Tuhan menunjukkan dan memberikan kesempatan demi kesempatan untuk saya melayani menggunakan talenta yang Tuhan berikan ini. Meskipun terkadang merasa lelah secara fisik, namun ketika mengerjakannya saya merasakan sukacita dan bahkan memperoleh kekuatan baru, terutama ketika saya bisa mendengar dan berbagi serta melihat senyuman dan tawa dari mereka yang saya layani. Jika kita memperhatikan lebih dalam lagi, dunia ini sangat membutuhkan kehadiran kita, anak-anak Tuhan, untuk mendatangkan kerajaan-Nya di dunia ini melalui talenta maupun profesi yang kita miliki, di berbagai bidang. Dalam 1 Petrus 4:10 dikatakan “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”. Kita bisa menjadi berkat melalui materi yang kita sumbangkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, tetapi mari kita ingat bahwa kita juga bisa menjadi berkat yang luar biasa bagi orang lain melalui bakat dan keahlian yang kita miliki, untuk kemuliaan nama Tuhan, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20). Tuhan masih memberikan kesempatan, belum terlambat untuk mengenali diri dan terus belajar mengembangkan diri, karena hal ini memang pembelajaran seumur hidup. Marilah terus mengoptimalkan apa yang sudah Tuhan percayakan bagi kita, aplikasikanlah, dan jadilah berkat lebih luar biasa lagi.
Oleh: Sri Mahati Hutabarat (Psikologi’15)
Membicarakan Demokrasi hampir sama tuanya dengan ide demokrasi itu sendiri, karena demokrasi secara intrinsik ada di dalam perjalanan teori dan praktik di tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak ada yang bisa secara gamblang-tuntas dan sempurna mendefenisikan teori dan praktik bagaimana demokrasi yang sesungguhnya, karena demokrasi tetap berkembang (maju dan mundur). Defenisi-defenisi yang diberikan tetap memiliki keterbatasan ketika diperhadapkan dengan pemikiran dan gugatan-gugatan tentang praktik demokrasi dalam berbagai bidang.
Berselisih, agregatif, asosiatif, kapitalis, Kristiani, klasik, komunikatif, konsensual, konstitusional, delegative, deliberative, developmental, perbedaan, langsung, diskursif, ekologis, ekonomis, electoral, elitis, global, akar rumput, yuridis, industrial, legal, mayoritarian, parlementer, partisipatif, milik rakyat, pluralis, presidensial, dll yang setidaknya ada 54 kata sifat yang dikatakan John S. Dryzek dalam buku TEORI POLITIK Handbook karangan Gerald F. Gaus dan Chandran Kukathas, yang mencoba menguraikan dan menjajarkan makna dari kata-kata sifat itu baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama untuk menggambarkan teori demokrasi dan ini tidaklah mudah.
Mengkaji apa arti dari kekuasaan ditangan rakyat saja sudah memiliki penterjemahan yang luas dan beragam secara teori dan praktik. Apakah kekuasaan di tangan rakyat berarti dipergunakan untuk memilih perwakilan atau dipergunakan untuk memilih langsung
pemimpinnya? Dan apakah pemimpin yang dipilih itu akan tunduk kembali kepada kekuasaan rakyat sepenuhnya??.
Maka dalam melihat Demokrasi, John Dunn menyatakan bahwa ‘teori demokratis adalah Esperanto moral pada sistem negara-bangsa sekarang , Bahasa yang mempersatukan semua bangsa, lebih jelas ditambahkan, “Bahwa demokrasi itu lebih mirip seperti pohon Natal, lambang positif yang dapat dipasangi semua benda bagus yang disukai’.
Demokrasi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman kemerdekaan yang dipraktikkan dalam penyusunan mukadimah yang menjadi pembukaan UUD 1945, dan mengalami diskusi yang saling memahami tentang ketidaksetujuan umat Protestan dan Katolik dan wilayah timur Indonesia, akan pencantuman kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang sudah tercantum dan ditandatangani Ir. Soekarno pada Piagam Jakarta tanggal 22 juni 1945. Namun dengan jiwa besar dan demokratis, Bung Hatta memahami kegelisahan tersebut, dan membuatnya menginisiasi pembahasan pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, dan akhirnya secara bersama-sama menerima penggantian kalimat tersebut dengan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang dicantumkan dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Negara kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut menghasilkan hukum publik yang bersifat nasional dan berlaku untuk seluruh penduduk dengan tidak memandang mayoritas dan minoritas.
Perkembangan Demokrasi pada waktu berikutnya adalah sejarah Panjang pembuktian demokrasi itu sendiri. Negeri ini Indonesia sendiri sudah menjalani jatuh bangun dan pengujian akan demokrasi. Tercatat beberapa kali penggantian demokrasi seperti demokrasi liberal parlementer, dimana peran presiden hanya sebagai kepala negara, sedangkan tampuk pemerintahan dijalankan oleh perdana Menteri. Dan demokrasi liberal parlementer ini berakhir dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang salah satu poinnya adalah bahwa Indonesia kembali pada Undang-Undang Dasar 1945.
Demokrasi terpimpin juga pernah berlaku di Indonesia, dimana cirinya adalah kekuasaan Presiden tidak terbatas, Presiden mempunyai hak untuk memilih anggota MPRS, DPRS dan
DPAS sesuai keinginan Presiden. Dan demokrasi terpimpin ini juga bubar bersamaan dengan diterbitkannya SUPER SEMAR 1966. Dan setelahnya adalah demokrasi PANCASILA hingga saat ini, demokrasi yang berdasar akan PANCASILA dan UUD 1945.
Demokrasi terus mendapat tantangan penyempurnaan baik oleh kemajuan zaman, keterbukaan, tuntutan emansipasi yang semakin kompleks karena Indonesia adalah sebuah negara dengan struktur masyarakat yang sangat heterogen dan sangat multikultur. Tercatat Negeri ini memiliki 1.340 suku, 718 bahasa daerah dan 6 Agama, yang harus diberikan akses dan kesempatan menyampaikan pikiran dan aspirasinya, untuk Indonesia.
Demokrasi yang berasal dari Bahasa Yunani dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuatan), dapat diartikan sebagai kekuatan rakyat, kedaulatan rakyat, dimana rakyat memiliki kuasa penuh atas negara. Defenisi demokrasi yang paling lazim kita dengar adalah apa yang disampaikan Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln, yang mengatakan demokrasi adalah merupakan suatu sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang diterjemahkan melalui PEMILU untuk memilih perwakilan dan juga pemimpin negara dan atau pemimpin pemerintahan.
Di Indonesia praktik demokrasi juga ditunjukkan dengan kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, juga jaminan negara atas kebebasan beragama dalam pasal-pasal pada UUD 1945.
Tentang Demokrasi walau tidak secara langsung tertulis di dalam Alkitab, namun di dalam ajaran kekristenan Alkitab banyak menggambarkan nilai-nilai demokratis. Dimulai dari bagaimana ALLAH memperhatikan semua orang dan bukan kalangan tertentu dan strata ekonomi tertentu atau jabatan dan pangkat tertentu, tapi ALLAH bahkan membela dan memperhatikan nasib orang miskin, orang tertindas dan memlihara mereka (band. Mazmur 146:5-9),
(Mzm 146:6) Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,
(Mzm 146:7) yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,
(Mzm 146:8) TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.
Juga Yesus mengajarkan akan ketaatan dan ketertiban dalam menggunakan hak dan kewajiban termasuk membayar pajak masing-masing sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah (band. Mrk 12:13-17). Masih banyak hal-hal positif atau nilai-nilai tentang demokrasi yang termaktub dalam Alkitab, seperti bagaimana dikisahkan dalam Nehemi 2:17 tentang perlunya kesatuan dan bekerjasama dalam membangun untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan bersama, seperti orang Israel yang membangun kembali tembok-tembok Yerusalem.
Karena itu umat Kristen patut mendukung sistem demokrasi, karena prinsip utama demokrasi adalah perlindungan terhadap hak azasi manusia maupun terhadap keberagaman.
Sikap yang harus ditunjukkan oleh orang Kristen di Indonesia adalah sikap Kritis Membangun. Salah satu type demokrasi adalah pengakuan terhadap Mayoritas, dan penerimaan dan penghormatan terhadap minoritas.
Secara presentase kesukuan maka suku Jawa di Indonesia bisa mencapai 41% (empat puluh satu persen) yang didominasi tinggal dipulau Jawa, dan Secara Agama, bahkan Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Dunia dengan jumlah penduduk sampai dengan 227 jta jiwa setara dengan 87,2% dari jumlah penduduk di Indonesia. Maka jika hitung-hitungan politik konvensional dengan memperhatikan Suku dan Agama, kita dapat memprediksi apa yang terjadi dengan demokrasi mayoritas.
Dalam hal ini orang Kristen harus tetap menjaga sikap Kritis bahwa tidak semuanya apa yang di tentukan oleh mayoritas adalah yang terbaik dan benar.
Hal kedua yang harus mendasari sikap orang Kristen adalah pemahaman bahwa orang Kristen hadir bukan hanya untuk orang Kristen saja, sebagaimana Yesus Kristus hadir adalah untuk semua orang (bangsa, suku, agama dll), Yesus juga mati adakah untuk semua orang.
Sikap ketiga adalah terlibat aktif (doa, daya, dana dan waktu) dalam politik umum atau praktis negeri dengan memberikan berbagai konstribusi konstruktif (ide, pikiran, karya dan kata) yang membawa penajaman, koreksi dan motivasi positif demi kemajuan Indonesia dan demokrasi Indonesia, ikut serta memperjuangkan kesejahteraan bangsa dan memberikan keteladanan bagaimana ber demokrasi yang dewasa matang dan berguna.
Referensi:
Teori politik (handbook), Gerald F. Gaus & Chandran Kukathas, 2012
Jalan Kemandirian Bangsa, Tim Ahli Seknas Jokowi, 2014
Re-Indonesianisasi, Dr. Stevri Indra Lumintang, 2009
Pergulatan kehadiran Kristen di Indonesia, Martin L. Sinaga, 2001
Oleh: Zubel Sitorus (Alumni FT)
Menjadi pribadi yang autentik di hadapan Tuhan adalah salah satu tujuan saya sebagai orang percaya yang telah diselamatkan. Ketika saya merefleksikan setahun terakhir, saya melihat banyak hal yang Tuhan tunjukkan sebagai kesempatan bagi saya untuk menjadi pribadi yang autentik. Pribadi yang jujur, apa adanya, berani mengeskpresikan rasa, tidak bertopeng, dan terbuka baik kepada Tuhan mau pun kepada diri sendiri sehingga orang lain pun dapat merasakannya. Tentunya bisa saja hal ini adalah bias yang saya anut karena hanya Tuhan yang dapat menyelami kebenaran hati saya. Namun, sepanjang perjalanan saya bersama Tuhan semenjak menerima Yesus Kristus (tahun 2003) sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, banyak hal yang dapat saya pelajari dan maknai sejalan dengan hikmatNya melalui Kitab Suci dan persekutuan dengan saudara seiman lainnya. Bahkan, firmanNya sangat menuntun saya menjadi pribadi yang autentik bersama Tuhan.
Autentik menurut KBBI adalah dapat dipercaya; asli; tulen; dan sah [1]. Sedangkan dalam bidang psikologi, autentisitas menjelaskan tentang seseorang yang menjalani kehidupan sesuai dengan jati dirinya, nilai-nilai pribadinya, dan bukan terpaksa mengikuti tuntutan masyarakat, seperti tekanan sosial, anjuran keluarga dan kewajiban semata [2]. Autentisitas adalah soal kehadiran, hidup di saat ini dan menjalaninya dengan keyakinan penuh. Orang yang autentik membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman dengan kejujurannya. Mereka orang yang memiliki integritas yang tidak diragukan [3]. Merujuk pada penjelasan di atas, bukankah demikianlah seyogyanya kita sebagai orang percaya? Bukankah Kristus menyatakannya dalam buah-buah roh? Apakah saya yang di keluarga, di pertemanan, di lingkungan tempat tinggal dan di kampus serta di tempat kerja adalah orang yang sama? Apa jati diri saya? Apa nilai-nail pribadi yang saya pegang dan apa sumbernya? Saya mengajak kita untuk merefleksikan sudah sejauh mana kita menjalani hidup yang autentik sebagai orang Kristen.
1. Akui Tuhan
Amsal 3:5-6 berkata “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Saya sadari tidak ada kekuatan yang dapat mengubah hati manusia selain kuasa Tuhan. Sepanjang tahun 2020 saya terus melatih diri saya untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Hal ini tidak mudah terlebih ketika kenyamanan yang selama ini diperoleh harus terguncang karena pandemi yang melanda dunia sehingga berdampak buruk terhadap banyak orang baik secara psikis, fisik dan ekonomi. Namun, pengalaman bersama Tuhan di waktu-waktu sulit sebelumnya, dan pendewasaan iman yang diperoleh saat itu malah bermanifestasi dengan luar biasa di kondisi pandemi. Hati ini seolah bersuara dan berkata, “Semua akan baik-baik saja. Lakukan saja yang terbaik darimu. Tuhan sudah banyak berkarya dan Dia tidak akan berhenti mengerjakan bagianNya.” Saya teringat akan beberapa alumni pelayanan yang saya temui masih menjadi orang yang tenang dalam masa sulit dan tetap menjadi berkat melalui sikap dan perilakunya secara konsisten. Mereka mengakui Tuhan dalam hidupnya.
2. Jujur dan Transparan
Orang Kristen yang autentik adalah orang yang terbuka, transparan, apa adanya dan jujur tentang masa lalu mereka dan kondisi yang mereka alami saat ini. Hal ini tentunya sejalan dengan kedewasaan rohani dan perjuangan untuk menghidupi nilai-nilai yang dianut. Walaupun seorang Kristen tampak tenang dalam masa sulit, dia tidak akan malu menjadi pribadi yang rapuh dan tidak akan menutupi kegelisahannya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang utuh di hadapan saudara seimannya, dengan segala kekurangan yang ada. Seberapa sering kita memakai topeng di hadapan saudara yang lain? Seberapa sering kita mencari aman untuk tidak menimbulkan ketidaknyamanan? Memang merupakan suatu tantangan mengikuti suara hati untuk jujur dan menjalan hidup yang transparan. Yeremia 17:9 mengingatkan kita dengan berkata: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?. Ayat ini mengingatkan saya untuk hati-hati dengan kebohongan-kebohongan putih yang dianggap wajar oleh beberapa orang sehingga akhirnya menjadi tabiat yang susah diubah.
3. Refleksi dan Bersyukur
Menjadi orang yang autentik melibatkan kemampuan untuk mawas diri dan memahami apa yang menjadi motivasi diri. Ayat Kitab Suci yang selalu mengajak saya untuk membiasakan melakukan refleksi adalah Roma 8:28 yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikanbagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggilsesuai dengan rencanaAllah.” Saya percaya apapun yang saya rencanakan dan kerjakan serta hasil yang didapatkan adalah sesuai dengan rencana Tuhan. Dalam pemahaman ini maka saya pun dapat menyampaikan rasa syukur saya kepada Tuhan walau hasil perjuangan saya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mendatangkan kebaikan adalah frasa yang luar biasa dalam ayat itu. Hal ini juga yang membantu saya untuk tidak pusing dengan standar yang diterapkan oleh orang lain kepada saya karena mereka tidak tahu makna yang ada. Sebagai orang Kristen, mengucap syukur adalah karakter yang idealnya sudah melekat pada diri kita. Pengorbanan terbesar di kayu salib sudah dilakukan. Apa lagi yang kita minta melebihi hal tersebut dari Yesus Kristus?
“Untuk menjadi autentik, kita harus memupuk keberanian untuk menjadi tidak sempurna dan rapuh. Kita harus percaya bahwa kita pada dasarnya layak untuk dicintai dan diterima sebagaimana apa adanya kita. Saya telah belajar bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk mengundang lebih banyak rahmat, syukur, dan kegembiraan ke dalam hidup kita selain dengan mempraktikkan autentisitas secara sadar. “- Brené Brown
Selamat Tahun Baru 2021. Bersama Tuhan kita menjadi umat Tuhan yang autentik dan semakin berdampak dalam karya kita masing-masing. Amin.
Referensi:
[1] KBBI, “Autentik,” 2020. .
[2] Wikipedia, “Authenticity (philosophy) – Wikipedia,” 2020. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/Authenticity_(philosophy). [Accessed: 29-Dec-2020].
[3] C. D. Connors, “The 5 Qualities of an Authentic Person – Personal Growth – Medium,” 2017. [Online]. Available: https://medium.com/personal-growth/the-5-key-ingredients-of-an-authentic-person-259914abf6d5. [Accessed: 29-Dec-2020].
Selama 17 tahun dalam pelayanan misi menjangkau STA, pertanyaan yang seringkali saya dengar adalah: mengapa orang Kristen mempercayai Yesus sebagai Tuhan yang mengampuni dosa dan menjadi Juru selamat? Bukankah Yesus hanyalah nabi? Perayaan Jumat Agung dan Paskah adalah sesuatu yang menggelikan dan tidak bermakna. Dalam percakapan dengan orang awam yang tidak percaya, kita akan mendengar: Yesus memang patut diteladani karena moral-Nya dalam kasih, keadilan sosial, supranatural yang dimiliki-Nya dalam mengadakan muzijat, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati. Hanya sebatas teladan moral, tetapi mempercayai Dia sebagai Tuhan adalah sesuatu yang musrik (mendustakan Allah, menduakan Allah, sesuatu yang dibenci dan dilaknat Allah). Kita juga banyak menjumpai orang Kristen (beragama kristen, bergereja, sekolah teologi, belajar Alkitab) tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Menurut mereka, Yesus hanyalah manusia biasa yang juga berdosa. Jikalau kitapun tidak meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan yang mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, maka sia-sialah kepercayaan kita. Seperti yang diungkapkan Paulus dalam 1 Korintus 15: 1: 2 – 4.
Dalam artikel ini, saya akan membukakan tentang Yesus adalah Tuhan dalam pribadi-Nya dan karya-Nya. Selain mengungkapkan keilahian Yesus Kristus, perlu juga kita memahami dan menyadari aplikasi doktrin ini dalam kehidupan kita. Memahami pribadi Kristus dan karya Kristus adalah dasar yang teramat penting dalam iman Kristen. Hal ini mendasari pemahaman soteriologi (doktrin keselamatan); karena jikalau Tuhan kita tidak sesuai seperti pengakuan-Nya, maka penebusan-Nya tidak sempurna.
Apakah Yesus Kristus hanya seorang nabi ? Nama “Yesus” dalam bentuk bahasa Yunani, berasal dari kata Ibrani yaitu Jehoshua, Joshua (Yos 1: 1; Za 3: 1), Jeshua (Ezr 2: 2) yang berarti seorang penyelamat atau Juru selamat. Nama ini berasal dari akar kata yasha’, bentuk hiphil hoshia’ yang artinya menyelamatkan. Sesuai dengan Mat 1: 21 “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Asal-usul kata lain adalah Jeho (Yehovah) dan shua yang artinya “membantu”[1].
Nama “Kristus” adalah nama jabatan sama dengan Maschiach (Mesias) dari akar kata mashach yang artinya “Yang Diurapi”. Yesus disebut Kristus berarti “Yang Diurapi” Zacharias Ursinus dalam buku on the Heidelberg Catechism[2] mengungkapkan, Yesus disebut Kristus karena Ia ditetapkan atau ditunjuk Allah Bapa dan Diurapi Roh Kudus untuk menjadi NABI, IMAM, RAJA.
Arti diurapi adalah:
Pengurapan hanya dilakukan untuk tiga jabatan tertentu yaitu, Nabi, Imam, dan Raja. Dua kriteria untuk menjadi seseorang yang diurapi telah digenapi Yesus yaitu: (1) ditetapkan atau dipilih oleh Allah sendiri (Yoh 7: 28-29; Ibr 1: 1-4), (2) diberikan karunia-karunia untuk melakukan tugas-tugas jabatan tersebut. Yesus Kristus memiliki tiga jabatan tersebut sekaligus :
Nabi adalah jabatan yang ditunjuk oleh Allah untuk menerima ‘rahasia-Nya’ atau ‘perkataan-Nya’ untuk disampaikan kepada seseorang atau suatu bangsa (1 Raj 22: 19; Yer 23: 22; Am 3:7). Nabi disebut Abdi Allah, (Kel 3: 1-4:17; Yes 6; Yer 1: 4-19; Yeh 1-3; Hos 1: 2; Am 7:14-15; Yun 1:1), pelihat (1 Taw 29: 29; Yes 30: 10). Yesus Kristus sebagai Nabi untuk menyatakan Allah dan seluruh kehendak-Nya (Yoh 1: 18; 8: 26). Untuk memulai dan memelihara pelayanan Injil. Untuk membangkitkan dan mengutus para nabi, rasul, guru, dan semua pelayan gereja; untuk memperlengkapi mereka dengan karunia-karunia lain yang dibutuhkan (Ef 4: 11; Luk 11: 49; 21: 15; 1 Pet 1: 11). Mengajar anak-anak Tuhan secara efektif dalam hati mereka melalui Roh Kudus yang memberi iluminasi kepada pikiran mereka dan dengan Injil menggerakkan hati mereka kepada iman dan ketaatan (Mat 3: 11; Luk 24: 45; Ef 5: 26; Mrk 16: 20; Kis 16: 14; 14: 3).
Imam adalah jabatan mulia yang tertinggi dalam agama Yahudi yang berkaitan dengan ibadah. Imam besar ditunjuk oleh Allah dan dipercaya sebagai wakil umat di hadapan Allah serta berperan sebagai pengantara yang kudus antara umat dengan Allah. Imam mempunyai hak khusus untuk datang menjumpai Allah dan berbicara serta bertindak atas nama umat-Nya. Yesus Kristus sebagai Imam mengajar hukum-hukum Allah kepada manusia melalui Roh Kudus dan menggerakkan hati mereka untuk taat (Yoh 14: 26). Mempersembahkan korban yaitu diri-Nya sendiri sebagai tebusan bagi dosa-dosa dunia (Ibr 2: 17, 7: 26-27). Bersyafaat terus-menerus bagi kita kepada Allah Bapa (Ibr 9: 15-24). Mengaplikasikan pengorbanan-Nya kepada umat pilihan-Nya melalui karya Roh Kudus yang melahirbarukan dan memimpin mereka (Tit 3: 4-7). Karya keimaman Kristus paling jelas disebutkan dalam surat Ibrani. Sang Pengantara yaitu Kristus sebagai satu-satunya Imam Besar yang sempurna, kekal dan ditunjuk oleh Allah sendiri, yang mengambil tempat orang berdosa, dan mengorbankan diri-Nya (Ibr 5: 5, 9: 14, 10: 11-14, 19: 22).
Raja dalam bahasa Yunani basileus berarti penguasa pewaris pemerintah yang sah, pembimbing kehidupan rakyatnya melalui keadilan atau ketidakadilan. Menurut Plato, raja dianggap pembuat kebajikan, kemauannya adalah hukum. Yesus Kristus sebagai Raja untuk memerintah gereja-Nya, dengan Firman dan Roh Kudus (Yes 9: 6-7; Ef 1: 21-22; Flp 2: 9-11; 2 Tim 3: 16-17). Untuk memelihara dan melindungi orang percaya dari musuh-musuh, memberikan perlengkapan senjata rohani (Luk 1: 32-33; Yoh 10: 28; Ef 6: 13-18). Menghakimi (Yoh 5: 22-27; 17: 2), melimpahkan ke atas gereja-Nya karunia-karunia dan kemuliaan, membebaskan dari segala kejahatan, mengontrol, mengalahkan, serta menaklukkan dan menghukum musuh-musuh-Nya (Mrk 13:26; Why 17: 14, 19: 16, 19-21), kerajaan-Nya kekal (Why 11:15).
Hanya Yesus yang menggunakan jabatan Kristus “Yang Diurapi”. Para nabi, imam, dan raja di Perjanjian Lama juga diurapi dalam memangku jabatan mereka (Kel 29:7; Im 4:3; Hak 9: 8; 1 Sam 9:16, 10: 1, 24: 10; 2 Sam 19: 10) namun tidak berhak memiliki gelar/jabatan ‘Kristus’. Mereka mempunyai satu atau dua jabatan tetapi tidak ada satupun yang memiliki ketiganya sekaligus, karena hanya Yesus yang memiliki ketiga jabatan tersebut sekaligus. Sehingga Yesus adalah Kristus sang Mesias yang ditetapkan dan dijanjikan Allah sejak kekekalan (Yes 11: 2, 42: 1) untuk menebus dosa manusia dan telah dinubuatkan oleh para nabi (Mik 5: 1-3; Za 6: 9-15, 9: 9, 12: 10; Yes 7: 14, 9: 5, 52: 13-53: 12; Mzm 22: 16-18; ). Secara historis tergenapi dalam Perjanjian baru (Mat 3: 16; Mrk 1:10; Luk 3: 22; Yoh 1: 32; 3: 34).
Apakah Yesus memiliki natur Ilahi? Apakah Yesus adalah Tuhan?
Orang percaya meyakini Alkitab sebagai firman Tuhan yang tidak bersalah. Alkitab mencatat bukti-bukti keilahian Kristus yang sama dengan YHWH. Yesus Kristus adalah Firman logos yang telah menjadi manusia (Yoh 1: 1-3, 14, 18, 3: 16-18). Kristus adalah Allah yang sudah ada dari kekekalan sampai ke kekekalan (Yoh 8: 58, 17: 5; Kol 1: 16-19; Ibr 1:2; 1 Yoh 4: 3). Yesus Kristus Anak Allah adalah pribadi yang berbeda dari Allah Bapa, Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu (1 Yoh 5: 7; Kej 1: 26; Yoh 10: 30). Yesus Kristus setara dengan Allah Bapa (Yoh 3: 35-36, 5: 19-27; Kis 2: 36; 1 Yoh 1:3); Mahahadir (Mat 18: 20, 28: 20), Mahatahu (Mat 16: 21, Luk 6: 8; Yoh 4:29), Mahakuasa (Mat 28: 18, Mrk 5: 11-13); Berasal dari surga (Yoh 3: 13), datang dari Allah dan kembali kepada Allah (Yoh 13:3). Yesus Kristus adalah Tuhan, memberikan hidup kekal (Yoh 17: 2; Kis 10: 36; Rom 14: 9; Flp 2: 11), Allah Bapa dan Anak bekerja bersama untuk satu tujuan (Yoh 5: 17, 6: 37-40, 10: 35-38). Kelahiran Yesus Kristus (Mat 1: 18 – 25) dari anak dara Maria adalah karya Roh Kudus yang ajaib, bukan hasil persetubuhan manusia berdosa tetapi oleh Roh Allah. Ini menjelaskan ketidakberdosaan Kristus sebagai manusia.
Keyakinan dan pemahaman keilahian Kristus adalah dasar dari iman kita. Kualitas iman akan sangat berpengaruh pada pikiran, perasaan, dan perbuatan kita. Jikalau kita ragu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, tentulah sia-sia menjadi orang Kristen, karena kita akan termasuk golongan yang dibinasakan. Mempengaruhi kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan degenap akal budi, kasih kita kepada orang lain. Mempengaruhi kita dalam ketaatan melaksanakan amanat Agung-Nya untuk memuridkan semua bangsa menjadi murid Kristus. Kualitas pemahaman kita tentang Kristus juga mempengaruhi ketaatan pada firman Tuhan dan kesediaan menjadi tanah yang gembur supaya firman Tuhan tumbuh dan berbuah dalam hidup kita. Mempengaruhi sikap hati kita dalam menyembah-Nya, doa-doa kita. Juga akan mempengaruhi kesungguhan dan tanggung jawab kita melawan kedagingan dan kuasa dosa. Ketundukan pada pimpinan Roh Kudus dalam setiap aspek dan waktu kita (dalam pekerjaan, pelayanan, keluarga, relasi, dsb) untuk merebut waktu-waktu yang jahat menjadi kemuliaan bagi Allah. Menjadi orang percaya bukan lagi hanya membedakan mana yang benar dan salah, tetapi membedakan dan memilih mana yang terbaik dari yang baik, mana yang maha kudus dari yang kudus. Firman Tuhan dalam Ibrani 4: 12 mengingatkan kita “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sum-sum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Apa perbedaan orang percaya dengan Setan? Orang percaya mengenal dan meyakini Kristus adalah Tuhan dan firman-Nya. Setan pun mengenal dan percaya Kristus adalah Tuhan dan firman-Nya. Perbedaannya adalah Setan tidak mempercayakan dirinya untuk taat kepada Tuhan, sedangkan kita orang percaya menyerahkan diri kita sepenuhnya (pikiran, perasaan, dan perbuatan) untuk tunduk dan taat kepada Tuhan.
[1] Louis Berkhof, Teologi Sistematika Volume 3: Doktrin Kristus, (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996), 24.
[2] Zacharias Ursinus, On the Heidelberg Catechism, Q31, RDA: 432-438.
Oleh: Tetti Tamba (Alumni MIPA)
Latar Belakang Perjuangan Pendidikan di Indonesia
Ketika Kerajaan Belanda masuk ke Indonesia sebagai negara penjajah, maka seluruh tatanan aspek kehidupan bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan kerajaan Belanda pada masa itu. Sehingga rakyat Indonesia pada umumnya menjadi budak bagi kerajaan Belanda dengan menjadikan pekerja rodi untuk kepentingan negara mereka. Rakyat Indonesia pada masa itu tidak memiliki kebebasan penuh untuk bertindak. Termasuk dalam dunia pendidikan, bangsa Belanda pada awalnya sangat diskriminatif yaitu mendirikan sekolah-sekolah demi kepentingkan pendidikan anak-anak dan keluarga mereka dan membatasi anak-anak pribumi untuk mengecap jenjang pendidikan yang sama sehingga tingkat pendidikan anak-anak pribumi Indonesia tetap menjadi terbelakang. Bahkan tujuan pendidikan pada masa penjajahan Belanda hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan pemerintah Belanda dalam penyediaan tenaga kerja murah dan sekaligus sarana untuk menyebar luaskan kebudayaan Barat. Namun dalam sejarah perjuangan para tokoh pendidikan orang-orang pribumi, maka rakyat Indonesia dapat mengecap pendidikan di semua strata dengan baik hingga saat ini
Dilansir dari Kompas.com. Sejarah pergerakan beberapa tokoh pribumi yang beregerak dalam dunia pendidikan meskipun mereka masih dalam tekanan pengusa kerajaan Belanda pada masa itu, namun dengan berani mereka terus melakukan peregerakan tanpa takut dan terbukti menghasilkan hal terbaik bagi kita dan menjadi tonggak kemajuan pendidikan bagi bangsa Indonesia saat ini. Diantaranya ada pergerakan Budi Utomo yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 yang dipelopori beberapa mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen). Adapun Tokoh pendiri organisasi Budi Utomo, antara lain Dr. Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Namun Pendirian Budi Utomo tidak terlepas dari peran dr. Wahidin Soedirohusodo yang sering berkeliling ke kota-kota besar di Jawa untuk mengkampanyekan bantuan dana bagi pelajar pribumi yang berprestasi dan yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan. Adapun tujuan utama pergerakan Budi Utomo yaitu untuk menjamin kehidupan bangsa yang terhormat dengan fokus utama organisasi ini terletak pada bidang sosial, pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional yaitu setiap tanggal 20 Mei .
Berikutnya ada seorang tokoh wanita yang bergerak dalam memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh hak pendidikan dan hak-hak lainnya yang sama dengan pria. Tokoh tersebut bernama Raden Ajeng Kartini (RA Kartini). Kartini adalah merupakan putri tertua dari keluarga keturunan ningrat yang berada di Jepara, Jawa Tengah. Ia menyandang predikat sebagai kasta bangsawan. Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Sosroningrat. Pada masa kolonial, Kartini melihat perempuan terikat dengan norma-norma budaya patriartki yaitu peran perempuan dianggap tidak setara dengan laki-laki. Pemikirannya yang lugas menentang budaya turun temurun tentang peran perempuan yang lazimnya hanya menjalani kehidupan sebagai istri, ibu, dan dianggap tak mampu melakoni peran laki-laki. Perjuanganya berhasil sehingga terwjudlah kesetaraan antara pria dan wanita yang dikenal dengan adanya istilah emansipasipasi wanita hampir dalam seluruh bidang pendidikan, pekerjaan, organisasi, dll. Hasil perjuangannya ditetapkan sebagai hari besar negara yaitu Hari Kartini pada tanggal 21 April dan beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Selanjutnya ada lagi salah satu pejuang pendidikan yaitu Ki Hadjar Dewantara yang lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada zaman kolonial, ia melihat kebijakan Hindia Belanda hanya mempersilakan anak-anak kelahiran Belanda dan kaum priayi saja yang bisa menempuh pendidikan. Namun kaum pribumi lain tidak bisa menikmati pendidikan sekecil apapun. Kebijakan tersebut ditentang oleh Ki Hadjar Dewantara. Ia mengkritik kebijakan pemerintah kolonial sehingga ia diasingkan ke Belanda bersama dengan dua rekannya yaitu Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkusumo. Ketiganya kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Setelah Kembali dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau disebut Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lembaga pendidikan ini bertujuan untuk memberikan hak pendidikan yang sama bagi kaum pribumi dan rakyat jelata Indonesia dengan anak-anak keturunan Belanda dan kaum priyayi. Akhirnya perjuangannya berhasil sehingga kaum pribumi memiliki hak yang sama dalam mengecap pendidikan, dengan kaum priayi dan keturunan Belanda. Selain mendirikan lembaga pendidikan, ia juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisannya, Ki Hadjar Dewantara berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia ia diangkat sebagai pahlawan nasional dan hasil perjuangannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang ditetapkan sesuai tanggal kelahirannya yaitu tanggal 2 Mei.
Mengingat kesempatan pendidikan saat ini sangat luas dan telah diakomidir oleh pemerintah melalui adanya lembaga pemerintahaan yang khusus menangani dunia pendidikan melalui Departement Pendidikan Dan Kebudayaan. Maka kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh umat Tuhan untuk mengupgrade pengetahuannya dan mendorong anak-anak kita untuk dapat menempuh jenjang pendidikan dengan maksimal. Melalui pandangan Alkitab selaku umat Tuhan kita juga didorong untuk memiliki hikmat dan kepintaran. Peran orang tua dalam mejalani proses pendidikan bagi anak-anaknya sangat penting. Salah satu tokoh Alkitab yang memiliki kepintaran dan kebijaksanaan adalah raja Salomo. Hal tersebut diperolehnya ketika Allah memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta apa yang akan diberikan Tuhan kepadanya (1Raja3:5). Lalu ia meminta hikmat untuk menghakimi umat-Nya yang sangat besar (1Raja 3:9b). Lalu Allah memberikan hikmat kepada Salomo dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di laut (1Raja 4:29).
Christoph Barth (2016), mengatakan sejak zaman Daud terlebih dalam zaman Salomo, hikmat dikumpulkan, dicatat dan dikembangkan di kota kerajaan yaitu Yerusalem dan dijadikan sumber hikmat dan pengetahuan. Itu sebabnya FT dalam Yes.2:3b, “Dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem”. Sehingga banyak suku bangsa akan datang ke Yerusalem untuk beroleh pengetahuan khususnya pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan. Bahkan Salomo meskipun ia memiliki hikmat yang luar biasa, tetapi ia tetap memanggil orang-orang bijak menjadi penasihat-penasihatnya atau menjadi guru untuk anak-anak raja serta calon pegawai kerajaan. Sehingga secara lambat laun anak-anak para elit politik dan ekonomi masuk ke dalam sekolah istana. Mereka belajar membaca dan menulis, menggunakan bahasa dengan cara yang meyakinkan, melakukan perencanaan dan menghitung. Dengan proses belajar mengajar di lingkungan istana banyak orang akan mendapat ilmu pengetahuan baik pengajaran yang akan menambah ilmu pengetahuan yang akan mendatangkan Skill dan Knowledge maupun peningkatan kualitas sipiritual melalui pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan.
Bagi kita yang percaya kita tidak hanya sekedar meningkatkan intelektual yaitu memiliki kepintaran yang akan menambah logika berpikir yang dapat diperoleh melalui proses belajar mengajar atau pendidikan semata (to fill intelligence of the brain), tetapi harus memiliki hikmat yang bersumber dari takut akan Tuhan melalui peningkatan kualitas kerohanian. Sebab seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (intellectal intelligence) belum tentu memiliki hikmat jika orang tersebut tidak hidup di dalam ketaatan Firman Tuhan. Sebaliknya orang yang takut akan Tuhan akan dikaruniakan hikmat dan pengetahuan dan akan melakukan kebenaran dalam setiap langkah hidupnya. Ams.5:1-2, “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan”. Hikmat itu berasal dari Allah yang akan dikaruniakan kepada setiap orang yang takut akan Tuhan. “Sesungguhnya, takut akan Tuhan itulah hikmat dan menjauhi kejahatan itulah akal budi”.
Melalui mementum peringatan hari Kartini yang baru saja kita peringati bersama, mari kita terus berproses untuk meningkatkan kualitas diri yang akan meningkatkan komptensi melalui penambahan Skill and Knowledge dan juga mendorong anak-anak kita untuk dapat menikmati pendidikan secara optimal yang telah tersedia melalui kebijakan program pendidikan yang dikelola pemerintah terlebih lagi di zaman era digital ini (digitalisasi) yang sangat memudahkan untuk memproleh ilmu pengetahuan dengan segala jenisnya. Amin, TYM.
Oleh: Robert Pangaribuan (Alumni FEB)
Gereja sudah berdiri ribuan tahun sejak jemaat mula-mula terbentuk setelah peristiwa pentakosta di Yerusalem. Dalam rentang waktu yang begitu lama, apakah bentuk gereja masih persis sama dengan gereja mula-mula di zaman para rasul? Ataukah sudah kehilangan bentuknya yang sejati, kehilangan esensinya yang sejati.
Saya akan mengawalinya dengan melihat kebelakang bagaimana gereja mula-mula terbentuk, apa yang mereka alami, apa yang mereka lakukan dan bagaimana dampak mereka pada zaman itu. Berawal dari peristiwa turunnya Roh Kudus di Yerusalem kepada murid-murid Tuhan Yesus (Kis 2), disaksikan oleh banyak orang dari berbagai bangsa, dan dengan penuh oleh Roh Kudus, Petrus berkhotbah dengan penuh kuasa sehingga membuat sejumlah 3000 orang memberi diri dibabtis dan percaya (Kis 2:41). Itulah serangkaian peristiwa yang mengawali berdirinya jemaat mula-mula.
Lalu bagaimana peristiwa-peristiwa yang dilalui oleh jemaat pada saat itu dapat kita baca dengan lengkap dalam kitab Kisah Para Rasul, namun saya hanya akan menyoroti bagaimana cara hidup jemaat mula-mula pada saat itu. Saya mau mengajak kita untuk mencermati Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Kisah Para Rasul 4:32-35. Disana dijelaskan secara singkat namun penuh makna bagaimana cara jemaat mula-mula hidup.
Gereja pada masa itu tidaklah seperti sekarang, situasinya sangat kritis. Hal ini terjadi karena adanya pertentangan dari agama Yahudi yang menganggap bahwa orang Kristen itu sekte sesat, sehingga halal darahnya untuk ditumpahkan. Kita masih ingat peristiwa Saulus, yang dengan kuasa penuh dari para imam diutus untuk menghabisi semua orang percaya di Yerusalem. Selain itu pemerintahan Romawi yang pada masa itu menjajah tanah Israel juga tidak terlalu senang dengan orang-orang percaya pada masa itu karena dianggap pemberontak dan pembangkang. Orang percaya pada masa itu bukanlah orang-orang berpengaruh, orang-orang yang memiliki kedudukan politik yang kuat maupun yang melimpah secara ekonomi, mereka hanya orang-orang biasa yang kemudian menjadi percaya akan berita Injil.
Dalam kondisi seperti itu apa yang mereka lakukan? Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul (ay 41). Ada rasa haus dan lapar akan kebenaran firman Tuhan dalam diri tiap-tiap orang. Mereka setiap hari berkumpul untuk mendengarkan firman yang diajarkan para rasul. Sekali lagi saya tekankan, mereka melakukannya setiap hari! Persekutuan mereka juga sangat indah, mereka setiap hari memecah-mecah roti untuk makan bersama di rumah secara bergiliran dengan hati yang bergembira dan tulus hati. Dan menarik untuk dicermati bahwa tidak ada jemaat yang kekurangan secara ekonomi, karena segala kepunyaan mereka adalah milik bersama.
Dengan cara hidup seperti itu, apa dampaknya? Mari kita lihat Kisah Rasul 2:47. Disana dikatakan bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Artinya bahwa persekutuan mereka yang penuh kasih, penuh kesatuan hati, dan penuh kuasa itu memberkati orang-orang disekitar mereka, sehingga orang-orang pun ingin bergabung ke dalam ikatan persekutuan tersebut. Membaca ayat ini saya jadi teringat akan doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Ketika kita bersatu, dampaknya besar sekali, dunia akan melihat dan percaya akan Kristus!
Pasal 2: 41-47 tadi diulang lagi pada pasal 4:32-37, sehingga ada semacam penekanan yang dilakukan penulis kisah para rasul. Kita mau belajar bagaimana gereja yang sesungguhnya dalam pasal ini. Yang pertama adalah bahwa gereja adalah sekumpulan orang-orang yang sehati dan sejiwa (ay. 32). Gereja adalah orang-orang dengan latar belakang berbeda namun disatukan dan diikat dengan Roh yang sama, yaitu Roh Kudus (1 Kor 12:13). Dampaknya jika orang percaya bersatu adalah dunia akan melihat kemuliaan Kristus (Yoh 17:21). Apa bukti nyata dari kesehatian mereka? Yaitu bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama (ay 32).
Yang kedua bahwa gereja adalah orang-orang yang mengalami perubahan hidup. Setiap orang yang telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus, pasti akan mengalami perubahan radikal dalam hidupnya (2 Kor 5:17). Kita tahu bahwa ada 2 hal yang paling sulit untuk manusia bisa serahkan, yaitu hartanya dan nyawanya. Namun lihatlah apa yang dilakukan jemaat mula-mula, mereka adalah orang-orang biasa namun memiliki keberanian untuk rela mati demi mempertahankan iman, tidak tamak dan egois, karena mereka membagi-bagi harta mereka kepada sesamanya yang kekurangan. Bagi mereka apa yang mereka punya adalah milik bersama, dan pantang melihat saudara seiman mereka kekurangan. Ini adalah bukti nyata bagaimana perjumpaan dengan Kristus mengubahkan mereka.
Yang ketiga adalah bahwa gereja adalah orang-orang yang bermisi (ay 33). Gereja adalah orang-orang yang mau diutus untuk mau pergi ke ladang misi, agar semakin banyak orang yang mendengar kabar keselamatan dari Tuhan Yesus dan menjadi percaya. Gereja didirikan untuk misi, jika gereja tidak melalukan misi, maka gereja belum bisa dikatakan sebagai gereja, atau dengan kata lain gereja tersebut telah gagal menjadi gereja. Tahukah kita bahwa gereja mula-mula bisa berkembang pesat karena semua orang ambil bagian dalam pekerjaan misi.
Saat ini mari kita berefleksi, sudah bagaimana gereja kita pada saat ini, apakah masih sama dengan apa yang terjadi dan dirasakan oleh jemaat mula-mula? Atau malah gereja kita sudah mulai kehilangan esensinya semula, sudah bergerak menjauh dari bentuknya semula. Masihkah kita melihat persekutuan yang begitu erat, yang penuh dengan kasih, yang saling peduli, dan pantang melihat sesamanya kekurangan? Apalagi dimasa-masa yang sulit karena pandemi Covid-19 ini, masihkah kita melihat kesatuan yang luar biasa dari gereja-gereja untuk bergandengan tangan membantu sesama yang terkena dampak pandemi covid-19 ini. Atau justru gereja sibuk menyelamatkan diri sendiri, karena gereja juga termasuk yang kena dampak yang luar biasa karena pandemi ini.
Mari kita juga membandingkan, apakah orang-orang dalam gereja adalah orang-orang yang mengalami perubahan radikal dalam hidupnya? Atau hanya manusia-manusia yang kelihatan rohani. Saya yakin pandemi ini diijinkan Tuhan terjadi untuk semakin memurnikan gereja. Siapa yang sungguh-sungguh sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus, maka dia akan memiliki pikiran Allah dalam memandang segala sesuatu, termasuk dalam memandang pandemi Covid-19 ini.
Dalam hal misi, mari kita melihat gereja kita, sudah berapa giat gereja mengerjakannya? Saya meyakini pandemi ini juga sebagai alat Tuhan menegur gereja karena sudah terlalu lama bersembunyi dibalik tembok gereja yang megah, dan abai terhadap dunia luar. Pandemi ini membuat gedung gereja harus dikosongkan, dan jemaat harus mulai memandang ke luar tembok gereja, melihat dunia, yang dikasihi Allah.
Oleh: Samuel Tarihoran (FIB’2009)
Seorang Kristen, disebut juga murid Kristus yang berarti seorang yang meneladani hidup gurunya. Guru kita yaitu Yesus Kristus memberikan kita amanatNya yang agung sebelum Ia naik ke Sorga yaitu menjadikan segala bangsa murid-Nya. Kebanyakan dari kita yang saat mahasiswa mengikuti persekutuan, yang pernah dibina dalam sebuah kelompok kecil tidak asing dengan istilah murid yang memuridkan. Kita berada dalam sebuah kelompok yang beranggotakan 3-8 orang mahasiswa, berkumpul bersama secara rutin belajar Firman Tuhan, memuji Tuhan lewat lagu, pergi melayani dan bermisi bersama di kampus atau di luar kampus. Kemudian kita yang tadinya adalah anggota kelompok, menjadi pemimpin kelompok kecil, demikian terjadi siklus berulang. Suatu cara yang sangat efektif dalam pemuridan. Sehingga seiring berjalannya waktu, ketika-khususnya – saat sudah berkeluarga atau bekerja beranggapan hanya cara sedemikianlah cara yang paling efektif dalam memuridkan. Sebagai seorang ibu apalagi yang harus mengurus rumah tangganya, bila memiliki pandangan sedemikian tidak jarang justru menjadi merasa berdosa dan belum melakukan pemuridan. Apakah status kita sebagai seorang ibu justru menghalangi kita memuridkan dengan lebih efektif untuk memenuhi amanat Agung Yesus Kristus ? Apakah jika seseorang tidak memimpin sebuah kelompok kecil belum dikatakan memuridkan ?
Sebelum kita menyimpulkan jawaban untuk pertanyaan di atas , mari kita mengerti apa artinya seorang Ibu. Menurut KBBI, Ibu adalah seorang wanita yang telah melahirkan anak, sebutan kepada seorang wanita yang telah bersuami maupun panggilan yang lazim kepada seorang wanita dewasa apakah sudah bersuami atau tidak. Meskipun seorang wanita tidak memiliki anak, apakah karena keputusan untuk melajang ataupun tidak dikaruniai oleh Tuhan, tetap dipandang bahwa dia memiliki sifat keibuan yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat misalnya kesabaran untuk membimbing, mengayomi dan menasehati orang-orang muda. Bahkan tidak jarang wanita yang tidak memiliki anak biologis bisa mengasuh lebih banyak anak daripada ibu yang punya anak biologis.
Peran ibu dalam kehidupan sangatlah vital. Yang pertama – tama mengandung ,melahirkan dengan rasa sakit yang luar biasa, menyusui , merawat, mendidik seorang anak hingga menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri, selain daripada perannya yang lain sebagai seorang isteri. Banyak penelitian yang menunjukkan besarnya pengaruh didikan ibu terhadap perkembangan anak baik secara fisik, kognitif, emosional dan social. Salah satunya Anak yang mendapat cukup kasih sayang dari ibunya cenderung lebih mampu berempati dan bersosiasisasi dengan baik. Hal ini wajar mengingat ibu adalah sekolah dan guru anak yang pertama-tama, secara natural lebih melekat dengan anak terutama di tahun-tahun pertama kehidupannya.
Dalam mendidik anaknya, setiap ibu memiliki doktrin nya masing-masing, seperangkat kebenaran yang dipegang teguh, dijalankan dalam hal motivasi, tujuan, serta cara yang dianggap terbaik .Doktrin ini terbentuk dan tersusun di dalam alam sadar ataupun bawah sadar yang berasal dari adat istiadat atau budaya turun temurun, pengetahuan yang diterima dari sekolah formal ataupun informasi dari media cetak atau elektronik, ajaran agamanya, pengalamannya atau pengalaman orang lain yang diterimanya sebagai kebenaran. Mengenai tujuan, umumnya para ibu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, sukses dalam studi dan banyak hal baik lainnya. Ada ibu yang mendidik anak dengan motivasi supaya anaknya menjadi yang terdepan di masyarakat, dan mereka menjadi keluarga yang ternama, menaikkan derajat sosial. Ada ibu yang mendidik anak karena memang merasa itu secara natural wajib dilakukan seorang ibu. Herannya ada ibu yang membuang anaknya begitu lahir, atau menelantarkan anaknya selama dalam asuhannya. Tetapi banyak juga ibu yang mendidik anak murni karena mengasihi anak tersebut.
Di dalam dunia yang penuh dengan perbedaan pola asuh dan doktrin ibu dalam mendidik anak, bagaimana seharusnya kita menyikapinya ? Cara apa yang sebaiknya kita kerjakan ? Seorang Kristen yang juga adalah Ibu, sejatinya hidupnya harus dipimpin oleh Roh Kudus, senantiasa mengikuti jalan dan cara Tuhan yang diterima dari FirmanNya. Di tengah banyaknya tips-tips, metode membesarkan anak, Alkitab adalah kebenaran sejati, sumber hikmat kita dalam mendidik anak agar seturut dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, justru ketika kita sekarang menjadi orang tua harusnya semakin rajin meneliti jalan-jalan Tuhan, secara khusus dalam membesarkan anak. Hanya firman Allah yang mampu memisahkan pikiran dan hati kita, melihat apakah benar cara dan motivasi kita hanya untuk kemuliaan Tuhan atau bukan. Firman Allah juga sanggup meneliti jalan-jalan yang ditawarkan dunia ini apakah karena melakukan yang terbaik untuk Tuhan atau untuk mempermuliakan diri manusia, menjadi ilah bagi diri sendiri.
Dari Alkitab sendiri kita melihat beberapa contoh mengenai pengaruh seorang ibu terhadap moral dan iman seorang anak. Kita tentu tidak asing dengan Izebel, istri Ahab raja Israel. Ia adalah penyembah berhala dan menjadikan suami serta seluruh Israel menyembah berhala, Ia memiliki ratusan nabi palsu. Sifatnya sangat ingin mendominasi dan menguasai dan menuntut agar kehendaknya yang terjadi, bahkan sampai mampu merencanakan pembunuhan. Apa yang terjadi dengan anak-anaknya? Mereka berkelakuan yang jahat sama seperti ibunya, sama-sama menjadi raja yang jahat dan menyembah berhala sehingga pemerintahannya tidak diberkati Tuhan dan tidak bertahan lama. Sebaliknya Timotius, anak yang lahir dari ibu Yahudi dan ayah non Yahudi benar-benar punya karakter dan iman yang berbeda dengan anak-anak Izebel. Timotius dikenal sebagai orang yang penuh kasih sayang, punya iman yang tulus ikhlas dalam melayani Tuhan, semasa mudanya pun sudah melayani bersama rasul Paulus. Paulus menyebutkan ini tidak lepas dari peran Ibunya Eunike yang mengenal Allah dan mengajarinya kitab suci. Tentu iman dan ketaatan seorang ibu bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seorang anak di kemudian hari, karena ada juga ibu yang setia melayani Tuhan, tetapi anaknya malah menentang Tuhan. Tetapi yang dapat kita lihat adalah, seorang ibu punya pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian seorang anak.
Menjadikan segala bangsa murid kadang kita kurung dalam pengertian pergi memberitakan injil dan memuridkan suku-suku atau kelompok komunitas tertentu saja. Dan kata efektif sering kita kaitkan dengan banyaknya jumlah orang yang berhasil dilayani. Berpengaruh atau tidak sering disempitkan dengan seberapa spektakuler sebuah pelayanan. Menjadi ibu , ibu rumah tangga sangat biasa dalam pandangan masyarakat umum, toh siapapun wanita bisa saja jadi isteri atau ibu, tidak terlalu ada yang kelihatan spektakuler disana. Kebanyakan ibu tidak berdiri di mimbar atau menjadi missionaris penuh waktu, mereka di rumah, di masyarakat mengasuh anak. Lantas apakah peran sedemikian dipandang tidak ada sangkut paut dengan pemuridan? Jika Tuhan mempercayakan anak dalam keluarga, maka anak itulah juga yang harus kita didik dengan visi menjadikan dia murid Kristus yang sejati dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatan kita menyerahkan hidup kita dan anak kita agar menjadi alat dalam tangan Tuhan.
Di sisi lain bukan berarti ketika kita memiliki anak yang harus kita kasihi, kita menjadi abai terhadap pelayanan apakah itu komunitas, gereja dan pelayanan misi di dunia. Bila Tuhan memberi kita kesempatan memimpin kelompok pemuridan, atau terlibat dalam pelayanan misi, maka kita tidak boleh menjadikan keberadaan anak sebagai dalih untuk menolaknya. Juga tidak menelantarkan anak dengan alasan demi pelayanan yang lebih besar. Jadi, menjadi murid kristus sekaligus seorang ibu bukan dikurung dalam jenis atau jumlah pelayanan yang tertentu yang harus dilakukan, melainkan pertama-tama adanya sikap hati yang benar di hadapan Tuhan, apakah amanat agung, visi Allah masih menjadi tujuan hidup kita? Apakah firman-Nya yang masih memandu kita dalam setiap keputusan atau hal yang kita lakukan? bila pemahaman kita akan kehendak Allah ini sudah diluruskan, maka kita minta kekuatan dari Allah untuk memampukan kita melakukan panggilan sebagai murid dan peran sebagai ibu dengan benar dan seimbang. Siapa yang tahu anak anda yang sekarang justru kelak dipakai Tuhan dengan lebih luar biasa daripada anda oleh karena iman yang anda wariskan kepadaNya? Untuk setiap peran dan bagian yang kita terima dari Tuhan, mari melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk memuliakan Dia.
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kol 3:23
Oleh: Junita Simangunsong (Fkep’09)
Allah (Bapa Yesus dan Roh Kudus) masih bekerja, apakah kita masih bekerja?
35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;
37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”
38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Kalau kita membaca perikop tersebut, hal yang menarik adalah ketika Yesus sudah dikenal banyak orang dan semua orang sedang mencari Yesus, Yesus tidak datang kepada mereka melainkan pergi ke kota-kota lain dengan tujuan untuk memberitakan Injil. Mengapa? Karena jelas di dalam ayat 38, untuk itulah Yesus telah datang. Di dalam perikop sebelumnya, dikatakan Yesus telah menyembuhkan ibu mertua Simon dan banyak orang yang menderita penyakit, bahkan kerasukan setan (Markus 1:29-34). Dalam hal ini, Yesus memiliki kemampuan medis yang jauh melebihi para dokter tentunya. Di dalam perikop sebelumnya lagi, Yesus mengajar di rumah ibadat (Markus 1: 21-28), orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya (ayat 22). Dalam hal ini Yesus memiliki kemampuan mengajar lebih dari para guru/dosen di sekolah/kampus atau para pengkotbah di gereja. Kita yakin Yesus juga memiliki kemampuan yang jauh melebihi setiap profesi yang kita miliki.
Apa yang bisa kita pelajari dalam hal ini? Kita memilki berbagai profesi di dunia alumni, baik sebagai dokter, guru, pendeta, pegawai kantor, dan masih banyak lagi. Namun kita harus menyadari bahwa identitas utama kita adalah Kristen. Kita bukanlah dokter Kristen tetapi Kristen dokter, kita bukanlah guru Kristen tetapi Kristen guru, demikian juga dengan profesi lainnya. Identitas utama kita sebagai seorang Kristen harus menjadi prioritas yang kita kerjakan di dalam hidup kita, sedangkan pekerjaan sampingan kita baik sebagai dokter, guru, dll merupakan sarana yang harus kita manfaatkan untuk melaksanakan tujuan utama dari identitas kita sebagai Kristen. Kita harus menyadari kemampuan medis, mengajar, dan kemampuan bekerja dalam profesi kita saat ini masih kalah dibandingkan dengan apa yang telah Yesus lakukan semasa di dunia ini. Sekalipun Yesus memiki kemampuan-kemampuan tersebut, namun Yesus tidak menjadikannya sebagai profesi utamanya. Tujuan utama Yesus datang ke dunia jelas untuk memberitakan Injil yaitu tentang keselamatan melalui diri-Nya.
Jika kita mengimani Yesus sebagai Tuhan, bukankah kita harus menjadikan tujuan utama profesi kita sebagaimana tujuan Yesus datang ke dunia? Pemberitaan Injil harus menjadi pekerjaan utama yang kita kerjakan melalui dan melebih pekerjaan sampingan (baca: profesi) kita.
Di tengah situasi pandemi ini, bagaimana pekerjaan utama kita yaitu pemberitaan Injil masih dapat kita lakukan?
Kita tentu tidak dapat memprediksi kapan pendemi ini berakhir. Kita juga tidak dapat menjamin seseorang terbebas dari COVID-19. Ada orang yang melakukan protokol kesehatan dengan ketat bahkan menggunakan alat pelindung diri dengan baik namun terkena COVID-19. Ada juga yang kontak tanpa sengaja dengan penderita COVID-19, namun tidak terkena COVID-19 sekalipun menggunakan alat pelindung diri yang minimal. Dalam hal ini, kita harus mengingat bahwa protokol kesehatan dan alat pelindung diri merupakan cara untuk mencegah dan memutuskan rantai penularan COVID-19. Protokol kesehatan dan alat pelindung diri wajib kita lakukan namun kedua hal tersebut bukanlah jaminan utama perlindugan kita, Kalau kita kita masih terhindar dari COVID-19 hingga saat ini, itu hanya karena kasih karunia Tuhan semata.
Dalam situasi pandemi ini, semua orang masih bekerja baik secara online maupun offline. Orang-orang masih melakukan aktifitas untuk menunjang kehidupannya, seperti belanja kebutuhan sehari-hari, mencari klien, dll. Masih banyak yang dapat dilakukan semasa pandemi ini, termasuk pemberitaan Injil. Apakah pemberitaan Injil dapat terbendung oleh karena pandemi? Tentu tidak. Pemberitaan Injil masih dapat kita lakukan baik secara online maupun offline. Pemberitaan Injil secara online dapat kita lakukan dengan menggunakan media sosial yang ada. Di masa pandemi ini, pengguna media sosial tentunya meningkat, dan seharusnya menjadi hal yang efektif untuk kita jadikan kesempatan. Daripada kita menggunakan waktu yang ada untuk ngetweet, buka youtube, update status, dll, lebih baik kita gunakan untuk membuat konten menarik tentang Injil. Kita dapat berdiskusi tentang Injil di tweeter, facebook, atau media sosial lainnya. Kita bisa mengajak teman yang belum percaya berdiskusi tentang Injil melalui whatsapp, zoom, dll, Bisa saja kita bertemu dengan seseorang di jalan namun karena khawatir penularan COVID-19, kita bisa meminta nomor whatsapp atau teleponnya untuk berdiskusi tentang Injil. Kita bisa buatkan konten video atau meng-copy video youtube orang lain dan mengirimkan linknya ke video milik channel yang beragama lain misalnya. Link tersebut sebaiknya kita kirim ke kolom komentar di video terbaru mereka karena biasanya netizen masih akan banyak membaca komentar orang di video terbaru youtube. Video terbaru ini bisa kita lihat ketika kita membuka channel mereka dan melihat video terbaru paling atas atau melihat jam mulai tayang video tersebut. Ketika seseorang yang belum percaya kepada Yesus merespon link yang kita kirim, hal tersebut merupakan kesempatan bagi kita untuk menyampaikan Injil dan berdiskusi tentang keselamatan kekal dalam Yesus kepadanya. Kami menggunakan cara ini untuk menyampaikan Injil secara online, dan menurut kami cukup efektif karena jika dilihat dari jumlah penayangan video yang kami buat, banyak orang yang telah menonton dan mendengar Injil, sekalipun tidak sebanyak orang yang mau berdiskusi secara terbuka tentang Injil di kolom komentar. Bahkan ada yang mau mengirimkan nomor pribadinya untuk bediskusi tentang Injil lebih lanjut.. Cara-cara ini belum tentu efektif digunakan oleh semua orang. Berdoalah dan bertanya kepada Tuhan. Kita harus meyakini, ketika kita menyadari tujuan utama kita untuk memberitakan Injil, Tuhan akan membuka jalan dan memberitahukan cara yang paling efektif untuk kita gunakan baik secara online maupun offline. Sekarang tergantung bagaimana kita menaati dan tidak menunda untuk melakukannya. Mulailah dengan relasi yang kuat kepada Tuhan melalui doa dan Firman-Nya. Komunikasi yang intens dan relasi yang kuat dengan Tuhan sangatlah penting sebagaimana Tuhan Yesus juga pagi-pagi benar waktu hari masih gelap bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Markus 1:35).
Secara offline, kita bisa tetap bertemu orang dengan melakukan protokol kesehatan dan menggunakan alat perlindungan diri. Jangan takut untuk menyampaikan Injil hanya karena alasan khawatir tertular COVID-19, ingat bahwa dosa kita yang lebih parah dari COVID-19 telah ditanggung Yesus. Kita juga bisa dengan secara sengaja untuk bertemu orang baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal untuk memberitakan Injil di tempat terbuka seperti di taman kota, pantai, pasar, dll. Firman Tuhan katakan: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”(Pengkotbah 11:6). Sampaikanlah Injil sebanyak-banyaknya baik secara online maupun offline di masa pandemi ini, kita tidak tahu siapa yang akan merespon dan bertumbuh imannya kepada Tuhan Yesus. Suatu ketika ada seorang tetangga kami yang Muslim memanggil kami untuk memeriksakan kakaknya yang sedang terbaring sakit di rumah mereka. Kakaknya sudah sangat tua, mungkin sekitar 70 an tahun dan mengeluhkan pusing berputar yang secara medis dikenal dengan istilah vertigo. Setelah memeriksa nenek tersebut dan menyarankan obat, Tuhan berikan kesempatan untuk menyampaikan Injil. Puji Tuhan nenek tersebut merespon dengan baik dan bercerita bahwa ternyata dulu beliau seorang guru di sekolah Kristen, beliau masih menyimpan sebuah kitab kecil perjanjian baru dan mazmur di lemarinya. Saat menanyakan kepada beliau apakah mau menerima Yesus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamat? Nenek tersebutpun berusaha bangkit dari tidur dan mengambil posisi sujud di atas tempat tidurnya untuk menerima Yesus. Dengan tangan yang tremor, beliau melipatkan kedua tangannya dan berdoa. Mari doakan agar iman nenek tersebut dapat tersebut bertumbuh dan beliau dapat tekum berdoa, membaca Firman Tuhan serta turut memberitakan Injil kepada keluarga dan tetangganya.
Apakah kasih, pertolongan, kesehatan, rejeki, perlindungan dari Tuhan bagi kita berkurang karena pandemi? Jika sekiranya tidak, tentu kita tidak punya alasan untuk mengurangi waktu untuk melakukan pekerjaan dan tujuan utama kita sebagai seorang Kristen. Tuhan Yesus mengatakan “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yohanes 5:17). Jemaat mula-mula juga makin bertambah banyak oleh pertolongan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 9:31). Di media sosial, kita masih mendengar kesaksian orang-orang yang bertemu Tuhan Yesus baik melalui mimpi atau penglihatan, ada pula yang tergerak hatinya oleh Roh Kudus untuk mempelajari Kitab Suci Injil, ada pula yang mengalami kesembuhan atau mujizat lainnya, dan akhirnya percaya kepada Yesus. Artinya kita meyakini bahwa sampai saat ini Allah kita (Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus) masih bekerja untuk tujuan yang sama yaitu agar semakin banyak orang yang mengenal Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan kepada keselamatan kekal. Jika sekiranya Allah kita masih tetap mengasihi kita dan bekerja di masa pandemi ini, apakah ada alasan kita untuk tidak melakukan pekerjaan utama kita yaitu memberitakan Injil?
Oleh: dr. Ahmad Ricardo Silalahi (FK’05)
Doa bukan sesuatu yang asing bagi kita umat kristiani. Banyak praktik kehidupan yang dilakukan selalu diawali dengan doa. Dari kecil, kita sudah mendengar bahwa sebelum makan, tidur kita harus berdoa terlebih dahulu. Tanpa diberi penjelasan dan menyadari dengan benar esensi dari doa, kita tetap saja melakukannya. Karena kita tahu bahwa doa adalah cara kita berkomunikasi kepada Allah. Beberapa diantaranya, ada yang memahami doa sebagai nafas orang percaya. Bahkan, tidak jarang juga kita menyaksikan dan mendengarkan orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah ketika mereka sedang berdoa. Jika eksistensi doa sampai sedemikian, nyatanya tidak banyak dari antara kita menjadikan doa sebagai salah satu disiplin rohani yang menolong kita untuk terus bertumbuh. Doa hanya sebagai alat yang kita pakai untuk mendapatkan keinginan dan ambisi pribadi. Tidak berhenti di sana, doa sebagai formalitas untuk mengawali suatu kegiatan, dengan alasan banyak orang juga melakukan hal yang sama. Bahkan, dengan berani mengatakan bahwa tanpa doa, kita dapat memperoleh apa yang kita inginkan. Semua ungkapan yang sering kita lontarkan tentang doa sebenarnya dipengaruhi oleh pemahaman dan pengalaman kita dalam berdoa.
Penulis dalam artikel ini ingin menyajikan kepada kita, keberadaan yang sesungguhnya dari doa. Kita tidak sedang mendikte eksistensi doa, melainkan kita harus melihat perspektif doa dari sudut pandang Alkitab. Lewis Johnson, dalam tulisannya tentang The Necessity of Prayer mengatakan “We pray that as we consider the doctrine that concern prayer that Thou will minister to us from the word building us up in our most holy faith, edifying us and strengthening us, and motivating us toward the life of fellowship with Thee. We realize that we can ever really know anything about prayer until we pray”.[1] Ungkapan Johnson merupakan salah salah satu inti dari khotbah Yesus di bukit. Ketika Yesus mengajar orang banyak tentang hal berdoa, Yesus mengatakan “…jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Yesus mengajarkan banyak orang bahwa doa yang selama ini diperlihatkan kepada mereka tidaklah demikian yang sebenarnya.
Doa berbicara tentang relasi personal manusia dengan Allah. Relasi yang intim hanya dapat terjalin, jika kita mengenal Allah dengan benar. Pengenalan yang benar akan Allah memampukan kita memahami keberadaan doa yang sesungguhnya. Doa menjadi tempat di mana kita dapat bertemu Allah setiap hari. Bahkan selalu ada kerinduan untuk berjumpa dengan kekasih hati kita, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dalam doa, kita dapat mengungkapkan isi hati kita kepada Tuhan dengan terbuka, tanpa kita harus merasa malu untuk mengakuinya. Pengakuan yang jujur akan membawa kita pada damai sejahtera. Justru realitas doa membawa kita kepada perubahan hidup yang secara berangsur-angsur.
Dalam kekristenan, berdoa bukanlah kegiatan rohani yang dilakukan apabila seseorang memiliki waktu untuk melakukannya. Berdoa juga tidak dilakukan apabila seseorang memiliki kebutuhan yang penting atau mendesak, untuk disampaikan kepada Allah, tetapi kemudian orang tidak pernah melakukannya kembali. Berdoa bukan juga suatu hal rutin tanpa nilai-nilai spiritualitas di dalamnya. John Hesselink justru menyatakan hal yang sebaliknya bahwa “salah satu aspek terpenting dari kehidupan iman adalah doa”.[2] Seseorang berdoa karena Allah telah menuntun dirinya kepada Allah sendiri, sehingga doa menjadi suatu relasi antara manusia dengan Allah yang di dalamnya roh manusia berkomunikasi, memohon, meminta, memuji dan mengakui keberadaan Allah yang transendental.
Maz. 27:4, mencatat bahwa Daud menyatakan keinginannya kepada Allah. sementara Daud berdoa untuk meminta hal yang diinginkannya, Daud juga mengaku bahwa tak satupun yang lebih baik daripada diam dalam hadirat Allah, menyaksikan kemurahan-Nya. Ketika Daud menyembah Allah di dalam hadirat-Nya, Daud berkata “jiwaku dikenyangkan” (Maz. 63:6). Inilah persekutuan yang terjalin dengan Allah di dalam doa.
Doa membawa kita kepada suatu realitas menyelaraskan dan tunduk kepada kehendak Allah. Selama manusia hidup, kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia bukan sesuatu hal yang menjadi nihil. Namun, orientasi doa mereka adalah mencari dan meminta kehendak Allah yang terjadi. Doa menjadi bagian pelayanan orang-orang percaya di tengah dunia ini. Doa orang percaya yang rindu melihat kerajaan Allah dibangun dan diperluas di muka bumi adalah sebuah doa untuk kemenangan pelayanan Kristen. Kita dapat belajar dari teladan doa Paulus yang selalu ditujukan untuk orang lain. Bahkan ketika ia meminta untuk didoakan, biasanya permintaanya adalah supaya dia dimampukan untuk melayani orang lain secara efektif.
Allah sendiri menjadi pusat kita dalam doa. Ketika memandang diri kita di dalam Kristus, keprihatinan akan diri sendiri menjadi berkurang, sedangkan kepedulian kita terhadap orang lain bergeser menjadi fokus utama. Ketika kita berdoa, realitas yang perlu kita sadari bahwa tidak ada satu pun yang kita katakan maupun lakukan memiliki harapan untuk berhasil, kecuali Allah sendiri yang memberdayakannya. Sama halnya ketika kita memberitakan kebenaran Allah, bukankah kita meminta Allah untuk memberdayakan ucapan kita dan mengubahnya menjadi lebih dari sekedar kata-kata di dalam doa kita?
Dennis McCallum dan Jessica Lowry dalam bukunya Organic Discipleship justru mengatakan bahwa “sudut pandang yang berfokus kepada orang lain adalah satu tema pokok dalam pertumbuhan rohani yang sejati dan banyak pemikiran justru berawal dari doa”. Bahkan doa paling efektif ketika itu bukan sesuatu yang kita lakukan sesekali, tetapi ketika itu adalah gaya hidup yang kita kembangkan. Untuk memiliki gaya hidup berdoa, kita dapat melihat teladan yang Yesus berikan selama hidup-Nya di bumi. Doa seperti yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Mat. 6:9-13, mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan kepentingan kerajaan Allah hadir di dalam dunia ini. Orang-orang percaya dipanggil sebagai agen untuk menghadirkan shalom Allah di mana Allah menempatkan mereka. Sebagai agen, berarti kita diperlengkapi untuk siap berperang melawan penguasa-penguasa jahat. Jika demikian, bukankah doa menjadi senjata yang seharusnya kita bawa kemana pun kita pergi? Bukankah kita sadar bahwa setiap hari adalah peperangan melawan kuasa si jahat? Karena itu sudah semestinya setiap orang percaya, senantiasa berdoa, karena itulah yang dikehendaki oleh Tuhan (Luk. 18:1; 1Tes. 5:17; Ef. 6:18). Demikian, Paulus juga mengingatkan kita sebagai anak-anak terang dalam Ef. 5:14: “… Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu”.
“The Christian life is not a constant high. I have my moments of deep discouragement. I have to go to God in prayer with tears in my eyes, and say, O God, forgive me or help me”.
-Billy Graham-
[1] Dilansir dari website SLJ Institute: The Necessity of Prayer – SLJ Institute.
[2] Kalimat pengantar dari Hesselink ketika memberikan komentar pandangan John Calvin tentang doa (Calvin’s First Catechism): “One of the most important aspects of the life of the faith is prayer”.
Oleh: Christin Natalia Siahaan (FT’12)
Diawal tahun 2019 saya bergumul kepada Tuhan tentang panggilan Tuhan (Vocation) dalam hidup saya dan merupakan waktu dimana saya harus berdiam diri dihadapan Allah dengan pertanyaan; apa yang harus kulakukan selanjutnya Tuhan? kemana Tuhan arahkan? memang pertanyaan ini Tuhan tidak langsung memberikan jawaban tetapi Tuhan mengajarkan saya untuk peka akan panggilan-Nya. Beberapa tawaran pekerjaan tetapi semuanya mengharuskan untuk siap sedia bekerja dalam tujuh hari dan itu akan sangat menyulitkan bagi saya untuk melayani baik dalam persekutuan maupun gereja sehingga lebih memilih untuk bekerja part-time. Beberapa juga tawaran pelayanan yang sedang membutuhkan staf tetapi waktu itu sulit sekali untuk menerima untuk menjadi staf dan sampai saat ini saya tidak begitu paham kenapa saya tidak menerima tawaran tersebut. Tetapi dimasa-masa itu juga ada seorang teman yang menceritakan ladang pelayanan yang belum pernah tersentuh oleh injil, tidak ada pelayan Tuhan disana, tidak ada Alkitab, tidak ada gereja dan sampai sekarang mereka hanya menuggu kedatangan para pembawa kabar baik supaya mereka bisa mendengarnya.
Ladang pelayanan tersebut hal baru bagi saya karena jarang diperdengarkan selama pelayanan dimahasiswa tetapi saya hanya berkata dalam hati kiranya ada orang yang pergi dan melayani mereka. Mereka adalah Unengaged Unreached People Groups (UUPGs) karena mereka tidak mempunyai akses injil baik karena keberadaan mereka yang sulit dijangkau karena infrastrutur, sistem pemerintahan yang berlaku di negara atau wilayah tersebut atau karena tidak ada orang percaya yang bersedia taat untuk pergi melayani mereka. Mereka juga layak untuk mendengar injil sama seperti kita yang sudah percaya, lalu siapa yang memperdengarkan kepada mereka? Dalam Roma 10:14 “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Inilah waktu-waktu yang berat bagi saya untuk mengambil keputusan apakah saya akan terlibat dalam pelayanan ini atau ada hal lain yang ingin Tuhan saya kerjaka karena dalam kedaan bingung saya meminta konfirmasi dari Tuhan untuk meneguhkan saya untuk melayani UUPGs. Dalam penantian itu Tuhan berikan dua konfirmasi yang membuat saya tidak bisa mengelakkan diri untuk tidak pergi melayani UUPGs. Inilah pertama kali saya berdoa dan Tuhan jawab seperti yang saya doakan. Dasar saya berdoa seperti ini saya mengingat kisah Gideon yang juga meminta tanda kepada Tuhan ketika dia dipercayakan untuk menjadi hakim atas Israel.
Enam Bulan Pelatihan
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk pergi, tetapi sebelum pergi keladang pelayanan maka kami harus dipersipkan dengan baik sama seperti seorang prajurit yang akan pergi berperang. Hal-hal yang dipersipakan sesuai dengan kebutuhan lapangan atau area pelayanan tetapi sebelum pergi saya sengaja mengulur waktu untuk tidak tepat waktu datang dimasa pelatihan dan saya mengulur sekitar satu bulan untuk tidak ikut pelatihan supaya ada kemungkinan untuk tidak bisa bergabung pelatihan agar akhirnya saya tidak pergi. Lagi-lagi saya menciptakan ketidaktaatan, tetapi mengingat konfirmasi dari Allah membuat saya harus pergi dan memohon kekuatan dari Tuhan untuk memberikan hati yang tulus iklas untuk mau dipimpin oleh Nya.
Enam bulan pelatihan semuanya berjalan dengan baik walaupun ada godaan dan kesempatan untuk keluar dan tidak mau pergi melayani UUPGs tetapi Tuhan tetap ingatkan akan panggilan-Nya melalui para pelatih, teman-teman dan juga ketika sedang melakukan pelayanan ke orang M mengingatkan saya bahwa mereka sangat membutuhkan jalan keselamatan.
Dimasa-masa pelaltihan juga beberapa orang yang menyampaikan pertanyaan kenapa harus jauh-jauh pergi melayani, bukankah orang yang butuhkan injil itu ada dalam keluargamu, ada di tempat tinggal mu, ada di kota mu semua mereka itu membutuhkan injil. Pertanyaan ini menjadi pengingat bagi saya bahwa keluarga saya dan orang tempat dimana saya tinggal perlu untuk dilayani tetapi mereka ini semua bukan tidak punya akses kepada injil. Bagi orang kristen yang belum sungguh-sungguh bertobat bukan mereka tidak pernah mendengar injil mungkin sudah sangat sering tetapi tidak sungguh-sungguh kembali kepada Kristus atau melayani orang M di kota saya apakah mereka juga tidak punya akses kepada injil, juga mereka bisa mendengar injil baik media sosial, ataupun ada orang percaya yang memperdengarkan kepada mereka. Tetapi UUPGs tidak punya akses untuk itu maka harus ada orang yang membuka jalan, pikiran dan menghadirkan kabar baik di tengah-tengah mereka.
Dalam Kis 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kata penghubung yang dipakai diatas adalah “dan” artinya siapapun sama haknya mendengar kabar baik dan tidak ada yang lebih duluan atau lebih utama. Terkecuali jikalau alkitab kita memakai kata penghubung “setelah itu”
Dalam Kis 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem setelah itu di seluruh Yudea setelah itu Samaria setelah itu sampai ke ujung bumi.”
Bisa lihat perbedaanya, jikalau perkabaran injil seperti ini maka beberapa misionaris dari luar mungkin belum sampai ke Indonesia karena mereka harus membereskan dulu suku/kota/negara mereka dan setelah selesai baru mereka akan pergi ke kota atau negara lain.
Mari bersyukur kepada Allah yang melayakkan setiap ciptaan-Nya untuk mengenal dan men-Tuhankan Dia tanpa membeda-bedakan.
Setelah Enam Bulan Pelatihan
Enam bulan dipersiapakan mungkin bukan hal yang terlalu sulit tetapi setelah selesai pelatihan diperhadapkan dengan tantangan yang baru yaitu harus mempunyai platform atau pekerjaan yang bisa menjadi alasan untuk bisa tinggal disuku tersebut dalam waktu yang cukp lama dan platform ini juga nantinya bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang akan dilayani. Masuk kedaerah orang tanpa ada tujuan akan sangat berdampak buruk terhadap pendatang tersebut dan tidak mungkin juga akan terang-terangan akan memberitahu tujuan yang sebenarnya karena kita akan ditolak dan membuat injil yang seharusnya kita bawa jadi tertolak karena kita tidak mempunyani strategi yang tepat.
Dalam hal ini sangat dibutuhkan pimpinan Tuhan dan tidak bisa terburu-buru dengan keputusan manusia. Memang diperlukan kecerdikan dan ketulusan seperti kata Yesus “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”
Beberapa platform yang dipersiapkan tetapi sangat kesulitan juga untuk bisa berada didaerah tersebut dalam waktu yang cukup lama untuk itu perlu menunggu beberapa bulan lagi sambil terus mepersiapkan diri, baik dalam mempelajari bahasa dan kebudayaan lokal serta menunggu kejelasanplatform.
ASN Covid-19 dan Penantian
Bulan November 2019 dibuka penerimaan CPNS dengan penasaran mencoba mencari informasi apakah daerah yang saya layani membuka formasi untuk CPNS yang sesuai bidang saya. Akhirnya saya menemukan satu formasi bahwa dikota tempat daerah yang saya layani sedang dibuka formasi CPNS yang sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni selama ini. Tanpa ada keraguan segera melakukan persiapan berkas sesuai dengan syarat pendaftaran.
Pada akhir bulan 12 tahun 2019 pengumuman seleksi berkas dan tahap pertama untuk seleksi berkas saya dinyatakan lolos, saya tidak begitu bergembira karena akan melewati dua tahap seleksi lagi yang membutuhkan persiapan yang serius. Tetapi walaupun demikian saya tetap mengucap syukur kepada Tuhan karena dengan sistem perekrutan CPNS yang dilakukan dengan online sangat memudahkan bagi pendaftar yang jauh.
Pada bulan januari 2020 diumukan seleksi tertulis tahap pertama dengan persyaratan harus pergi kedaerah dimana formasi dibuka dan didaerah itu ujian dilangsungkan. Selama ini saya tidak punya alasan untuk bisa pergi kedaerah yang saya layani tetapi melalui seleksi CPNS akhirnya saya menginjakkan kaki di daerah tersebut dan mengikuti seleksi tertulis tahap pertama. Setelah dua bulan kemudian hasil seleksi SKD diumumkan dan saya lagi dinyatakan lolos. Saya tetap mengucap syukur kepada Allah karena dia telah membawa saya sejauh itu dan tidak hanya melihat daerah yang saya layani tetapi ada harapan melalui jalur ASN saya akan menetap disana dan tahap demi tahap Tuhan tunjukkan penyertaan-Nya.
Pada bulan maret 2020 mulai muncul berita-berita hangat tentang Covid-19 dengan berbagai informasi dari media sosial yang sampai akhirnya beberapa kota di Indonesia dilakukan pemberhetian aktivitas di luar rumah dan diiberlakukan PSBB bagi kota-kota yang tingkat penyebaran covid-19 tinggi. Akses keluar masuk kota/daerah lain dalam negeri maupun luar negeri semakin sulit dan pemerintah memberikan sanksi bagi mereka yang membuat acara dengan mengundang jumlah massa yang banyak dan tidak terkecuali untuk kegiatan seleksi SKB yang dilakukan secara nasional terpaksa dilakukan penundaan selama 6 bulan.
Penantian dalam waktu 6 bulan merupakan waktu yang tidak begitu singkat, dibutuhkan kesabaran dan pengharapan bahwa Allah yang mempunyai rencana dibalik semua peristiwa ini. Menunggu Beberapa bulan kemudian korban covid-19 makin bertambah banyak di Indonesia dan terutama di kota dimana saya masih tinggal saat itu. Mulai muncul perasaan bimbang atau khawatir dan tidak bisa juga berbuat apa-apa karena semua kagiatan luar rumah diwajibkan untuk melakukannya di dalam rumah dan ini memberikan penyakit yang baru selain covid-19. Tetapi bersyukur kepada Tuhan tidak terinfeksi covid-19 dan tetap memiliki tubuh yang sehat.
Semua orang mengalami gangguan aktivitas normal akibat Covid-19 dan semua orang diharuskan mempersiakan mental serta merubah sistem yang selama ini sudah berlaku. Bagi yang memiliki spritualitas yang baik melandaskan kepada Tuhan bahwa Dia yang mempunyai rencana atas semua ini, tetapi bagi yang tidak bisa memahami kedaan yang sedang terjadi menarik diri dan merenungkan nasib sendiri.
Allah mempunyai agenda besar dibalik Virus Corona yang tidak diketahui oleh manusia. Bagi setiap orang percaya bahwa peristiwa ini mempunyai implikasi bahwa umat Allah harus kembali kepada Allah dan memilki hubungan yang baik sebagai ciptaan dan pencipta serta kembali pada tugas yang telah Tuhan amanatkan.
Enam bulan masa penantian tetapi covid-19 juga tidak ada titik terangnya akan berhenti, beberapa kota besar di Indonesia sudah tidak memberlakukan lagi PSBB tetapi masih ada beberapa kota yang masih terus memberlakukan PSBB melihat persebaran covid-19 di daerahnya/kotanya sudah di zona merah dan akan membahayakan semua warga jika tidak diberlakukan PSBB. Melihat kondisi perekonomian Indonesia yang semakin merosot akhirnya pemerintah angkat bicara bahwa setiap akktivitas harus tetap mematuhi protokol kesehatan artinya masyarakat sudah bisa beraktivitas diluar rumah.
Bulan Oktober 2020 kembali diumumkan seleksi tertulis kedua CPNS dan kembali saya dinyatakan lolos pada akhir Bulan November 2020. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa ribuan orang memperebutkan kursi CPNS dan saya termasuk salah satu peserta yang lulus dari ribuan orang tersebut tetapi yang lebih meggembirakan saya adalah saya sudah bisa berada di daerah/suku yang saya layani dalam waktu yang cukup lama dan akan menjadi garam dan terang disana. Penantian platform satu tahun lebih itu semua karena kasih karunia Allah dan ada pengenalan baru kepada Allah bahwa Dia mendengar apa yang kita doakan dan akan menjawabnya sesuai pada waktunya serta Allah peduli kapada suku-suku yang masih belum mendengar nama-Nya dan belum mengenal jalan keselamatan.
Tuhan menggerakan saya yang lemah ini supaya bisa melayani suku yang sudah 2000 tahun lebih belum diperdengarkan tentang injil, apakah mereka sangat sulit untuk dijangkau, iya tetapi apakah sama sekali tidak bisa, bisa. Untuk itu diibutuhkan doa, dana dan ketaatan dari setiap anak-anak Tuhan untuk pergi dan bersaksi tentang kasih Kristus kepada setiap orang yang belum mengenal Dia.
Berada di daerah yang saya layani.
Tuhan kembali menjawab doa saya untuk sampai menginjakkan kaki di suku yang saya layani, memang tidak mudah berada didaerah yang mayoritas M dengan label agama dan suku saya yang berbeda. Memiliki sedikit kebingungan berada di daerah yang baru dengan tidak mempunyai siapapun. Hanya Tuhan yang menjadi penolong.
Harapan yang baru di Tahun 2021
Jika saya kembali kebelakang tahun 2019-2020 dan melihat melihat diri saya yang lemah dan terbatas ini seharusnya saya tidak sampai ditahap ini. Tetapi Allah yang kaya dengan karyanya untuk setiap ciptaa-Nya supaya nama-Nya dimasyurkan dan disembah oleh setiap suku, kaum, bangsa dan bahasa.
Setiap permulaan yang baik yang telah Allah kerjakan dalam hidup saya membuat saya semakin kagum akan Dia karena Allah bekerja dengan sangat kreatif membentuk dan menjadikan saya untuk ambil bagian dalam agenda besar-Nya supaya setiap suku, kaum, bangsa dan bahasa mengenal Dia.
Wahyu 7:9 “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka”.
Kita ini buatan Allah yang ciptakan untuk megerjakan panggilan-Nya seperti tertulis dalam Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”
Kita yang seharusnya tidak mengenal Allah pencipta kita karena manusia telah jauh dari Allah dan mencari jalan masing-masing tetapi Allah yang maha kasih datang kedalam dunia ciptaanya supaya mengenal Dia dan mempunyai jalan keselamatan.
Kita yang seharusnya dihukum dan mati karena telah hidup dalam dosa tetapi Allah Tuhan berikan pengampunan dan kehidupan oleh pengorbanan-Nya dikayu salib.
Kita yang seharusnya menanggung penderitaan oleh konsekuesi langsung dari perbuatan kita yang hidup dalam dosa tetapi karena Allah pencipta kita ia mau supaya kita hidup dalam damai dan tanpa lagi diikat oleh belenggu dosa dan memberikan kita kemerdekaan didalam Yesus Kristus Tuhan.
Kiranya ditahun 2021 merupakan permulaan yang baru yang telah Tuhan sediakan bagi kita supaya mengerti kehendak-Nya dan mengerjakan panggilan-Nya dengan berbagai prosfesi apapun kita karena Allah bekerja dengan sangat kreatif jikalau kita menyerahkan semuanya itu dalam tangan-Nya.
Oleh: Juang Telaumbanua (FT’2013)